BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara umum pendidikan merupakan salah satu dari berbagai
investasi manusia yang sangat memberi andil dalam peningkatan kualitas sumber
daya manusia. Dengan pendidikan maka seorang individu akan dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya sehingga menjadi manusia yang memiliki sumber
daya yang berkualitas sesuai harapan. Dengan kualitas sumber daya manusia yang
baik diharapkan manusia dapat membuka cakrawala berpikir, memperluas wawasan
serta menguasai pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nantinya dapat
memberikan kontribusi yang besar dalam memajukan pembangunan nasional.
Pendidikan merupakan salah satu
faktor utama bagi pengembangan sumber daya manusia karena pendidikan diyakini
mampu meningkatkan sumber daya manusia sehingga dapat menciptakan manusia
produktif yang mampu memajukan bangsanya, (Kunaryo, 2000).Pendidikan dalam arti
luas didalamnya terkandung pengertian mendidik, membimbing, mengajar dan
melatih. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok.
Sebagaimana tujuan pendidikan
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia NO.20 tahun 2003 pasal 3 (2005:7)
tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa: Pendidikan nasional
bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Selain
meningkatkan sumber daya manusia lewat lembaga-lembaga formal ada juga lembaga
nonformal yan dapat memberikan peningkatan pendidikan terhadap anak-anak salah
satunya adalah keluarga.Namun hal yang paling mendasar adalah bagaimana peran
orang tua dan sekolah dalam melihat, mendidik dan mengembangkan kualitas
pendidikan anak. Perkembangan pendidikan dan masyarakat memberi dampak
signifikan terhadap hasil proses pendidikan. Awal mula pendidikan di mulai dari
keluarga sebelum masuk ke jalur pendidikan formal.Ketika siswa/anak didik telah
masuk jalur pendidikan formal tidak berarti tanggung jawab pendidikan
sepenuhnya beralih pada guru.Peran orang tua juga sangat menentukan tingkat
perkembangan anak dalam menempuh pendidikan.
Menurut Giddens
: Pendidikan merupakan dasar berkembangnya sebuah Negara di era globalisasi.
Hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan merupakan tujuan dasar atau kekuatan
untuk mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan zaman secara universal.
Pendidikan
adalah tanggung jawab semua masyarakat, bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Konsekuensinya semua warga negara memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan
pendidikan, sehingga ketika ada anggota masyarakat yang tidak bisa sekolah
hanya karena tidak punya uang, maka masyarakat yang kaya atau tergolong
sejahtera memiliki kewajiban moral untuk menjadi orang tua asuh bagi
kelangsungan sekolah anak yang putus sekolah pada tahun ini mencapai puluhan
juta anak di seluruh Indonesia.
Pendidikan itu
dimulai dari keluarga, sehingga penting untuk
dimiliki oleh seluruh orang tua untuk membentuk karakter manusia masa depan
bangsa ini, keluarga adalah lingkungan yang paling pertama dan utama dirasakan
oleh seorang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Karena itu pendidikan di
keluarga yang mencerahkan dan mampu membentuk karakter anak yang soleh dan
kreatif adalah modal penting bagi kesuksesan anak di masa – masa selanjutnya.
Menurut Robert Linton (1936), teori
peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain
sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini,
harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk
berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.Berdasarkan teori ini orang tua dan
guru mempunyai peran tertentu diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai
dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mendidik orang lain, karena dia adalah
seorang pendidik (orang tua atau guru). Jadi karena statusnya adalah pendidik
maka dia harus mendidik yang orang lain. Perilaku ditentukan oleh peran sosial.
Desa
Sawa merupakan salah satu desa yang menjadi pusat kecamatan Lilialy yang
terdiri dari 9 sekolah salah satunya sekolah yang berbasis Agama Islam Madrasah
Tsanawiyah LKMD Sawa.Sekolah Madarasah Tsanawiyah LKMD Sawa ini merupakan salah
satu sekolah yang dianggap masayarakat paling tepat untuk pendidikan agama
Islam bagi anak-anak mereka.Banyak orang tua murid bahkan sebagian masyarakat
Desa Sawa dan sekitarnya sangat memberikan apresiasi yang sangat yang baik
terhadap yayasan yang mendidrikan sekolah Madarasah Tsanawiyah LKMD Sawa.
Sekolah
MTs LKMD Sawa adalah salah satu sekolah yang berbasis islam, sekolah ini
merupakan satu-satunya sekolah swasta agama islam yang ada di Desa Sawa dan
sejajaran Kecamatan Lilialy Desa Sawa Kabupaten Buru Utara, sekolah yang
didrikan oleh sebuah yayasan yakni Lembagaa Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)
perancangan sekolah ini dimulai pada bulan juli 2006, Namun perencanaan itu
baru bisa direlisasikan pada bulan
agustus 2006 dengan jumlah siswa yang sangat minim yakni berjumlah 9 orang dan
jumlah guru 13 orang.
Lokasi
awal sekolah MTs. LKMD yaitu menempati lokasi sekolah SD Negri Sawa karena
tidak memiliki gedung sendiri (dala proses pembangunan), selama beberapa bulan
beroprasi pada SD Negri Sawa mengalami perbaikan renofasi sekolah, dan oleh
karena itu maka sekolah MTs. LKMD harus berpindah lokasi kesekolah yang lain,
yakni SD Al-Hilal Sawa.Oktober 2006 sekolah MTs. LKMD di pindahkan ke SD
Al-Hilal Desa Sawa, disini sekolah MTs. LKMD beroperasi cukup lama sejak
oktober 2006 hingga desember 2007 bangunan sekolah MTs. LKMD baru berhasil
dibangunkan dan diselesaikan yaitu dengan satu buah gedung yang didalamnya memiliki 4 ruang yakni 3
ruang kelas dan 1 ruang guru, kemudian pada januari 2008 sekolah MTs. LKMD
berhasil di diresmikan dan menempati gedung sendiri dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang dan
jumlah guru 15 orang, hinggmlaha
saat ini sekolah MTs LKMD Sawa mempunyai jumlah siswa 430.
Berjalan dengan perkembangan yang ada pola masyarakat ini
sebagian besar jauh berubah ketika adanya aturan atau kebijakan sekolah MTs.
LKMD sehingga timbulnya analisa masyarakat bahwa kebijakan-kebijakan sekolah
MTs. LKMD mengikat sehingga ruang gerak siswa-siswi terbatas di bandingkan
dengan sekolah-sekolah sejajaran MTs. LKMD.
Yang menjadi atau menimbulkan presepsi masyarakat terhadap
sekolah MTs. LKMD adalah beberapa aturan yang di terapkan oleh sekolah untuk
membina siswa-siswinya yakni pertama, proses
pembelajaran seharian penuh (full day) adalah salah satu bentuk aturan yang dibuat
sehingga seorang siswa dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan meminimalisir
jam bermain di luar jam sekolah (aturan ini berlaku, setiap hari normal
pendidikan yakni Senin-Sabtu). Contohnya jam belajar siswa di
sekolah maksimal 6 jam (dari jam 07.00-12.00 WIT) namun ditambahkan lagi 5 jam
sehingga maksimal belajar siswa disekolah 11 jam (dari jam 07.00-05.00 WIT). Kedua, disiplin point yaitu aturan yang
dibuat untuk sebagai alasan atau sanksi ketika siswa-siswi melanggar aturan
tersebut. Contohnya ketika siswa/siswi ke sekolah harus membawah perlengakapan
yang ditentukan oleh sekolah misanya topi, pena, buku, Alquran dan sebagainya,
jika siswa melanggarnya maka disiplin sekolah yang dikenakannya ialah point atau
penilaian 1 nilai (negatif) dan siswa tersebut diwajibkan untuk tidak mengikuti
pelajaran.Aturan ini yang dibuat sehingga muncullah kontrafersi pandangan masyarakat yang menyetujui dan tidak
menyetujui.
Pada prinsipnya orang tua yang menyetujui anaknya bersekolah
di sekolah MTs. LKMD karena sekolah MTs. LKMD adalah sekolah Islam, yakni
sekolah yang berbasis islam, sehingga motivasi orang tua untuk menyekolahkan
anak disekolah tersebut sehingga pendalaman religi (Islam) jauh lebih baik
danadanya aturan tersebut siswa-siswi bersikap disiplin, soleh, sopan, ramah
dan lain-lain. Apa pun konsekwensinya jika aturan tersebut sebagai pedoman yang
baik untuk mengembangkan dan mencerdaskan kualitas pendidikan anak maka tidak
ada alasan untuk mengintimidasi aturan sekolah tersebut.
Namun di sisi lain ada masyarakat yang tidak mengingini
aturan tersebut berlaku karena ada pertimbangan-pertimbangan tersebut
bahwaaturan full time bukanlah cara yang tepat untuk mengembangkan kemampuan
atau meningkatkan kualitas pendidikan anak secara maksimal, pertama, kemampuan anak untuk menyerap
atau menerima materi secara normal hanya 30 menit karena kejenuhan dan
ketidakbetaan anak dalam mengikuti jam belajar,serta dari 100% materi yang
disampaikan oleh guru di sekolah maksimal 60-85% materi tersebut diterima dan
dapat dipahami oleh siswa-siswi, kedua perlu
adanya keseimbangan dalam mendidik dan mengontrol anak, dalam hal ini adanya
keseimbanagan antara orang tua dan sekolah untuk mendidik anak, ketiga kesehatan anak perlu diperhatikan
dan sebagainya. Pada aturan disiplin point substansi pemikirannya ialah apakah
aturan yang ada dapat memberikan dampak positif atau negatif.? Yang dimaksud
dari pertanyaan
tersebut bahwa kira-kira dengan adanya disiplin tersebut anak dapat menjadi
yang terbaik atau aturan tersebut yang memanjakan anak, misalnya apabila salah
satu murid tidak membewah perlengkapan maka diberikan sanksi untuk tidak
mengikuti jam belajar di sekolah (kembali ke rumah), jika 10-20 murid melangar
aturan tersebut selama 1 minggu maka terjadilah sebuah kebiasaan untuk murid
tersebut untuk hal ini. Maka dari aturan yang ada membuat sehingga masyarakat
memprotes dan mengeluarkan anak dari sekolah MTs. LKMD. Dan sepanjang
peraturan ini diterapakan oleh pihak sekolah dan dari hasil yang kami temukan
sudah sebanyak 12 anak yang keluar dari sekolah MTS.LKM dengan kasus yang
hampir sama yakni masalah peraturan yang diterapkan baik sistem point maupun
full day.
Menyikapi
kondisi di atas maka penulis merasa perlu melakukan suatu penelitian dengan
judul “Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD
Sawa Kecamatan Liliali Kabupaten Buru ”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka
permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan demikian : bagaimana pandangan masyarakat terhadap sekolah MTs.
LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru.?
C. Tujuan Penelitian
Ø Untuk
mengetahui dan menjelaskan pandangan masyarakat terhadap sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten
Buru.
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat yang
didapatkan dari penelitian ini adalah,
1.
Dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi masyarakat
dalam melihat peran penting orang tua dan sekolah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan anak di sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru
2.
Menjadi bahan masukan bagi pihak sekolah dan
masyarakat.
E. Kerangka Teori
Dengan
studi mengenai Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah
MTs, penelitian ini didasarkan pada beberapa teori atau pendapat parah ahli
yang dipandang dapat mendukung pemecahan permasalahan yang diteliti.
v Fungsionalisme
Struktural (Talcott Parsons)
A G I L
Suatu fungsi
adalah “suatu kompleks kegiatan-kegiatan yang diarahkan kepada pemenuhan suatu
kebutuhan-kebutuhan sistem itu”. Mengunakan defenisi itu, Parsons percaya bawah
ada empat emperatif fungsional yang perlu bagi (khas pada) semua sisitem _ adaptation (A) adaptasi, goal attainment (G) pencapaian tujuan_integration
(I) integrasi_dan latency (L)
pemeliharaan pola. Keempat teori
fungsional itu dikenal sebagai skema AGIL.Agar dapat lestari suatu sistem harus
melaksanakan keempat fungsi tersebut.
1.
Adaptasi : suatu sistem harus mengatasi kebutuhan mendesak yang bersifat
situasional eksternal. Sistem itu harus beradaptasi dengan lingkungan dan
mengadaptasikan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
2.
Pencapaian tujuan : suatu sistem harus mendefenisikan dan
mencapai tujuan utamanya.
3.
Integrasi : suatu sistem harus mengatur antar hubungan bagian-bagian dari
komponennya. Ia juga harus mengelolah hubungan di antar tiga imperatif
fungsional lainnya (A, G, L)
4.
Latensi : suatu sistem harus menyediakan, memelihara, dan memperbaharui baik
motivas para individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan menopang
motivasi itu.
Teori tersebut melihat masyarakat atau sekolah
MTs sebagai sistem sosial seperti yang di gambarkan dalam skema AGIL. Sistem
yang satu harus berhubungan dengan sistem yang lain sehingga berjalan dengan
baik. Sangat jelas lewat teori ini dijelaskan berdasarkan konsep yang
ada.Sekolah MTs dan masyarakat mempunyai fungsi dan peran masing-masing. Dalam
hal menetapkan dan merealisasikan aturan atau kebijakan tentang sistem point
dan full day sekolah MTs suatu sistem
harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya. Sehingga alhasil daripada
proses tersebut maksimal.
Teori peran adalah sebuah sudut pandang dalam sosiologi dan psikologi
sosial yang menganggap sebagian
besar aktifitas harian diperankan oleh kategori-kategori yang ditetapkan secara
sosial misalnya ibu, manajer, guru. Setiap peran sosial adalah
serangkaian hak, kewajiban, harapan, norma, dan perilaku seseorang yang harus
dihadapi dan dipenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang-orang
bertindak dengan cara yang dapat diprediksikan, dan bahwa kelakuan seseorang
bergantung pada konteksnya, berdasarkan posisi sosial dan faktor-faktor lain.
Kunci pemahaman teori ini adalah bahwa konflik peran terjadi ketika seseorang diharapkan melakukan beberapa peran
sekaligus yang membawa pertentangan harapan. Teori peran sangat berkaitan erat
dengan yang namanya sosialisasi. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai
teori mengenai peranan (role theory). Walau Park menjelaskan dampak
masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannnya dengan peran, namun jauh
sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan teori
peran. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminology
aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang di tetapkan oleh budaya. Sesuai
dengan teori ini harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang
menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut teori
ini masyarakat yang dibarengi dengan yang namanya pemahaman tentang peran-peran
secara otomatis akan lebih paham dalam berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya, karena segala sesuatu yang diajarkan dengan peran adalah salah satu
fakor utama dalam mencapai kepuasan tersendiri bagi individu untuk menjalankan
sebuah fungsi. Hal ini dikaitkan dengan bagaimana seorang individu atau
masyarakat memahami apa yang dilakukan oleh agen sosialisasi. Oleh karena itu
diperlukan peran yang aktif dalam proses pensosialisasian atas individu atau
masyarakat agar tercapai keinginan yang disepakati.
Sementara itu Menurut Robert Linton
(1936), teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi
aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh
budaya.Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman
bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan
sehari-hari.Menurut teori ini seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya
sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan
agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut.
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen
Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang
dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan
kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan
kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya,
relasi orang tua dan guru mendidik dan mengembangkan kemampuan serta kualitas
pendidikan anak.
Untuk dapat melihat secara sederhana penjelasan mengenai Teori Peran, apa
dan bagaimana definisi serta mekanisme dari teori peran itu sendiri, maka
terlebih dahulu dapat kita lihat penjelasan teori peran yang dikaji terhadap
hubungan sosial antar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan antar
manusia terdapat tiga teori yang dapat dijadikan acuan untuk membantu
menerangkan model dan kualitas hubungan antar manusia tersebut, salah satunya
adalah teori peran.
Dijelaskan
bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang biasanya manusia akan menjadi apa dan
siapa, tergantung pada lingkungan sekitarnya atau pada siapa ia bergaul.
Manusia tidak bisa hidup sendirian, sebab terdapat adanya rasa saling
ketergantungan satu sama lain. Dalam pergaulan hidup, manusia menduduki fungsi
yang bermacam-macam.Dalam hubungan antar manusia terdapat seorang pemimpin dan
bawahan, pemerintah dan masyarakatnya, dan lain sebagainya.
Ia
menunjukkan bahwa aktor politik umumnya berusaha menyesuaikan tindakannya
dengan norma-norma perilaku yang berlaku dalam peran yang dijalankannya.
Sedangkan iamendeskripsikan peranan institusi secara behavioral, dimana model
teori peran menunjukkan segi-segi perilaku yang membuat suatu kegiatan sebagai
institusi. Kerangka berpikir teori peran juga memandang individu sebagai
seorang yang bergantung dan bereaksi terhadap perilaku orang lain.
Perilaku
individu dalam kesehariannya hidup bermasyarakat berhubungan erat dengan
peran.Karena peran mengandung hal dan kewajiban yang harus dijalani seorang
individu dalam bermasyarakat.Sebuah peran harus dijalankan sesuai dengan
norma-norma yang berlaku juga di masyarakat. Seorang individu akan terlihat
status sosialnya hanya dari peran yang dijalankan dalam kesehariannya.
v Teori Interaksi Simbolik
Pada
Hakikatnya, komunikasi merupakan kegiatan primer yang tidak akan lepas dari
seluruh manusia. Komunikasi memilki pengertian yakni proses penyampaian maksud
atau pesan dari sang komunikator kepada komunikan baik dalam bentuk satu arah
atau dua arah,dengan menggunakan media (alat bantu) maupun tidak, dengan tujuan
terwujudnya mutual understanding, perubahan pemikiran dan perilaku.
Komunikasi memiliki dua jenis dalam bentuk penyampaiannya, yakni verbal dan non
verbal.Verbal itu mencakup lisan dan tulisan, sedangkan non verbal mencakup
mimik wajah dan bahasa tubuh.
Membahas
tentang komunikasi, hal ini juga memiliki turunan teori dalam cara menyampaikan
maksud dan tujuan dari komunikator kepada komunikan yakni interaksi simbolik.
Esensi dari interaksi simbolik yakni adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri
khas manusia yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna
(Mulyana, 2003: 59).Paham interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan
pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis
lainnya.Paham interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut
adalah virtual.Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu
pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara
konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam
konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan
oleh orang lain. Interaksionisme simbolik, mengarahkan perhatian kita pada
interaksi antar individu, dan bagaiman hal ini dipergunakan untuk mengerti apa
yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.
Dalam
terminology George Herbert Mead, setiap isyarat non verbal dan pesan verbal
yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat
dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang
sangat penting. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh
orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat
berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan
sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Sesuai
dengan pemikiran-pemikiran Mead, definisi singkat dari tiga ide dasar dari
interaksi simbolik adalah :
a. Mind
(pikiran) - kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang
sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi
dengan individu lain.
b. Self
(diri pribadi) - kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian
sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis
adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri
sendiri (the-self) dan dunia luarnya.
c. Society
(masyarakat) - hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan
oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat
dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya
mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
Charron
(1979) menyebutkan pentingnya pemahaman terhadap simbol-simbol ketika seseorang
menggunakan teori interaksionisme simbolis.Simbol adalah objek sosial dalam
suatu interaksi.Ia digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan
oleh orang – orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut memberi arti,
menciptakan dan mengubah objek tersebut di dalam interaksi. Simbol sosial
tersebut dapat mewujud dalam bentuk objek fisik (benda-benda kasat mata);
kata-kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan, ide-ide, dan nilai-nilai),
serta tindakan (yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam berkomunikasi
dengan orang lain.
Di
setiap lingkungan memiliki kontrak khusus yang terbentuk karena budaya
masyarakat yang ada mengenai pemahaman interaksi pada suatu simbol.Yang mana
pemahaman simbol itu terbentuk karena adanya interaksi sosial dan budaya dari
suatu tempat tertentu. Dari mulai rumah, lingkungan sekitar rumah, sekolah,
kampus, pada sebuah kota, negara bahkan perspektif interaksi simbolik yang dikomunikasikan
pemahamannya diseluruh negara.
Tiga
tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik
antara lain:
1. Pentingnya
makna bagi perilaku manusia
Tema
ini berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana
dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi,
karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi
secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan
makna yang dapat disepakati secara bersama dimana asumsi-asumsi itu adalah
sebagai berikut : Manusia, bertindak, terhadap, manusia, lainnya berdasarkan
makna yang diberikan orang lain kepada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi
antar manusia, Makna dimodifikasi melalui proses interpretif .
2. Pentingnya
konsep mengenai diri (self concept)
Tema
ini berfokus pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara
aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya dengan cara antara
lain : Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui nteraksi dengan
orang lain, Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku Mead
seringkali menyatakan hal ini sebagai : ”The
particular kind of role thinking – imagining how we look to another person”
or ”ability to see ourselves in the
reflection of another glass”.
3. Hubungan
antara individu dengan masyarakat.
Tema
ini berfokus pada dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat,
dimana norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya
tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial
kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai
keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan
dengan tema ini adalah: Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses
budaya dan sosial, Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial
Teori
interaksi simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi simbol.
Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain
memberi makna atas simbol tersebut. Asumsi-asumsi: a. Masyarakat terdiri dari
manusia yang berinteraksi melalui tindakan bersama dan membentuk organisasi. b.
Interaksi simbolik mencangkup pernafsiran tindakan. Interaksi non simbolik hanyalah
mencangkup stimulus respon yang sederhana.Teori ini pada kesimpulannya
menyatakan bahwa Interaksi sosial pada hakekatnya adalah Interaksi simbolik.
Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol, yang
lain memberi makna atas simbol tersebut.
v Implikasi
Keilmuan
Implikasi
dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau ilmu
dan metodologi berikut ini, antara lain:
1. Teori
sosiologikal modern (Modern Sociological Theory) menurut Francis Abraham (1982)
dalam Soeprapto (2007), dimana teori ini menjabarkan interaksi simbolik sebagai
perspektif yang bersifat sosial- psikologis. Teori sosiologikal modern
menekankan pada struktur sosial, bentuk konkret dari perilaku individu,
bersifat dugaan, pembentukan sifat- sifat batin, dan menekankan pada interaksi
simbolik yang memfokuskan diri pada hakekat interaksi. Teori sosiologikal
modern juga mengamati pola-pola yang dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan
oleh hubungan sosial, dan menjadikan interaksi itu sebagai unit utama analisis,
serta meletakkan sikap-sikap dari individu yang diamati sebagai latar belakang
analisis.
2. Perspektif
interaksional (Interactionist perspective) merupakan salah satu implikasi lain
dari interaksi simbolik, dimana dalam mempelajari interaksi sosial yang ada
perlu digunakan pendekatan tertentu, yang lebih kita kenal sebagai perspektif
interaksional (Hendariningrum. 2009). Perspektif ini menekankan pada pendekatan
untuk mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial masyarakat, dan mengacu dari
penggunaan simbol- simbol yang pada akhirnya akan dimaknai secara kesepakan
bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.
3. Konsep
definisi situasi (the definition of the situation) merupakan implikasi dari
konsep interaksi simbolik mengenai interaksi sosial yang dikemukakan oleh
William Isac Thomas (1968) dalam Hendariningrum (2009). Konsep definisi situasi
merupakan perbaikan dari pandangan yang mengatakan bahwa interaksi manusia
merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) secara
langsung. Konsep definisi situasi mengganggap bahwa setiap individu dalam
memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dari
individu tersebut didahului dari suatu tahap pertimbangan-pertimbangan
tertentu, dimana rangsangan dari luar tidak ”langsung ditelan mentah-mentah”,
tetapi perlu dilakukan proses selektif atau proses penafsiran situasi yang pada
akhirnya individu tersebut akan memberi makna terhadap rangsangan yang
diterimanya.
4. Konstruksi
sosial (Social construction) merupakan implikasi berikutnya dari interaksi
simbolik yang merupakan buah karya Alfred Schutz, Peter Berger, dan Thomas
Luckmann, dimana konstruksi sosial melihat individu yang melakukan proses
komunikasi untuk menafsirkan peristiwa dan membagi penafsiran-penafsiran
tersebut dengan orang lain, dan realitas dibangun secara sosial melalui
komunikasi (LittleJohn. 2005: 308).
5. Teori
peran (Role Theory) merupakan implikasi selanjutnya dari interaksi simbolik
menurut pandangan Mead (West-Turner 2008: 105). dimana, salah satu aktivitas
paling penting yang dilakukan manusia setelah proses pemikiran (thought) adalah
pengambilan peran (role taking). Teori peran menekankan pada kemampuan individu
secara simbolik dalam menempatkan diri diantara individu lainnya ditengah
interaksi sosial masyarakat.
6. Teori
diri (Self theory) dalam sudut pandang konsep diri, merupakan bentuk kepedulian
dari Ron Harrě, dimana diri dikonstruksikan oleh sebuah teori pribadi (diri).
Artinya, individu dalam belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah
teori yang mendefinisikannya, sehingga pemikiran seseorang tentang diri
sebagaiperson merupakan sebuah konsep yang diturunkan dari gagasan-gagasan
tentang personhood yang diungkapkan melalui proses komunikasi (LittleJohn.
2005: 311).
7. Teori
dramatisme (Dramatism theory) merupakan implikasi yang terakhir yang akan
dipaparkan oleh penulis, dimana teori dramatisme ini merupakan teori komunikasi
yang dipengaruhi oleh interaksi simbolik, dan tokoh yang menggemukakan teori
ini adalah Kenneth Burke (1968). Teor ini memfokuskan pada diri dalam suatu
peristiwa yang ada dengan menggunakan simbol komunikasi. Dramatisme memandang
manusia sebagai tokoh yang sedang memainkan peran mereka, dan proses komunikasi
atau penggunaan pesan dianggap sebagai perilaku yang pada akhirnya membentuk
cerita tertentu.
F. Defenisi Konsep dan Defenisi
Operasional
1.
Defenisi
Konsep
1.1.Pendidikan merupakan suatu proses
untuk membebaskan manusia dari keterblakangan, ketidaktahuan, ketidakbeardaban,
membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang mengikat kemanusiaannya.
(Freire dkk., 2009; 581-581).
1.2.Persekolahan merupakan alat bantu
dalam pendidikan yang mengarahkan dan membawah manusia mendapatkan kebebasan
itu. (Freire dkk., 2009; 581-581).
1.3. Sikap sosial adalah suatu predisposisi (keadaaan mudah terpengaruh)
terhadap seseorang, ide, atau obyek yang
berisi komponen kognitif, affektif dan
behavior. Kognitif berhubungan dengan gejala fikiran dan afektif
berhubungan dengan gejala perasaan dan konatif proses tendensi/ kecenderungan
berbuat pada sesuatu obyek. (Zimbardo dan Ebbesen, 2002).
1.4.Metode pendidikan atau pembelajaran
adalah rencana yang sistemtis untuk menyampaikan informasi (Gerlach dan Elly)
2.
Defenisi
Operasional
Beberapa
Defenisi Operasional dan pengukurannya yang dipakai dalam penelitian ini adalah
:
2.1.Hubungan kerja sama antara masyarakat dengan sekolah MTs. LKMD Sawa.
2.2.Pandangan
masyarakat terhadap metode pembelajaran sekolah MTs. LKMD Sawa.
2.3.Metode
pembelajaran sistem point dan full day sekolah MTs. LKMD Sawa
G. Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif.Menurut Creswell (dalam Gunawan 2013:82)
makna pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun pernyataan
pengetahuan berdasarkan perspektif-konstruktif (misalnya, makna-makna yang
bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan
tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu), atau berdasarkan
perspektif partisipatori.
H.
Lokasi
Penelitian
Penentuan
lokasi penelitian selain didalam kerangka teoris juga dilandasi oleh
pertimbangan teknis operasional. Untuk itu, lokasi dan seting penelitian dipertimbangkan
dapat tidaknya dimasuki dan dikaji lebih mendalam. Kenyataan yang ada
dilapangan, yaitu wilaya desa yang menjadi sasaran penelitian adalah Desa Sawa
Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru tersebut dipertimbangkan berdasarkan
pengamatan dengan alasan bahwa pandangan masyarakat terhadap sistem pembelajaran pendidikan di sekolah MTs LKMD Sawa.
1. Informan Penelitian
Informan
menjadi orang yang sangat penting dalam mendapatkan informasi menyangkut
permasalahan penelitian ini, karena dalam penelitian informan menjadi kunci
untuk mendapatkan data empiris (R. H. Soemitro.Hal 70). Infoman dalam
penelitian ini berjumlah 11 informan yakni:
Ø 1
guru, Kepala Sekolah MTs. LKMD : pembuat aturan
Ø 6
masyarakat :
a. 3
orang tua yang setuju dan
b. 3
oran tua tidak setuju
Ø 4
orang siswa :
c. 2
orang siswa : bermasalah dengan aturan
d. 2
orang siswa : taat pada aturan
Alasan penulis memilih
informan guru (kepala sekolah MTs) yaitu merupakan pimpinan sekolah sekaligus
mengeluarkan aturan sistem point dengan full day, dan siswa/siswi merupakan
murid sekolah MTs yang menjalankan aturan sekolah sementara masyarakat
merupakan penganalisa terhadap aturan sekolah.Dari informan yang ada merupakan
sumber data untuk penulis jadikan sebagai penelitian untuk dijadikan sebagai
bahan penulisan.
2. Teknik Pengumpulan Data
Data
pada dasarnya merupakan informasi yang dipandang dapat memberikan gambaran mengenai suatu masalah atau
keadaan.Data dipandang baik apabila data itu memperlihatkan kebenaran yang
dapat dipercaya, dalam artian bisa memberikan gambaran mengenai suatu
permasalahan atau keadaan secara sempurna dan lengkap.
a. Observasi.
Observasi adalah pengamatan yang
dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan
gejala-gejala sosial psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan (R. H.
Soemitro.Hal 62).Peneliti terlibat secara langsung dalam pengumpulan data
lapangan untuk melihat secara langgsung relasi sosial antara orang tua dan
sekolah.Posisi peneliti yaitu sebagai subjek yang berperan dalam merekam serta
melihat berbagai kejadian yang sebenarnya maupun yang khusus dibuat untuk
memenuhi kebutuhan penelitian.
b. Wawancara Mendalam (Indepth
Interview)
Salah satu metode pengumpulan
data di lakukan melalui wawancara mendalam yaitu suatu kegiatan dilakukan untuk
mendapatkan informasi secara langgsung dengan menggungkapkan pertanyaan-pertanyaan
pada para informan
(R. H. Soemitro.Hal 39). Alat bantu
yang digunakan adalah pedoman wawancara, alat perekam suara, dan dokumentasi
melalui foto.
c. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan untuk
mencari data dan informasi, serta referensi yang berkaitan dengan dukungan yang
berkaitan dengan tema penelitian, baik yang terdapat di perpustakaan, maupun
yang terdapat dilokasi peneliti (R. H. Soemitro.Hal 117).
2. Jenis Data Penelitian
Data-data yang
dianalisis dalam penelitian ini dari dua sumber yaitu :
1. Sumber
data sekunder di peroleh dari bahan-bahan literatur berupa buku-buku diperpustakaan,
majalah, suratkabar, dan lain-lain.
2. Sumber
data primer di peroleh dari hasil penelitian selama di lapangan dan diadakan sistem survey untuk mengetahui
bagaimana
relasi sosial orang tua dengan sekolah
3. Teknik Analisa Data
Analisa
data ini berdasarkan analisa kualitatif yakni analisa yang dilakukan terhadap
data yang berupa informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan
dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau
sebaliknya, sehingga memperoleh
gambaran baru ataupun
menguatkan suatu gambaran yang sudah
ada dan sebaliknya (R. H. Soemitro. Hal 104). Data yang berhasil dihimpun dalam
penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif, kemudian dianalisa secara
deskritif yang berpedoman pada pedoman wawancara kemudian hasilnya diinterpretasi
secara sosiologis, dan ditarik kesimpulan dari data yang diperoleh di lapangan.
BAB
II
GAMBARAN UMUM LOKASI
PENILITIAN
A.
Sejarah
Sekolah MTs. LKMD Sawa
Sekolah
MTs. LKMD Sawa adalah salah satu sekolah yang berbasisIslam, sekolah ini merupakan
satu-satunya sekolah suasta yang berbasis agama Islam yang ada di Desa Sawa dan sejajaran
Kecamatan Lilialy Desa Sawa Kabupaten Buru, sekolah yang didrikan oleh sebuah
yayasan yakni Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) perancangan sekolah ini
dimulai pada bulan Juli 2006, Namun perencanaan pembangunana sekolah itu baru
bisa direlisasikan pada bulan Agustus 2006
dengan jumlah siswa yang sangat minim yakni berjumlah 9 orang dan jumlah guru
13 orang.
Lokasi awal sekolah MTs. LKMD yaitu
menempati lokasi SD Negri Sawa karena tidak memiliki gedung sendiri (dalam
proses pembangunan), selama beberapa bulan sekolah SD Negri Sawa mengalami
perbaikan renofasi sekolah, dan menyebabkan
sekolah MTs. LKMD harus berpindah lokasi kesekolah yang lain, yakni SD Al-Hilal
Sawa.
Oktober 2006 sekolah MTs. LKMD di
pindahkan ke SD Al-Hilal Desa Sawa, disini sekolah MTs. LKMD beroperasi cukup
lama sejak 0ktober 2006 hingga desember 2007 bangunan sekolah MTs. LKMD baru
berhasil dibangunkan dan diselesaikan yaitu dengan satu buah gedung yang didalamnya memiliki 4 ruang yakni 3
ruang kelas dan 1 ruang guru, kemudian pada januari 2008 sekolah MTs LKMD
berhasil di diresmikan dan menmpati
gedung sendiri dengan jumlah siswa
sebanyak 30 orang dan jumlah guru 15 orang, dengan gedung sekolah yang
berjumlah 3 ruang kelas dan 1 buah ruang guru
Selama perobrasi mulai 2006 hingga
saat ini, sekolah MTs. LKMD mengalami banyak perubahan baik dari sarana
parasarana ,sistem belajar sampai pada pergantian kepala sekolah, dan hingga
saat ini sekolah MTs. LKMD telah
melakuka pergatian kepala sekolah sebanyak tiga kali.
B. Keadaan
Geografis.
Secara geoggrafis Desa
Sawa adalah salah satu desa yang terletak di pesisir pantai bagian tengah, dan
merupakan salah satu Desa yang paling
terbesar sejajaran Kecamatn Lilialy, Kabupaten Buruh. Secara garis besar dapat digambarkan
tentang keadaan lokasi penelitian sebagai berikut :
1. Letak
Desa Sawa adalah pusat
Kecamatan Lilialy, termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Buru, terletak
pada arah Barat kota Kabupaten Buru. Jarak dari Desa Sawa ke Kantor Bupati Kabupaten
Buru sekitar 12 Km. Waktu tempuh menuju pusat kota Kabupaten Buru kurang lebih
1 jam.
2. Luas
Wilayah
Secara keseluruhan luas
Wilayah Desa Sawa adalah : 142,28 km dan
merupakan salah satu desa yang paling terluas sekecamatan Lilialy.
Ø Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Waimiting
Ø Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waiperang
Ø Sebelah Selatan berbatsan sengan Pegununggan
Ø Sebelah Utara berbatsan dengan Laut
3. Keadaan
Alam dan Iklim
1. Tanah
Desa Sawa secara Topografi yang terdiri dari
1. Luas
ketinggian di atas permukaan laut : 5 - 40 Mdpl
2. Luas Lahan Perkebunan/Pertanian : 200 Ha
3. Luas
lahan permukiman :
150 Ha
Sehubungan dengan kedaan alam yang ada pada desa
ini, dari hasil wawancara bersama pejabat desa dan tokoh masyarakat, diperoleh
keterangan bahawa kedaan yang ada di Desa Sawa dapat dikatakan bahawa sangat potensial karena terdiri dari
tanah kering yang terbentang sepanjang dataraan desa dan pegunungan yang
meliputi daerah hutan. Dalam hal potensi alam, namun sesuai dengan hasil panen
yang ditemukan masyrakat desa yang selalu mengandalkan hasil pengunugan dalam
pengelolah minyak kayu puti maka musim panas atau kekerigan menjadi suatu
kebangaan masyrakat desa di setiap musim panen.
2.
Iklim
Iklim
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Kedaan
iklim di Desa Sawa yakni suhu :25 -= 30 ºC dan curah hujan :5 Mm, hal ini sebagimana desa-desa yang ada
disekitaran Pulau Buruh, desa sawa juga mengalami musim yang sama dengan desa
lain pada umunya yaitu : musim kemarau atau musim Timur dan musim Barat atau muasim hujan dan
sebaliknya. Adapun disusul dengan musim pancaroba yaitu peralihan dari musim
hujan ke musim panas, atau Barat ke Timur.
C. Keadaan Demografi
Menyangkut dengan keadaan
Demografi yang dimiliki oleh Desa Sawa tentunya ada perbedaan dengan desa-desa
lain di sekitaran Kecamatn Lilialy, dengan luas dan jumalah penduduk yang cukup
padat, serta mata pencarian atau pekerjaan, tingkat pendidikan serta golongan
agama yang dimiliki. Terhadap hal tersebut maka dibawah ini akan di jelaskan
secara terperinci.
1.
Kedaan
Penduduk Desa Sawa berdasarkan umur
Penduduk Desa Sawa yang dirincikan menurut kelompok
umur dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel
1. Jumlah Penduduk Desa Sawa Menurut Kelompok Umur.
|
No
|
Kelompok
Umur
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
|
Laki-laki
|
Perempun
|
||||
|
1
|
0
– 5 tahun
|
58
|
49
|
107
|
4,52
|
|
2
|
6
– 10 tahun
|
59
|
52
|
111
|
4,68
|
|
3
|
11
– 15 Tahun
|
73
|
80
|
153
|
6,46
|
|
4
|
16
– 20 Tahun
|
161
|
181
|
342
|
14,44
|
|
5
|
21
– 25 tahun
|
165
|
179
|
344
|
14.53
|
|
6
|
26
– 30 tahun
|
215
|
221
|
436
|
18,41
|
|
7
|
31
– 35 tahun
|
100
|
130
|
230
|
9,29
|
|
8
|
36
– 40 tahun
|
120
|
100
|
220
|
9,29
|
|
9
|
41
– 45 tahun
|
40
|
35
|
75
|
2,44
|
|
10
|
46
– 50 tahun
|
48
|
44
|
92
|
3,88
|
|
11
|
>50
tahun
|
124
|
133
|
257
|
10,85
|
|
|
TOTAL
|
1163
|
1204
|
2367
|
100
|
Sumber
: kantor Desa / Data Umum Desa Agustus Tahun 2015
2. Kedaan Penduduk berdasarkan Mata
pencaharian
Berdasrkan data yang diperoleh menunjukan mata
pencahrian masyrakat desa sawa sangat bervariasi namun tingkat mata penchrian
yang tertinggi adalah petani hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 2. Keadaan Penduduk Desa Sawa
Menurut Mata Pencahrian
|
No
|
Mata
Pencaharian
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
||||
|
1.
|
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
|
35
|
28
|
63
|
24,30
|
|
2.
|
TNI dan POLRI
|
12
|
-
|
12
|
0,50
|
|
3.
|
Pensiunan
|
7
|
3
|
10
|
0,42
|
|
4.
|
Petani
|
280
|
247
|
527
|
22,26
|
|
5.
|
Pedagang
|
17
|
29
|
46
|
1,49
|
|
6.
|
Tukang
|
31
|
-
|
31
|
1,30
|
|
7.
|
Sopir
|
12
|
-
|
12
|
0,50
|
|
8.
|
Tukang Ojek
|
15
|
-
|
15
|
0,63
|
|
9.
|
Karyawan swasta
|
44
|
10
|
54
|
2,28
|
|
10.
|
Kontraktor
|
2
|
-
|
2
|
0,08
|
|
11.
|
Penjahit
|
5
|
4
|
9
|
0,38
|
|
12.
|
Belum Bekerja
|
686
|
889
|
1575
|
66,53
|
|
13.
|
Montir
|
3
|
8
|
11
|
0,46
|
|
|
TOTAL
|
1149
|
1218
|
2367
|
121.56%
|
Sumber
data : Kantor Desa/ Data umum Desa Agustus Tahun 2015
3. Keadaan Penduduk Berdasrkan Tingkat
Pendidikan
Pada dasranya pendidikan merupakan suatu hal yang
sangat penting bagi Berkembangan dan kemajuan
suatu desa, untuk memnuhi hal itu dibutuhkan kesadaran dari masyrakat
untuk mencapai pendidikan dengan baik. Tentunya hal ini menyangkut dengan
tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyrakat Desa Sawa, oleh karana itu
dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel 3. Keadaan Penduduk Desa Sawa
Menurut Tingkat Pendidikan
|
No
|
Jenjang
Pendidikan
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
||||
|
1
|
Tidak Sekolah
|
625
|
705
|
1330
|
56,18
|
|
2
|
TK / PAUD
|
40
|
38
|
78
|
3,29
|
|
3
|
SD sederajat
|
55
|
49
|
104
|
4,39
|
|
4
|
SLTP sederajat
|
201
|
188
|
389
|
16,43
|
|
5
|
SLTA sederajat
|
167
|
206
|
373
|
15,75
|
|
6
|
Akademik / Perguruan
Tinggi
|
52
|
41
|
93
|
3,92
|
|
|
TOTAL
|
1140
|
1227
|
2367
|
99,96%
|
Sumber : kantor Desa / Data Umum
Desa Agustus Tahun 2015
4.
Keadaan
Penduduk Menurut Agama
Seperti masyarakat lainya tentu masyarakat Desa Sawa
juga merupakan masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan
memeluk Agama Islam sebagi agama ALLAH SWT yang diakui oleh Indonesia , dari
hasil penilitian yang dilakukan oleh penulis sebagian besar masyrakat Desa Sawa
memeluk Agama Islam, dan dijelaskan pula
bahawa ada beberapa penduduk desa sawa yang memeluk Agama Kristen Protestan dan
Kong Fu
Chu hal tersebut dapat dirincikan sebagai berikut :
Tabel 4. Keadaan Penduduk Desa
menurut Agama
|
No
|
Agama
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
||||
|
1
|
Islam
|
1249
|
1108
|
2357
|
99,57
|
|
2
|
Kristen Protestan
|
2
|
2
|
4
|
0,16
|
|
3
|
Kristen Katholik
|
-
|
-
|
-
|
0
|
|
4
|
Hindu
|
-
|
-
|
-
|
0
|
|
5
|
Budha
|
-
|
-
|
-
|
0
|
|
6
|
Kong Fu Chu
|
2
|
4
|
6
|
0,25
|
|
|
TOTAL
|
1253
|
1114
|
2367
|
99,82%
|
Sumber Data : Kantor
Desa /Data umum Desa Agustus Tahun 2015
5.
Sistem
Perintahan Desa Sawa
Sistem
Perintahan Desa Sawa
6.
Sarana
dan Prasarana
Tabel 5 Sarana Prasarana Pendidikan
|
NO
|
Jenis
Sarana Prasarana
|
Jumlah
|
Kondisi
|
|
1
|
Sarana
Peribadatan
a.
Masjid
b.
Pasantren
|
2
1
|
Baik
Baik
|
|
2
|
Sarana
Pendidikan
a.(PAUD)
b. TK
c. SLTP/MTs
d. SMA/SMK
|
2
2
1
1
|
Baik
Baik
Baik
Baik
|
|
3
|
Sarana
Pemerintahan
a.
Kantor Desa
b.
Balai Desa
c.
Kantor Camat
d.
Kantor Polisi
e.
Kantor UPTD
|
1
1
1
1
|
Baik
Baik
Baik
Baik
|
Sumber
:kantor desa/ Data umum Desa Agustus Tahun 2015
BAB III
PEMBAHASAN DAN ANLISA DATA
Analisa Masyarakat Terhadap Sekolah
MTs. LMD Sawa
Kehidupan
manusia pada umummya berada dalam satu lingkungan yang mendorong setiap
individu untuk berada dalam sebuah kumpulan yang disebut masyarakat.Pada
umumnya kehidupan masyarakat itu selalu mengalami sebuah dinamika perubahan
yang dapat menjadikan kehidupan masyarakat yang baik. Dengan demikian maka
motivasi merupakan suatu proses penjelasan intensitas, arah dan ketekunan
seorang individu untuk mencapai tujuannya. Berdasarkan penjelasan tersebut,
maka pendidikan merupakan faktor fundamental untuk merubah paradigma berpikir
individu sehingga sesuai dengan yang diharapkannya.Masyarakat merupakan binaan
anak dalam pendidikan nonformal, dalam artian tanggung jawab masyarakat
mempunyai peran penting sebagai pendidik yang dapat mendidik anak serta
mempunyai relasi sosial masyarakat dengan sekolah. Sekolah MTs LKMD adalah
salah satu sekolah agama Islam di Desa Sawa, pendidikan agama ini sangat
memegang peranan penting dalam
membangun kepribadian, sikap,
etika dan tingkah laku para remaja di kalangan siswa, dalam rangka mewujudkan
generasi yang bermoral, dengan tujuan untuk
menjadikan siswa yang cerdas terampil dan ber- akhlakul al-karimah. Dalam pembinaan sikap dan tingkah laku
peserta didik diperlukan sebuah pendekatan “idial keagamaan“
melalui pengajaran dan pendidikan agama di sekolah MTs.
MTs
LKMD Sawa sebagai institusi yang
mengemban misi pendidikan yakni untuk
mewujudkan proses pembelajaran yang
bertujuan untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar memiliki kekuatan
spiritual pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan Negara.
(Undang-Undang No. 20/2003 pasal:1 ).
Sehubungan
dengan rumusan idial tujuan pendidikan dan harapan-harapan yang dituntut oleh
sebuah proses pendidikan, maka ada kesenjangan antara harapan dengan realitas
yang terjadi pada diri peserta didik, yang sampai saat ini masih dikhawatirkan
eksistensinya oleh semua kalangan baik orang tua maupun masyarakat.
Keberhasilan sebuah proses pendidikan bukan saja terletak pada kemampuan
intelek, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan dapat
menjalankan fungsinya membentuk peserta didik yang berbudi luhur dan
berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku. Pendekatan dan pembiasaan yang
religius adalah sebuah jalan keluar mengatasi persolan remaja agar tidak
menimbulkan masalah sosial, dan sanggup mengatasi problema keremajaannya.
Terhadap
penjelasan singkat diatas, sekolah MTs mempunyai aturan atau kebijakan untuk
membina dan mendisiplinkan peserta didik, sehingga muncul analisa masyarakat
terhadap aturan sekolah MTs. LKMD Sawa.
A.
Hubungan
masyarakat dengan sekolah MTs. LKMD Sawa.
Ø Pengertian Hubungan Masyarakat dan Sekolah
Istilah
hubungan dengan masyarakat dikemukakan kali pertama oleh presiden Amerika
Serikat, Thomas Jefferson tahun 1807 dengan istilah Public Relations.Hingga
saat ini pengertian hubungan dengan masyarakat itu sendiri belum mencapai suatu
mufakat konvensional.
Adapun
pengertian hubungan dengan masyarakat menurut Abdurrachman ialah kegiatan untuk
menanamkan dan memperoleh pengertian, good will, kepercayaan, penghargaan dari
publik sesuatu badan khususnya dan masyarakat pada umumnya (Suryosubroto, 2004:
155).
Sedangkan
menurut Syamsi, hubungan dengan masyarakat adalah untuk mengembangkan opini publik yang positif
terhadap suatu badan, publik harus diberi penerangan-penerangan yang lengkap
dan obyektif mengenai kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepentingan mereka,
sehingga dengan demikian akan timbul pengertian darinya. Selain itu pendapat-pendapat
dan saran–saran dari publik mengenai kebijaksanaan badan itu harus diperhatikan
dan dihargai (Suryosubroto, 2004: 155).
Hubungan
sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh
sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan
aspirasi, simpati dari masyarakat.Dan mengupayakan terjadinya kerjasama yang
baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus
bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan
program-program sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap
eksis.
Hubungan
sekolah dengan masyarakat adalah suatu
proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan
pengertian masyrakat tentang kebutuhan serta kegiatan pendidikan serta
mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan dan
pengembangan sekolah. Kindred, balgin dan Gallagher (1976) mendefinisikan
hubungan sekolah dengan masyarakat ini sebagai usaha kooperatif untuk menjaga
dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling
pengertian antara sekolah, personel sekolah dengan masyarakat.
Definisi
tersebut diatas mengandung beberapa elemen penting, sebagai berikut:
a. Adanya kepentingan yang sama antara
sekolah dengan masyarakat. Masyarakat memerlukan sekolah untuk menjamin bahwa
anak-anak sebagai generasi penerus akan dapat hidup lebih baik, demikian pula
sekolah.
b. Untuk memenuhi harapan masyarakat
itu, masyarakat perlu berperan serta dalam pengembangan sekolah. Yang dimaksud
peran serta sekolah adalah kepedulian masyarakat tentang hal-hal yang terjadi
disekolah, serta tindakan membangun dalam perbaikan sekolah.
c. Untuk meningkatkan peran serta itu
diperlukan kerja sama yang baik, melalui komunikasi dua arah yang efisien.
Penjelasan
diatas mengandung arti bahwa sekolah MTs dan masyarakat Desa Sawa mempunyai
keinginan dan tujuan yang sama untuk mengembangkan dan memajukan sumber daya
manusia. Kepedulian masyarakat sangat berperan penting dan mempunyai nilai yang
baik beegitu juga sekolah MTs sehingga kehidupan sosial lingkungan sekitar
berada dalam sebuah sistem yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Talcot
Parson bahwa agar dapat lestari suatu
sistem harus melaksanakan keempat fungsi tersebut.
·
Adaptasi : suatu sistem harus mengatasi kebutuhan mendesak yang bersifat
situasional eksternal. Sistem itu harus beradaptasi dengan lingkungan dan
mengadaptasikan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
·
Goal (Pencapaian tujuan): suatu sistem harus mendefenisikan dan
mencapai tujuan utamanya.
·
Integrasi : suatu sistem harus mengatur antarhubungan bagian-bagian dari
komponennya. Ia juga harus mengelolah hubungan di antar tiga imperatif
fungsional lainnya (A, G, L)
·
Latensi : suatu sistem harus menyediakan, memelihara, dan memperbaharui baik
motivas para individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan menopang
motivasi itu.
Hal ini mempunyai makna bahwa masyarakat Desa
Sawa dan sekolah MTs bagian dari sistem sosial seperti yang di jelaskan lewat
skema AGIL sehingga hubungan sosial dapat terkontrol dan terkendali. Apabila
salah satu sub sistem sosial tidak berfungsi dengan baik maka terjadi
kepincangan antar sistem yang satu dengan sub sistem yang lain. Dalam
lingkungan sosial, masyarakat dengan sekolah mempunyai peran signifikan terhadap
lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal, keterkaitan-keterkaitan
tersebutlah yang dapat membentuk kualitas sumber daya manusia.
Ø Dinamika interaksi masyarakat
dengan sekolah
Dalam
kehidupan masyarakat pasti melalui suatu proses sosial. Bentuk dari proses
sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan
sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar individu, antar kelompok
maupun antar individu dengan kelopok (Soekanto, 2006:62) suatu interkasi sosial
dapat terjadi apabila telah mememnuhi dua syarat, yaitu :
1. Kontak
Sosial
Adanya
kontak sosial, yang dapat berlanggsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu,
antar individu dengan kelompok dan antar kelompok. Dari penjelasan singkat
tersebut dengan melihat kehidupan sosial masyarkat sekitar kontak sosial antar
individu sudah ada lewat proses dimana orang tua murid dengan siswa mengetahui
aturan atau kebijakan yang dibuat oleh sekolah. Begitu pula dengan hubungan
sosial antar individu dengan kelompok berdasarkan hubungan emosional antara
siswa dengan sekolah atau orang tua murid dengan sekolah, sama halnya dengan
hubungan sosial antar kelompok, dimana pihak sekolah selalu membangun relasi
dengan siswa-siswi mapun masyarakat.
2. Komunikasi
Komunikasi
yaitu seorang memberi arti kepada orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin
disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi
reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut (Soekanto,
2006:62)
Komunikasi
dalam hubungan sosial masyarakat dengan sekolah MTs menggunakan Bahasa
Indonesia.Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar termasuk masyarakat majemuk
sehingga untuk mempermudah mereka dalam berkomunikasi. Sehingga apa yang di
maksud oleh salah satu individu dapat dimengerti oleh orang lain atau individu
yang lain atau antar individu dengan kelompok yang dapat mewujudkan relasi yang
baik.
1.
Untuk
pribadi beta, hubungan masyarakat dengan sekolah MTs jauh sangta baik, saling
mendukung satu dengan yang lain. (hasil wawancara dengan Bapak Husen
Mukadar, 56 thn, Kepala Desa )
2. Kalau bicara tentang hubungan
masyarakat dengan sekolah MTs baik adanya. (hasil wawancara dengan Ibu Rahima
Buton 39 thn, orang tua siswa)
3.
Beta
sangat setuju skali ade nona kalau bilang relasi masyarakat dengan sekolah MTs,
pada prinsipnya hubungan yang katong bangun ini saling menopang. Misalnya saja
kalau ada program kerja sekolah yang melibatkan masyarakat maka katong
partisipasi dalam kegiatan dimaksud itu. (hasil wawancara dengan Ibu Sani
Buton, 35 thn,orang tua siswa)
4.
Mau
bilang apa lae tapi kalau hubungan masyarakat dengan sekolah tidak bagus dia
berpengaruh for katong punya anak-anak. (hasil wawancara dengan Ibu Nur
Umasugi, 45 thn, orang tua siswa)
5. Kalau bandingkan kepala sekolah
sebelumnya itu hubungan masyarakat paling bagus skali, tapi ketika kepala
sekolah ini ada, ada aturan yang dikeluarkan sehinga banyak masyarakat kurang
setuju deng ontua. (hasil wawancara dengan Ibu Maryam Suamole, 45 thn,orang
tua siswa )
6. Hubungan masyarakat dengan sekolah
begitu-begitu saja, sama dengan skolah-skolah laen ade, tapi inikan sekolah
agama jadi hubungannya itu sedikit berbeda. (hasil
wawancara dengan Bapak Karim Kalidupa, 46 thn, orang tu siswa)
7. Kalau selaku siswa beta hanya
bilang hubungan sekolah dengan masyarakat baguslah. Soalnya saling berhubungan
antar sekolah dengan masyarakat (hasil wawancara dengan Saudara Darman,
14 thn,siswa MTS.LKMD)
8. Kaka bias lihat saja bagaimana
hubungan masyarak dengan sekolah saat ini, paling bagus skali, karna ada
perubahan-perubahan tertentu. (hasil wawancara dengan saudari Sabrina,
16 thn, siswa MTS,LKMD)
9. Ternyata kepala sekolah ini membuat
aturan yang bagus untuk siswa namun kembali lagi untuk katong bapa dan mama,
terkadang dong anggap aturan ini tidak bagus. (hasil
wawancara dengan Sauadar Muis Buton, 15 thn,siswa
MTS.LKMD)
10. Hubungan sekolah dan masyarakat
netral saja kaka. (hasil wawancara dengan Saudari
Marni Buton, 17 thn siswa MTS.LKMD)
11. Setelah aturan yang kami buat
membawa kontrafersi bagi masyarakat namun hubungan sekolah dan masyarakat
saling mendukung. (hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs, Bapak La
Umini 51 thn, Kepala Sekolah MTS.LKMD)
Dari
hasil wawancara diatas bahwa hubungan sosial masyarakat dengan sekolah MTs
sangat berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak di sekolah MTs, sementara
informan yang lain beranggapan bahwa relasi sosial yang dibangun merupakan
sesuatu hal yang kurang maksimal hal ini didasarkan pada sistem penerapan
aturan sekolah yang menyebabkan sehingga hubungan emosional masyarakat (orang
tua murid) terkikis perlahan-lahan.Max Weber menjelaskan bahwa hubungan sosial yaitu suatu tindakan dimana beberapa aktor
yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta
diarahkan kepada tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan
saling menanggapi.
Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk
makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan
hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk
memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana
individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam
Ardianto (2007: 136), Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain
untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain
melalui interaksi.
Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi
simbolik, antara lain: (1) Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan
simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus
mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain, (2) Diri
(Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian
sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis
adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri
sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan (3) Masyarakat (Society) adalah
jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh
tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam
perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya
mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
”Mind, Self and Society” merupakan karya George Harbert Mead
yang paling terkenal (Mead. 1934 dalam West-Turner. 2008: 96), dimana dalam
buku tersebut memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang dibutuhkan
untuk menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik.
Tiga
tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik
antara lain:
1.
Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2.
Pentingnya konsep mengenai diri,
3.
Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya
membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik
tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak
ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh
individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat
disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya
Herbert Blumer (1969) dalam West-Turner (2008: 99) dimana asumsi-asumsi itu
adalah sebagai berikut:
1.
Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan
orang lain kepada mereka,
2.
Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3.
Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya
”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini
menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara
aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki
dua asumsi tambahan, menurut LaRossan & Reitzes (1993) dalam West-Turner
(2008: 101), antara lain:
1.
Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang
lain,
2.
Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku.
Tema
terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan
individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial
membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang
menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini
adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses
sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:
1.
Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial
2.
Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Rangkuman
dari hal-hal yang telah dibahas sebelumnya mengenai tiga tema konsep pemikiran
George Herbert Mead yang berkaitan dengan interaksi simbolik, dan tujuh
asumsi-asumsi karya Herbert Blumer (1969) adalah sebagai berikut:
Tiga
tema konsep pemikiran Mead
•
Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
•
Pentingnya konsep diri,
•
Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tujuh
asumsi karya Herbert Blumer
•
Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang
lain pada mereka,
•
Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
•
Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif,
•
Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang
lain,
•
Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku,
•
Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
•
Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
B. Analisa Masyarakat Terhadap Aturan
Sekolah MTs. LKMD Sawa
a.
Pemahaman
Masayarakat Tentang Pendidikan
Dalam
sejarah perkembanngan peradaban manusia, bukanlah taken for granted, tetapi jauh sebelumnya telah mengalami suatu
proses yang panjang yakni melalui “belajar”, “pendidikan”, dan “pengalaman”
tersendiri berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secaa formal,
tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses belajar dan pendidikan yang
dialami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut telah menjadikan manusia mampu
memenuhi kebutuhan, menjalani kehidupan sehingga memasuki zaman peradaban
seperti sekarang ini.
Menurut Ahmad D.
Marimba Mengemukakan bahwa
pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh
pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik,
yang tujuannya agar kepribadian peserta didik terbetuk dengan sangat unggul.
Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak
hanya pintar, pandai secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara
karakter.
Pendidikan
merupakan salah satu faktor terpenting dalam pembangunan sumber daya
manusia.Pendidkan yang di maksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal
yang tujuannya untuk merubah kualitas pribadi dala kehidupan manusia.Usaha
pendidikan adalah salah satu hal signifikan serta menentukan pencapaian didalam
bidang kehidupan, dalam memilih serta membina hidup yang baik serta sesuai
dengan martabat hidup manusia.
Bertolak
dari penjelasan diatas mak J. W. Schoor, mengemukakan
pula bahwa dengan adanya pendidikan dan sistem pengetahuan, pandangan dunia dan
sistem nilai mengalami perubahan, mungkin dengan mendapatkan analisis baru.
Pandangan tersebut menjelaskan bahwa dengan pendidikan, orang akan disadarkan
atas keadaannya sendiri dari kemungkinan untuk memperbaikinya. Dengan demikian
jelas bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas
dan sumber daya manusia yang handal.
Oleh
karena itu, jelaslah bagi kita bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dimilikinya, maka
yang dimaksud dengan pendidikan disini adalah pendidikan formal yang diperoleh
melaluli lembaga-lembaga pendidikan maupun pendidikan yang diperoleh melalui
jalur-jalur informal seperti pendidikan ketrampilan dan sebagainya.
1. Bagi beta pendidikan itu sangat
penting karena dengan adanya pendidikan secara tidak langsung su rubah katong
pu hidop. Sebagaimana yang beta lihat sejauh ini orang banya sukses itu karna
dong punya tingkat pendidikan itu bagus. (hasil wawancara dengan Bapak Husen
Mukadar, 56 thn)
2. Biar bagaimanapun dan sapa pun dia
kalau mau sukses dalam dunia usaha dan sebagainya tapi kalau tidak mempunyai
pendidikan maka tingkat kesuksesan itu sangat minim skali. (hasil wawancara
dengan Rahima Buton, 39 tahun)
3. Kalau mau jujur untuk ade nona
bahwa ibu ini hanya sebatas SMP tapi ibu punya ana-ana tiga orang itu su punya
gelar serjana bahkan sudah sukses, kenapa demikian, karena ibu pikir kalau
ana-ana seng punya pendidikan maka kecerahan di massa depan itu tidak terlihat
dengan bae. Jadi pendidikan itu penting skali bukan untuk bapa saja tapi untuk
semua orang. (hasil wawancara dengan ibu Sani Buton 35 Tahun)
4.
Beta
sekarang usia sudah 30 tahun tapi beta selalu peduli dengan pendidikan ana-ana.
(hasil wawancara dengan ibu Nur Umasugi 45 tahun)
5.
Ternyata
nona masih peduli dengan pendidikan e, penting sekali pendidikan itu di zaman
ini, nona tau tidak bibi pu anak tiga itu sudah pegawai semua alasannya mereka
punya pendidikan yang tinggi (hasil wawancara dengan Maryam
Suamole 42 tahun).
6.
Nona,
pendidkan itu penting buat patokan par katong hidup jadi apa yang katong seng
tau tapi lewat pendidikan katong tahu. (hasil wawancara dengan BapaKarim
Kalidupa 46 tahun).
7. Sebenarnya
semua orang tahu bahwa pendidikan sebagai alat untuk rubah dunia (hasil
wawancara dengan Saudara Ajis, 14 thn)
8. tanpa
p[endidikan katong tidak bisa buat apa-apa, makanya beta lebih memilih
bersekolah di banding penganguran. (hasil wawancara dengan
saudari Dian Ode, 16 thn)
9.
sangat bagi beta pendidikan itu kaka e, (hasil
wawancara dengan Sauadar Muis Buton, 15 thn)
10. kaka,
bukti sekarang orang suskes banya itu samua itukan dari latar belakang
pendidikan to jadi pendidikan itu spesial bagi beta kaka (hasil
wawancara dengan Saudari Marni Buton, 17 thn)
11. Maju mundurnya manusia di ukur dari
tingkat pendidikannya, jadi pendidikan itu sangat penting dan bermanfaat skali
(hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs Bapak La
Umini 51 tahun)
Terhadap
jawaban informan diatas dapat dikatakan bahwa mereka sangat mengakui tingkat
pendidikan formal itu sangat penting.Dengan demikian terlihat adanya
keterkaitan yang saling mempengaruhi antara tingkat pendidikan dan tingkat
sosial guna memperbaharui kehidupan mereka sendiri maupun anak-anak mereka ke
jenjang yang lebih tinggi.Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya pendidikan
membuat setiap orang berusaha sehingga meraih hidup jauh lebih bagus.
b.
Analisa
Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa
Setiap manusia bergaul pasti memiliki aturan atau
batasan-batasan, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari, agar
tidak menjadi sorotan dalam masyarakat.Norma merupakan segala bentuk aturan
yang berisikan tentang perintah dan larangan atau perilaku yang harus dan tidak
harus dilakukan oleh setiap manusia dan sifatnya mengikat masyarakat. Setiap
individu harus bahkan wajib mentaatinya, karena norma merupakan prinsip,
petunjuk hidup, acuan, pedoman bagi setiap tingkah laku manusia. Dengan
mentaati norma yang ada, maka kehidupan dalam bermasyarakat akan lebih terasa
damai, harmonis dan tentram. Jika norma yang berlaku dalam suatu masyarakat
tidak di taati atau dilanggar, pasti akan mendapatkan sanksi dan menimbulkan
kerugian, baik untuk dirinya sendiri ataupun merugikan orang lain.
Craig Calhoun mengatakan bahwa aturan merupakan
pedoman dan norma yang menyatakan mengenai bagaimana cara seorang individu
layaknya bertindak dalam situasi tertentu. Setiap lembaga-lembaga
sosial mempunyai aturan-aturan tersendiri, begitu pulah dengan lembaga
pendidikan.Sekolah MTs LKMD Sawa mempunyai aturan tersendiri.
Aturan dibuat
sehingga menimbulkan kesadaran individu maupun kelompok akan tugas dan
tanggungjawab yang berikan. Melihat hal itu, maka sekolah MTs LKMD mempunyai
aturan atau norma-norma yang dibuat dan diterapkan di sekolah sehingga guru
maupun peserta didik yang melanggar aturan yang ada diberikan sanksi.
Sistem
point adalah salah aturan yang dibuat oleh sekolah MTs LKMD Sawa.Tujuan dari
aturan ini agar siswa/siswi dapat mendisiplinkan diri. Pada aturan sistem point
apabila peserta didik melanggar salah satu point yang ada maka diberikan sanksi
berupa siswa/siswi tidak diperkenankan untuk ikut jam belajar (pulang ke
rumah). Sanksi yang diberikan tidak bersifat kekerasan namum sebaliknya.
Butir-butir
komitmen siswa peserta banding MTs LKMD Sawa
|
No
|
Isi Komitmen
|
Jumlah Point
|
Ket
|
|
1
|
Selalu
shalat 5 waktu, menghafal alqur’an
|
5
|
|
|
2
|
Puasa
sunan senin & kamis
|
3
|
|
|
3
|
Tidak
boleh terlambat
|
10
|
3x
terlambat di pulangkan
|
|
4
|
Tidak
boleh bolos
|
15
|
|
|
5
|
Tidak
boleh berambut panjang, di beri warna dan harus rapi
|
5
|
|
|
6
|
Dilarang
meninggalkan sekolah saat jam istirahaat tanpa seizin guru
|
5
|
|
|
7
|
Tidak
membuang sampah di sembarangan tempat
|
5
|
|
|
8
|
Selalu
mengunakan seragam sesuai dengan ketentuan dan benar, al : kopia, jilbab,
kaos kaki dll.
|
10
|
|
|
9
|
Perlengkapan
sekolah seperti alqur’an, alat shalat, buku, pena, pensil, pengaris, harus
dibawah setiap hari
|
10
|
|
|
10
|
Dilarang
keluar malam pada jam-jam belajar apalagi sampai lewat jam 10 malam tanpa
alasan yang jelas
|
10
|
Apabila
kedapatan maka diberikan sanksi
|
|
11
|
Menggunakan
hijab/jilbab yang benar sesuai dengan ketentuan khusus bagi siswi (perempuan)
|
3
|
|
|
12
|
Tidak
boleh mengeluarkan lidah saat berbicara dengan guru, orang tua, dan teman
bahkan tidak boleh saling menyalahkan.
|
5
|
|
|
13
|
Berbahasa
Indonesia yang baik dan benar
|
5
|
|
|
14
|
Tidak
boleh ada coret-coret ditembok, kursi, meja tulis maupun di papan tulis,
bahkan melempar bangunan
|
10
|
|
|
15
|
Dilarang
terlibat dalam tawuran atau perkelahian dengan teman satu sekolah atau
sekolah lain
|
10
|
|
Sumber
sekolah MTs LKMD Dessa Sawa (Rabu 24 september 2015)
b). Aturan Full Day
Aturan
full day atau aturan satu hari penuh untuk siswa/siswi belajar merupakan aturan
yang dibuat oleh sekolah MTs LKMD Sawa yang mempunyai tujuan untuk membina,
mendidik dengan maksud bahwa meminimalisir jam bermain siswa di luar jam
sekolah. Jam 7 pagi siswa masuk sekolah dan pulang sekolah jam 5 soreh. Selama
11 jam siswa belajar di sekolah.
Sebelum
aturan sekolah diterapkan, pihak sekolah mensosialisasikan aturan sekolah
sistem point dan full day terhadap masyarakat (orang tua murid). Ketika proses
sosialisasi berlanggsung orang tua murid sangat setuju dan memberikan apresiasi
terhadap pihak sekolah. Namun realisasi dari proses ini berjalan terjadi banyak
kontrafersi terhadap aturan sekolah yang berlanggsung.
1.
Aturan
yang diterapan oleh sekolah MTs jauh lebih bagus di banding skolah laeng nona,
kenapa demikian bapa bilang bagitu.? Alasannya skolah MTs inikan skolah agama
Islam supaya nama baik dari sekolah itu ada dan di lihat baik oleh masyarakat
maka harus ada kebijakan yang guru-guru buat salah satunya aturan sekolah itu.
(hasil wawancara dengan Bapak Husen Mukadar 56 tahun)
2.
Tidak
jadi masalah kalau sekolah MTs buat aturan apa saja yang penting akan bae.
Terlebih khusus aturan POINT dengan FULL DAY yang sekolah buat itu, supaya akan
bentuk ana-ana dong punya karakter itu. (hasil wawancara dengan Ibu
Rahima Buton 39 tahun)
3.
Katong
pung ana-ana zaman skarang inikan ana-ana manja, jadi dong terlalu buat dong
punya mau-mau lae. Contoh saja bapa ana laki-laki di rumah itu waktu belum
sekolah di MTs kenakalan luar biasa sampe tegur deng rotan mar sama saja. Tapi
ketika dia skolah di MTs perubahan paling jauh skali. (hasil wawancara dengan Ibu
Sani Buton 35 Tahun)
4.
Sebagai
orang tua katong selalu mendukung apa yang terbaik buat ktong pung anak-anak,
katong surasa sanang katong pung anak bisa skolah disekolah agama, tapi setelah
pergantian kepala sekolah ini, samua dong pung peraturan dong ganti akang, deng
yang beta lia anak-anak ini kaya tambah nakal karena sekolah pung peraturan
yang suka suru-suru siswa pulang Cuma karana dong terlamabt atau lupa bawa
salah satu peralatan sekolah saja dong seng dapa ijin ikut pelajaran, akhirnya
jadi kebiasaan par dong. (hasil wawancara dengan Ibu
Nur Umasugi 45 tahun)
5.
Sekolah
MTs. LKMD itu kalu menurut pribadi beta akang su cukup bagus, beta sangat
bangga deng yayasan yang sukasih bangun akang sekolah ini, tapi yang bikin beta
seng suka sakarang ini dia pung peraturan yang talalu berlebihan, setidanya
kepala sekolahdong bikin pertauran yang sesuai deng katong pung anak-anak puang
watak, katong pung anak-anak ini didikan yang baik aja masi susa
par dong tarima apalagi
susampe bagitu, beta pung anak ini berkali-kali melanggar peraturan deng poin,
biar katong kasi ingat, suru, tapi sama
saja bagimana Cuma dapa suru pulang saja tar dapa pukul, ini anak malauku bukan
orang jawa, ujung-ujungnya beta anak minta pindah sekolah deng alasan poin su
banya,nati dong malu kalu dpa kasi klaurdari sekolah,padahal aturanya sekolah
itu tidak bisa kasi keluar siswa begitu saja karana sekolah ini suatu lembaga
pendidikan yang dilindugi
pemerintah,Cuma dalam sosialisasi peraturan pihak sekolah tidak
memberikan keteragan semacam itu. (hasil wawancara dengan Ibu
Maryam Suamole 42 tahun).
6.
Aturan
sih aturan to nona. Tapi apa yang terjadi coba, pihak sekolah dong seng lia
situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat. Ana-ana inikan ana-ana Maluku
bukan jawa ketika di kasih aturan dong cuek e, makanya ujung-ujungnya dong
jadikan sebagai kebiasaan. (hasil wawancara dengan Bapak
Karim Kalidupa 46 tahun)
7.
Terhadap
aturan sekolah yang dibuat, beta sebagai peserta didik sangat mendukung kaka,
alasanya bahwa dampak positifnya itu lebih besar dari pada dampak negatif (hasil
wawancara dengan Saudara Ajis, 14 thn)
8. Kaka
lihat saja bagaimana dengan perkembangan siswa/siswi sekarang ketika sebelum
dan sesudah aturan ini diterapkan, katong punya kemampuan jauh lebih bagus
ketika ada aturan ini (hasil wawancara dengan saudari Dian
Ode, 16 thn)
9.
Sebenarnya aturan ini bagus namun yang baut beta tidak
suka terlalu lat katong pulang, kasihan tidak ada orang yang bantu katong pu
orang tua jadi beta sering buat atau kenal masalah itu sering bolos untuk bantu
mama (hasil wawancara dengan Sauadar Muis
Buton, 15 thn).
10. Aturan
ini buat katong tidak punya waktu yang cukup bersama-sama dengan orang tua, dan
kondisi katong beda-beda makanya beta keluar dari sekolah kaka. (hasil
wawancara dengan Saudari Marni Buton, 17 thn).
11. Sebenarnya siswa harus memahami
dulu aturan yang sebenarnya itu apa. Kami dari pihak sekolah sangat
menginginkan yang baik bagi peserta didik, makanya katong buat aturan sistem
point dan full day supaya melatih siswa/siswi itu sendiri, tapi terkadang salah
sediki saja orang tua jadikan sebagai konflik Antara orang tua dengan guru
(hasil wawancara dengan Kepala Sekolah Bapak. La Umini, 51thn)
Terhadap
penjelasan informan diatas bahwa secara universal metode pembelajaran atau aturan
sekolah sistem point dan full day merupakan aturan yang baik, aturan yang dibuat
untuk mengembangkan dan membina peserta didik. Namun disisi lain terjadi
kontrafersi dalam masyarakat terhadap aturan yang ada. Ada masyarakat yang
setuju dengan aturan sekolah tersebut dan juga masyarkat yang tidak setuju
dengan aturan yang ada.Karena berbagai pertimbangan. Pada prinsipnya masyarakat
maupun peserta didikk yang setuju dengan aturan yang ada mempunyai pemahaman
bahwa aturan yang dibuat sangat bermanfaat dan berguna bagi massa depan anak.
Sementara masyarakat maupun peserta didik yang tidak setuju dengan aturan
sekolah ialah lebih mengedepankan bersama dengan orang keluarga untuk saling
membantu dalam pekerjaan sehingga ada kemudahan dalam menyelasaikan pekerjaan
dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh Max
Weber bahwa Tindakan sosial terjadi ketika individu melekatkan makna subjektif
pada tindakan mereka.Berdasarkan
analisa masyarakat terhadap aturan sekolah yang diterapkan W.J.Thomas memberi batasan bahwa sikap sosial sebagai
suatu kesadaran individu yang menentukan
perilaku yang nyata ataupun yang mungkin
terjadi di dalam kegiatan sosial. (Abu Ahmadi : 2002).
Menurut
Zimbardo dan Ebbesen : Sikap sosial adalah
suatu predisposisi (keadaaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang,
ide, atau obyek yang berisi komponen kognitif, affektif
dan behavior. Kognitif berhubungan
dengan gejala fikiran dan afektif berhubungan dengan gejala perasaan dan konatif proses tendensi/kecenderungan berbuat pada
sesuatu obyek. Masyarakat muda
terpengaruh dengan situasi sosial yang terjadi sehingga cenderung melangkah
dengan emosional.
Dampak
dari perubahan sistem belajar yang mempengaruhi masyarakat terlihat begitu
jelas ketika terjadi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi selama
sekolah Madrasah Tsanawiyah didirikan, yaitu keluarnya siswa dari sekolah
dengan jumlah yang cukup banyak, terjadinya konflik anatara orang tua dan guru,
berubahnya perilaku siswa yang baik menjadi buruk akibat adanya penekanan
peraturan yang begitu keras, dari hasil pengamatan dan wawancara dengan
beberapa masyarakat menunjukan bahwa besarnya pengaruh sistem belajar di
sekolah MTs LKMD di atas, hal ini terjadi beberapa gejala sebagai berikut :
1. Sosialisai
pergantian peraturan yang sering dilakukan oleh pihak sekolah, hal yang
disampaikan kepada orang tua menyangkut peraturan tidak sesuai dengan kenyataan
yang sebenarnya
2. Peraturan
yang dilakukan oleh pihak sekolah yang dikondisikan dengan jiwa siswa yang masi
labil, justru membuat sebagian siswa berubah menjadi peribadi yang buruk akibat
adanya penekanan yang kuat dari pihak sekolah.
3. Peraturan
yang dibuat oleh pihak sekolah bukan hanya mempengaruhi pribadi siswa/siswi
tetapi juga mempengaruhi pribadi masyarakat terutama orang tua siswa/siswi.
4. Dengan
adanya peraturan baru yang dilakukan oleh pihak sekolah justru menyebabakan
terjadinya pergeseran jarak kerja sama antar orang tua dan pihak sekolah maupun
masyarakat pada umunya.
Dalam
kehidupan masyarakat selalu mengalami sebuah dinamika perubahan yang dapat
menjadikan kehidupan masyarakat itu baik atau buruk dan sebaliknya. Hal ini
pula yang mendorong berbagai pola perubahan dalam masyarakat seperti salah satu
sistem belajar yang digunakan sekolah Madrasah Tsanawiyah Desa Sawa setiap
pergantian kepala sekolah, perubaha-perubahan sistem belajar dan peraturan yang
dilakukan oleh pihak sekolah tentunya sangat mempengaruhi pihak sekolah atau
siswa maupun masyarakat Desa Sawa sendiri.
Sebagai
satu-satunya sekolah agama yang ada di Desa Sawa. Sekolah Madrasah Tsanawiyah
ini mendapat dukungan yang sangat baik dari masyarakat desa, harapan yang begitu besar
dari masyarakat agar sekolah agama ini dapat merubah ahlak dari anak-anak yang
ada di desa ini dengan baik, namun seiring berjalanya waktu sebuah dukungan
yang awalnyan sangat baik berubah menjadi sebuah keraguan bahkan kebencian.
Adapun perubahan yang terjadi dapat membawah perubahan yang tidak menarik dalam
arti kurang mencolok bagi siswa/siswi maupun masyarakat.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan yang telah diuraikan Analisis
Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan
Lilialy Kabupaten Buru Utara” maka dapat diberikan kesimpulan sebagai
berikut :
1. Sekolah
MTs. LKMD Sawa merupakan sekolah swasta yang berstatus agama Islam dan
mempunyai aturan sistem point dan full day.
2. Sistem
point merupakan aturan yang diterapkan oleh sekolah dan apabila ada peserta
didik yang melanggarnya diberikan sanksi nonfisik yaitu peserta didik tidak di
perkenankan ikut jam belajar, sementara full day peserta didik diwajibkan untuk
mengikuti pelajaran selama satu hari penuh sehingga jam bermain peserta didik
di kurangkan dan jam belajar di perbanyak.
3. Analisa
masyarakat terhadap aturan sekolah MTs. LKMD Sawa ada dua hal yang menarik, pertama, masyarakat setuju dengan aturan
sekolah, dua masyarakat tidak setuju
dengan aturan sekolah.
B.
SARAN
1. Kepada
pemerintah kecamatan dan pemerintah Desa Sawa sehingga adanya kerja sama antar
lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan.
2. Perlu
adanya kerja sama masyarakat dengan pihak sekolah MTs. LKMD Sawa agar dapat
memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan anak.
3. Diharapkan
agar kebijakan sekolah MTs dapat melihat situasi dan kondisi yang terjadi di
lingkungan sekolah maupun masyarakat dalam kaitannya dengan siswa/siswi serta
dukungan penuh dari orang tua murid terhadap pendidikan anak di sekolah.
Daftar Pustaka
Abin, S. Makmun, dkk. Perencanaan
Pembangunan Pendidikan. Jakarta. Depdiknas 2001.
Arianto Sam. Sahabat Bersama.[Online]. Tersedia:http://kumpulblogger.com
[1 April 2012]
Atmadi, A dan Setiyaningsih (Ed).
Transformasi Pendidikan, Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta. Universitas
Sanata Dharma. 2000.
Darajat Zakiyah, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008
Hamalik.Oemar.Perencanaan Pengajaran Berdasarkan
Pendekatan Sistem. Jakarta, PT Bumi Aksara. 2011.
Hanani.Silfia.Sosiologi Pendidikan Keindonesiaan. Jogjakarta,
AR-RUZZ MEIA. 2013
I. L. Pasaribu dan B. Simandjuntak.Metode Belajar dan Kesulitan
Belajar.Bandung : Tarsito. 1983.
M.Ed.
Idi. Prof. Dr. H. Abdullah. Sosiologi
Pendidikan; Individu, Masyarakat dan Pendidikan. Jakarta, PT. JayaGrafindo
Persada, 2013
Qomar,
Mujamil. Kesadaran Pendidikan Sebuah
Penentu Keberhasilan Pendidikan.Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2012
Ritzer,
George. Teori Sosiologi : Edisi Kedelapan.
Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2012.
Soekanto.Soerjono.Sosiologi Suatu Pengantar _ Sosiologi
Keluarga: tentang ikhwal keluarga, remaja dan anak. Jakarta, PT. Raja
Grafindo Persada, 1982
Soetjipto
dan Raflis Kosasi. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka
Cipta. 2009.
Subagyo.P.
Joko S.H. Meode Penelitian Dalam Teori
dan Praktik.Jakarta, Rineka Cipta,2011
Sardiman,
A.M Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2009.
Suharsimi
Arikunto). Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . 2002
Sukardi.Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di
Sekolah.Bandung : Usaha Nasional. 2003.
Sztompaka.Piotr.Sosiologi Perubahan Sosial.Jakarta,
Pernada Media Group, 2011.
____,
2003, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Depdiknas. Jakarta.
Langgulung,
H., 1992. Asas-asas Pendidikan Islam. Pustaka Al Husna. Jakarta
Soenarya, E. 2000. Pengantar Teori
Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Adicita. Yogyakarta
http://rian-priyadi.blogspot.com/2012/09/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html
http://sekolahtunasmuda.com/tunasmuda/orang-tua-peran-utama-dalam-pendidikkan-putra-putrinya/
http://www.fokuspadakeluarga.cc/index.php/component/content/article/36-artikel/114-peran-keluarga-dalam-mendidik-anak-
https://drarifin.wordpress.com/2010/07/15/konsep-perencanaan-pendekatan-dan-model-perencanaan-pendidikan/