bab i
pendahuluan
A.
Latar
Belakang Masalah
Penggunaan Bahasa yang benar menurut kaidah Ejaan
Bahasa Indonesia (EBI) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
hal tulis-menulis. Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah sintaksis,
kaidah makna, kaidah hubungan sosial, dan kaidah mengarang. Kaidah-kaidah ini
sering mendukung sehingga tulisan menjadi lebih berstruktur dan bernilai, serta
lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Namun pada kenyataannya, masih banyak
kesalahan pada penggunaan ejaan.
Bahasa tulis memiliki karakteristik berbeda dengan
karakteristik bahasa lisan. Dalam bahasa lisan orang akan lebih mudah untuk
memahami maksud penutur pengucapannya, hal ini dikarenakan adanya intonasi pada
pengucapan kalimat- kalimat yang dituturkan, sedangkan dalam bahasa tulis,
penulis hendaknya menguasai tata cara penulisan termasuk di dalamnya tanda baca
sebagai intonasi atau jeda dalam tulisan agar tulisannya mudah untuk dipahami.
Ucapan lisan agak sulit untuk dituangkan ke dalam tulisan karena segala
intonasi yang terdapat dalam bahasa lisan itu akan sukar untuk diungkapkan
dalam bahasa tulisan. Untuk menutupi kesukaran itulah tanda baca sangat
dibutuhkan sebagai kunci atas apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepada
pembaca.
Bahasa Indonesia ragam tulis digunakan baik dalam
tulisan tidak resmi maupun dalam tulisan resmi. Dalam tulisan tidak resmi,
seperti surat dan catatan pribadi, penggunaan kalimat yang teratur dan lengkap
serta penggunaan ejaan yang cermat tidak selalu diperlukan. Akan tetapi, dalam
tulisan resmi, seperti: buku pelajaran,
surat dinas, dan laporan, penggunaan kalimat yang teratur dan lengkap serta
penggunaan ejaan yang cermat diperlukan. Keteraturan dan kelengkapan kalimat
serta ejaan dalam sebuah tulisan dapat mengungkapkan gagasan atau pikiran yang
jelas (Efendi, 1995; 10). Kejelasan gagasan dalam sebuah tulisan akan
memudahkan pembaca memahami tulisan itu.
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di
dalam bahasa tulis agar kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis
yang kita maksudkan (Chaer, 2006:71). Oleh karena itu, tanda baca sangat
penting agar kalimat dalam suatu paragraf mudah dipahami sehingga tidak terjadi
kesalahan makna yang disampaikan oleh penulis.
Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon, terdapat
kesalahan mahasiswa dalam menyusun tugas akhirnya yaitu skripsi. Dalam
penulisan skripsi kebanyakan penulis dalam menulis skripsi masih terdapat
banyak kesalahan dalam bentuk pengunaan pungtuasi atau tanda baca. Kesalahan
dalam penerapan tanda baca yang sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)
merupakan salah satu faktor signifikan dalam mengartikan, memaknai sebua
tulisan yang ditulis oleh penulis. Salah satunya ditemui kesalahan pada
pengunaan tanda baca Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon. Kesalahan ini sangat
perlu diperhatikan agar nantinya tidak terjadi kesalahan seterusnya sehingga
penelitian ini berjudul “Kesalahan Penggunaan Pungtuasi pada Penulisan Skripsi
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pattimura Ambon”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah kesalahan penggunaan pungtuasi pada
penulisan skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon ?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu
: Untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan pungtuasi pada penulisan skripsi Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.
D.
Manfaat
Penelitian
1.Manfaat Teoritis
Penelitian
ini secara teoritis diharapkan dapat digunakan sebagai referensi ilmiah untuk
menambah pengetahuan dan wawasan tentang penulisan dan penempatan pungtuasi dalam penyusunan skripsi
dan secara praktis dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun para pembaca.
2.Manfaat Praktis
Secara praktis
penelitian ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lebih teliti dalam mengunakan
pungtuasi pada penulisan skripsi. Bagi peneliti sebagai landasan untuk
dijadikan sebagai bahan kajian penelitian lebih lanjut yang ada kaitannya
dengan metode pembelajaran dalam penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Ejaan
1. Ejaan
Arifin (2008:164) Ejaan adalah keseluruhan peraturan
bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara
lambang-lambang itu (pemisahan dan penggambungannya dalam suatu bahasa). Secara
teknis, yang dimaksud dengan ejaan ialah Ejaan Bahasa Indonesia ini meliputi,
yaitu (a) pemakaian huruf, (b) penulisan kata, (c) pemakaian tanda baca, dan
(d) penulisan unsur serapan.
2. Pemakaian Huruf
Pemakaian huruf dalam ejaan yang disempurnakan dalam
bahasa Indonesia terdiri atas pemakaian huruf abjad, huruf vokal, huruf
konsonan, huruf diftong, dan gabungan huruf konsonan. Pemakaian huruf tersebut
disesuaikan dengan fungsinya.
Pemakaian huruf abjad dalam bahasa Indonesia terdiri
atas 26 huruf, yaitu dari huruf A-Z. Sementara itu, pemakaian huruf yang
melambangkan vokal dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u. Pemakaian huruf vocal dalam ejaan bahasa Indonesia dapat
diungkapkan dari awal, tengah, dan akhir kata, misalnya pada kata api, padi, lusa, enak, petak, sore, simpan,
murni, kota, radio, ulang, ibu, dan sebagainya.
Huruf yang melambangkan konsonan dalam ejaan bahasa
Indonesia terdiri atas 21 huruf. Pemakaian huruf konsonan dalam ejaan bahasa
Indonesia juga digunakan pada awal, tengah, dan akhir kata, seperti pada kata bahasa, kaca, tiga, balig, dan
lain-lain.
Huruf diftong dalam bahasa Indonesia dilambangkan
dengan ai, au, dan oi. Pemakaian huruf diftong digunakan di
awal, tengah, dan akhir kata, contoh pada kata syaitan, pandai, aula, saudara, harimau, boikot, amboi, dan
sebagainya.
Dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf
yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Pemakaian
gabungan konsonan tersebut dapat dipakai pada awal, tengah, maupun akhir kata,
seperti pada kata khusus, akhir, ngilu, bangun, senang, nyata, hanyut, syarat, isyarat, dan lain sebagainya.
3. Penulisan Kata
Hal-hal yang diuraikan dalam penulisan kata ini
menyangkut petunjuk bagaimana menuliskan kata dasar, kata turunan, bentuk
ulang, gabungan kata, kata ganti –ku,
-kau, -mu, dan –nya kata depan di, ke, dan dari, kata si dan sang partikel, singkatan dan akronim,
angka dan lambang bilangan.
a
Kata dasar ialah berupa kata dasar yang
ditulis sebagai satu kesatuan, misalnya Ibu percaya bahwa engkau tahu.
b
Kata turunan dibagi dalam beberapa
bentuk penulisan, yaitu (1) imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis
serangkai dengan dasarnya, (2) jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan,
atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang berlangsung mengikuti dan
mendahuluinya, (3) jika gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,
maka unsur gabungan itu ditulis serangkai, (4) jika salah satu unsur gabungan
kata hanya dipakai dalam kombinasi, maka gabungan kata itu ditulis serangkai.
c
Bentuk ulang ialah bentuk pengulangan
kata yang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, misalnya kata
hati-hati, anak-anak, mata-mata, dan lain-lain.
d
Gabungan kata terdiri atas (1) gabungan
kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya
ditulis terpisah, (2) gabungan kata termasuk istilah khusus yang menimbulkan
kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda penghubung untuk menegaskan
pertalian di antara unsur yang bersangkutan, dan (3) gabungan kata yang ditulis
serangkai, seperti acapkali, adakalanya, beasiswa, saripati, olahraga, dan
lain-lain.
e
Kata ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya
ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya atau ditulis serangkai dengan
kata yang mendahuluinya.
f
Kata depan di, ke, dan dari ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah
lazim dianggap sebagi satu kata seperti kepada
dan daripada.
g
Kata si
dan sang ditulis terpisah dari
kata yang mengikutinya.
h
Partikel terdiri atas lima partikel,
yaitu partikel –lah, -kah, -tah ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya, dan partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’ maupun ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang
mendahului atau mengikutinya.
i
Singkatan dan akronim termasuk dalam hal
yang harus diperhatikan dalam penulisan kata. Singkatan ialah bentuk yang
dipendekan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Sementara itu, akronim
adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun
gabungan huruf dan suku kata dari deretan kata yang diperlakukan sebagai kata,
misalnya ABRI, Akabri, Pemilu, dan lain sebagainya.
j
Angka dan lambang bilangan, digunakan
untuk menyatakan lambang bilangan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf
kecuali jika beberapa lambang bilangan digunakan secara berurutan, seperti
pemaparan dan perincian.
4. Pemakaian Tanda Baca
Tanda baca adalah tanda yang digunakan pada setiap
karangan yaitu tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda tanya,
tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elips, dan tanda garis
miring. Sedangkan tanda baca menurut (Aning, 2011:55-80) dibagi menjadi 15
tanda baca, yaitu tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda
titik dua (:), tanda hubung (-), tanda pisah (-), tanda Tanya (?), tanda seru
(!), tanda ellips (…), tanda petik (“”), tanda petik tunggal („‟), tanda kurung
(()), tanda kurung siku ([]), tanda garis maring (/), tanda penyingkat atau
apostof („). Dalam setiap karangan sudah pasti terdapat tanda baca tetapi dari
15 tanda baca tersebut belum tentu semuanya digunakan dalam penulisan skripsi.
Berikut ini akan diuraikan sedikit mengenai
pemakaian tanda baca.
a
Tanda titik (.) dipakai untuk: (1) akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau
seruan, (2) di belakang angka atau huruf dalam satu bagan, iktisar, atau
daftar, (3) memisahkan angka, jam, menit, dan menunjukan waktu, (4) di antara
nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda Tanya atau tanda
seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka, (5) memisahkan bilangan ribuan
atau kelipatannya, dan tanda titik tidak dipakai
pada akhir judul yang merupakan karangan atau kepala ilustrasi, tabel, alamat
pengirim dan tanggal surat, maupun alamat penerima surat.
b
Tanda koma (,) dipakai (1) di antara
unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan, (2) untuk memisahkan
kalimat majemuk setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului
kata seperti tetapi atau melaikan, (3) untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya,
(4) di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada
awal kalimat, termasuk oleh karena itu,
jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan
tetapi, (5) untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata lain yang terdapat di dalam
kalimat, (6) di antara nama, alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal,
nama tempat dan wilayah yang ditulis berurutan, (7) untuk menceritakan bagian
nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka, (8) di antara bagian-bagian
dalam catatan kaki, (9) di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga,
(10) di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka, (11) untuk mengapit
keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi, (12) untuk menghindari salah
baca.
c
Tanda titik koma (;) dipakai (1) untuk
memisahkan bagian-bagian kalimat sejenis dan setara, (2) sebagai pengganti
tanda penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
d
Tanda titik dua (:) dipakai (1) pada
akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian, (2)
sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian, (3) dalam teks drama
sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan, (4) di antara jilid nomor
dan halaman, bab dan ayat dalam kitab suci, judul dan anak judul karangan,
serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
e
Tanda hubung (-) digunakan untuk
menyambung suku-suku kata dasar dan awal bagian kata dibelakangnya dengan kata
didepannya pada pergantian baris, menyambung unsur-unsur kata ulang,
menyambunng huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian tanggal, untuk merangkai
se- dengan kata yang dimulai huruf
kapital, ke-, dengan angka, angka dengan
–an, dan lain-lain.
f
Tanda pisah (-) dipakai untuk membatasi
penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat,
menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat
menjadi lebih jelas, dan di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti
‘sampai’.
g
Tanda ellipsis (…) digunakan dalam
kalimat terputus-putus dan menunjukan bahwa dalam suatu kalimat ada
bagian-bagian yang dihilangkan.
h
Tanda tanya (?) dipakai dalam akhir
kalimat tanya dan di dalam tanda kurung untuk menyatakan kalimat yang
disangsikan atau kurang dapat dibuktikan.
i
Tanda seru (!) dipakai sesudah
pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ataupun rasa egosi yang kuat.
j
Tanda kurung ((…)) dipakai untuk (1)
mengapit keterangan atau penjelasan tambahan, (2) mengapit keterangan atau
penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan, (3) mengapit huruf
atau teks yang dapat dihilangkan, dan (4) mengapit angka atau huruf yang
merinci satu urutan keterangan.
k
Tanda kurung siku ([…]) dipakai untuk
mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
l
Tanda petik (“…”) digunakan untuk
mengapit (1) petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau
bahan tertulis lain, (2) judul dan naskah, karangan, atau bab buku yang dipakai
dalam kalimat, (3) istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai
arti khusus.
m
Tanda petik tunggal (‘…’) digunakan
untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain dan mengapit makna,
terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing.
n
Tanda miring (/) dipakai dalam nomor
surat, alamat, dan penandaan masa tahun yang terbagi dalam tahun takwin. Selain
itu, tanda miring juga dipakai sebagai pengganti sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
o
Tanda penyingkatan atau apostrof (‘)
menunjukan penghilangan bagian kata atau angka bagian dari angka tahun.
a) Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa
Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah
maupun dari bahasa asing seperti Sansakerta, Arab, Portugis, Belanda, atau
Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia,
seperti reshuffle, shuttle clock. Unsur-unsur
ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapan masih mengikuti
cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan
dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti crystal
(kristal), central (sentral), check (cek), effeck (efek). Unsurunsur ini dipakai dalam konteks bahasa
Indonesia dengan mengubah ejaan seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya
masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya
5. Fungsi Ejaan
Dalam rangka menunjang pembakuan
bahasa, baik yang menyangkut pembakuan tata bahasa maupun kosa kata dan
peristilahan, ejaan mempunyai fungsi yang cukup penting. Oleh karena itu,
pembakuan ejaan perlu diberi prioritas lebih dahulu. Dalam hubungan itu, ejaan,
antara lain, berfungsi sebagai :
1.
Landasan pembakuan tata bahasa.
2.
Landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
3. Alat
penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
Di samping ketiga fungsi yang telah
disebutkan di atas, ejaan sebenarnya juga mempunyai fungsi yang lain. Secara
praktis, ejaan berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna
informasi yang disampaikan secara tertulis. Dalam hal ini fungsi praktis itu
dapat dicapai jika segala ketentuan yang terdapat di dalam kaidah telah
diterapkan dengan baik.
Azwardi
(2008: 15) menyatakan fungsi ejaan adalah sebagai landasan pembakuan tata
bahasa, landasan pembakuan kosakata dan peristilahan, dan juga sebagai alat
penyaring masuknya unsurunsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Selain
itu, secara praktis, ejaan berfungsi untuk membantu pembaca dalam memahami dan
mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.
B.
Penggunaan
KesalahanPenempatan
Pungtuasi
Mengenai pengertian ‘analisis’ ada
beberapa ahli memberikan batasan antara lain Hastuti (2003: 19) yang mengatakan
bahwa analisis merupakan suatu penyelidikan yang bertujuan menemukan inti
permasalahan, kemudian dikupas dari berbagai segi, dikritik, dikomentari, kemudian
disimpulkan. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2008: 58) analisis adalah penyelidikan terhadap peristiwa
(karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan sebenarnya (sebab-musabab,
duduk perkaranya, dsb). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis
adalah suatu penyelidikan (pemeriksaan) terhadap suatu objek untuk mengetahui
(menentukan) permasalahan atau unsur-unsur yang sesuai dengan tujuan, kemudian
dikupas, diberi ulasan, dan disimpulkan agar dapat dimengerti bagaimana duduk
permasalahannya.
Selanjutnya mengenai pengertian
‘kesalahan’ Hastuti (2003: 17) melawankan kata ‘salah’ dengan ‘betul’, maksudnya
kata ‘salah’ berarti tidak betul, tidak menurut aturan yang telah ditetapkan.
Kesalahan itu dapat disebabkan karena ketidaktahuan/kekhilafan jika dihubungkan
dengan pemakaian kata. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2005) kesalahan adalah kekeliruan atau kealpaan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesalahan adalah penyimpangan terhadap kaidah
(norma) atau aturan yang telah ditentukan.
Bahasa terdiri dari dua aspek yaitu
aspek bentuk dan aspek makna. Aspek bentuk dapat dibagi lagi
menjadi dua bagian yang besar yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental.
Unsur segmental yaitu unsur Bahasa yang dapat dibagi-bagi atas bagian-bagian
yang lebih kecil yang meliputi; fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat,
dan wacana. Sebaliknya unsur suprasegmental adalah unsur Bahasa yang
kehadirannya tergantung dari kehadirian unsur segmental, yang terdiri dari
tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang, dan dalam bentuk yang
lebih luas dikenal sebagai intonasi. Pada tahap-tahap inilah seorang penulis
harus memperhatikan pungtuasi. Sebab pungtuasi dibuat berdasarkan dua hal utama
yang saling melengkapi, yaitu unsur suprasegmental dan unsur sitaksis. Unsur
sintaksis yang erat hubungannya tidak boleh dipisahkan dengan tanda-tanda baca
dan unsur sintaksis yang tidak erat hubungannya harus dipisahkan dengan tanda
baca.
Kesalahan-kesalahan penulisan dan
penempatan pungtuasi yang dilakukan oleh mahasiswa pada sebuah tulisan
bermacam-macam. Bahasa Indonesia mempunyai karakteristik sendiri dan dalam
perkembangannya ada beberapa komponen yang belum dibakukan, yaitu komponen
lafal. Sementara itu, yang telah dibakukan pertama ialah komponen ortografi
(ilmu ejaan), tata bahasa (morfologi dan sintaksis), kemudian leksikon
(Hastuti, 2003: 84). Dari beberapa macam kesalahan-kesalahan berbahasa
tersebut, penelitian ini akan menganalisis kesalahan ortografi (ilmu ejaan)
dengan memperhatikan ejaan yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
BAB III
metode penelitian
A. RancanganPenelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2006: 4) mengatakan
bahwa pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif dipilih karena masalah yang
diteliti berupa data (skripsi) yang lebih tepatnya dijelaskan dengan
menggunakan kata-kata. Jadi, dalam penelitian ini peneliti
mendeskripsikanpengunaan pungtuasi dalam skripsi, mahasiswa Program
Studi Pendidikan Bahasa dan SastraIndonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.
Menurut Bongdan dan
Biklen (dalam Maleong, 2008:8-11 ) penelitian kualitatif setidak-tidaknya
mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1.
Data bersifat alamiah(natural setting) dalam hal ini data
alami tetap berkaitan sepenunya dengan konteks, dengan sendirinya unsur-unsur
yang terkait dengan konteks misalnya tindakan, ucapan, dan gerak isyarat tidak
diabaikan dengan penelitian ini, supaya peneliti tidak kehilangan segala
kepentingan yang berhubungann dengan konteks tersebut.
2.
Manusia sebagai instrumen penelitian.
Dalam konteks hal ini manusia bermamfaat untuk menangkap makna dan nilai-nilai
lokal yang berbeda. Manusia dikatakan sebagai instrument penelitian sebab ia
merupakan perencana, pelaksana, pengumpulan data, dan pada akhirnya ia menjadi
pelopor hasil peneliitian.
3.
Dalam
penelitian kualitatif diusahakan pengumpulan data secara deskriptif yang
kemudian ditulis dalam laporan. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa
kata-kata, gambar, dan bukan angka.
4.
Analisis datanya cenderung bersifat
induktif hal ini dilakukan agar mempermudah mendeskripsikan konteks yang muncul
setelah peneliti sebelumnya melakukan abstraksiyang disusun berdasarkan
bukti-bukti yang terkumpul.
5. Lebih
mementingkan proses dari pada hasil. Penelitian kualitatif lebih banyak
mementingkan segi proses dari pada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan
bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam
proses.
B. Sumber
Data
1.Data
Data
penelitian ini diambil dari skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia FKIP Universitas Pattimura Ambon di perpustakaan FKIP yang akan
diamati oleh penulis berupa pengamatan
terhadap kesalahan penggunaan pungtuasi dalam penulisan
skripsi,
mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP
Universitas Pattimura Ambon.
2.Sumber Data
Sumber data penelitian ini merupakan sumber data
sekunder yang diambil dari skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura Ambon, dengan data sebagai
berikut:
1.
Judiana E. Rieuwpassa (2011-35-076)
Peningkatan
kemampuan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL).
2. Ede
R. Kuhumarua (2012-35-031)
Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda
Baca Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Ambon.
C. Lokasi
Penelitian
Lokasi penelitian ini pada ruang bacaProgram
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.
D. Teknik
Pengumpulan Data
1.Teknik baca
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik baca. Teknik baca yang
dilakukan adalah membaca secara berulang dan cermat skripsi mahasiswa Program
Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon yang telah dipilih. Pembacaan disesuaikan dengan
tujuan penelitian, sedangkan yang tidak berhubungan dengan penelitian ini
diabaikan.
2.Teknik catat
Taknik
catat ini digunakan untuk mengungkapkan suatu permasalahan yang terdapat dalam
suatu bacaan atau wacana (Sudaryanto, 2001: 41). Sebelum dilakukan pencatatan,
terlebih dahulu dilakukan pencatatan data pada kartu data, kemudian kartu data
tersebut dikategorikan menurut kriteria kesalahan ejaan. Data yang terkumpul,
kemudian dianalisis dan dideskripsikan.
Setelah
dianalisis dan dideskripsikan, selanjutnya kesalahan yang telah ditemukan
tersebut dibetulkan. Pembetulan kesalahan dalam penelitian ini bersifat
parsial. Artinya, pembetulan hanya pada bagian yang berkaitan dengan
penelitian, yaitu berupa ejaan tertentu yang dibatasi pada kesalahan penggunaan
tanda baca.
E. Instrument
Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data ini adalah menggunakan human instrument yaitu peneliti sendiri.
Peneliti sebagai pelaksana yang akan mengumpulkan data, menganalisis, dan
sekaligus membuat kesimpulan. Pengetahuan peneliti tentang ejaan menjadi alat
penting dalam penelitian ini. Dalam hal ini, peneliti menentukan
kriteria-kriteria kesalahan ejaan dalam skripsi mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon. Dengan menggunakan kriteria tersebut, peneliti
akan menganalisis kesalahan penggunaan tanda baca, meliputi tanda titik (.),
tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda titik koma (;), tanda hubung (-),
tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung ((…)), tanda petik (“…”), tanda
petik tunggal (‘…’), dan tanda garis miring (/).
Dalam penelitian ini, peneliti dibantu dengan
menggunakan alat bantu yang berupa kartu data. Kartu ini dibuat dari kertas HVS
warna yang berukuran 8cm x 8cm. Kartu ini berfungsi untuk mempermudah
menganalisis data kesalahan yang terjadi. Kartu data ini berisi nama skripsi,
nomor halaman, nomor paragraf, dan nomor kalimat dalam paragraf yang diambil.
Selanjutnya juga ditentukan jenis kesalahan (JK), dilanjutkan jawaban yang
benar. Adapun format kartu data tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 1 : Tabel kartu data
|
Kartu Data
|
|
|
NO
:
|
|
|
Kutipan
:
|
|
F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan upaya peneliti menagani
langsung masalah yang terkandung dalam data (Sudaryanto, 2001: 3-6). Penanganan
itu tampak dari adanya tindakan mengamati, membedah, atau mengurangi, dan
menguraikan masalah yang bersangkutan dengan cara khas tertentu. Cara-cara khas
tertentu yang ditempuh peneliti untuk memahami problematika suatu kebahasaan
yang diangkat sebagai objek penelitian ini disebut metode analisis data
(Sudaryanto, 2001: 57).
Dalam tahap ini, untuk memperoleh deskripsi bentuk
kesalahan ejaan digunakan metode padan dan agih (distribusional). Metode padan
digunakan untuk menganalisis penggunaan
tanda baca( pungtuasi ) dalam bentuk tulisan skripsi mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon.
bab iv
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil
penelitian yang akan disajikan di sini adalah berupa analisis kesalahan ejaan
pada beberapa skripsi mahasiswa Program StudiPendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas
Pattimura Ambon. Jenis kesalahan
ejaannya, yaitu pemakaian tanda baca.
Hasil
skripsi tersebut diidentifikasi berdasarkan jenis kesalahannya. Hasil
identifikasi kesalahan-kesalahan ejaan yang diperoleh, kemudian diolah melalui
teknik kerja analisis data. Data yang diperoleh dengan teknik membaca tiap
kalimat dan mencatat kalimat yang ejaannya salah, kemudian dimasukkan dalam
kartu data dan dianalisis dengan teknik deskripsi kualitatif.
Berdasarkan
batasan di atas, hasil penelitian kesalahan pemakaian tanda baca pada beberapa
skripsi mahasiswa prodi Pendididkan Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon diperoleh kesalahan sebanyak
209 kesalahan pemakaian tanda baca berjumlah. Berikut ini tabel frekuensi dan
persentase jenis kesalahan ejaan pada skripsi mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Pattimura Ambon
B. Pembahasan
1.Skripsi A
Pembahasan penelitian ini adalah
kesalahan pemakaian tanda baca pada skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon didasarkan pada hasil
analisis.
a. Penggunaan Tanda Titik (.)
Berikut ini data
yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan
tanda baca titik yang tidak tepat.
(15) “…hingga
menjadi suatu kebulatan menurut ukuran-ukuranku.” (A/12/01/03)
(16) “…akan
menghasilkan sumber latihan berpikir yang tiada habisnya.” (A/14/04/03)
Pada kalimat (15) sampai (16) tidak
digunakan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat yang seharusnya dipakai pada
akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Dengan demikian, ejaan yang
sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut.
(15a)
“…hingga menjadi suatu kebulatan menurut ukuran-ukuranku. (1982:80).”
(16a)
“…akan menghasilkan sumber latihan berpikir yang tiada habisnya
(Sayuti, 2003:72).”
b. Penggunaan Tanda Koma (,)
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca koma
(,) yang tidak tepat.
(20)
“Selain itu pendidikan ini juga
bertujuan…” (A/viii/01/02)
(21)
“…yaitu
singkatan, angkronim dan kontraksi.” (B/07/01/08)
(22)
“Penataan prinsip kerja sama terjadi
jika peserta tutur…”(C/02/01/05)
(23)
“…bahasa yang kacau, baik struktur kata,
kalimat maupun penggunaan kata…” (D/03/01/05)
(24)
“…seperti konsultasi kesehatan,
keuangan, keluarga, psikologi bahkan sampai pada,…” (D/03/02/02)
Pada kalimat (20) tidak digunakan tanda
koma yang seharusnya dipakai untuk ungkapan penghubung antar kalimat yang
terdapat pada awal kalimat. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat
(20) adalah sebagai berikut.
(20a) “Selain
itu, pendidikan ini juga bertujuan…”
Pada
kalimat (21) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dalam kalimat ini tanda
baca koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (21) adalah sebagai berikut.
(21a) “…yaitu
singkatan, akronim dan kontraksi.”
Pada
kalimat (22) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dipakai di belakang
kata atau yang menghubungkan antarkalimat. Dengan demikian, ejaan yang sesuai
dengan kalimat (22) adalah sebagai berikut.
(22a) “Penataan
prinsip kerja sama terjadi, jika peserta tutur…”
Pada kalimat (23) dan (24) tidak
digunakan tanda koma yang seharusnya dalam kalimat ini tanda baca koma dipakai
di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Dengan demikian,
ejaan yang sesuai dengan kalimat (27) dan (28) adalah sebagai berikut.
(23a) “…bahasa yang kacau, baik struktur
kata, kalimat, maupun penggunaan kata…”
(24a) “…seperti konsultasi kesehatan,
keuangan, keluarga, psikologi bahkan sampai pada…”
c. Penggunaan Tanda Hubung (-)
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca hubung
(-) yang tidak tepat.
(26)“Cerita terdiri dari peristiwa (events) dan wujud keber-ada-annya
eksistensinya (existents).”
(A/27/02/02)
Pada
kalimat (26) terjadi kesalahan penggunaan tanda hubung yang seharusnya tidak
dipakai pada kata keber-ada-annya karena tanda hubung digunakan untuk
menyambung huruf kata yang dieja satu-satu bukan seperti kata tersebut. Dengan
demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (26) adalah sebagai berikut.
(26a) “Cerita
terdiri dari peristiwa (events) dan
wujud keberadaannya eksistensinya (existents).”
d. Penggunaan Tanda Tanya (?)
Berikut
ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh
penggunaan tanda tanya (?) yang tidak tepat.
(27) Bagaimana
penguasaan bahasa satrawan
sehingga mampu mengikat pembaca. (A/23/02/01)
(28) Apakah
pengarang belajar secara otodidak atau memang ada cara lain. (A/23/02/02)
Pada kalimat (27) sampai (30) tidak
dipakainya tanda tanya setelah akhir kalimat tanya. Dengan demikian, ejaan yang
sesuai dengan kalimat (27) sampai (30) adalah sebagai berikut.
(27a) Bagaimana penguasaan bahasa
satrawan sehingga mampu mengikat pembaca?
(28a) Apakah
pengarang belajar secara otodidak atau memang ada cara lain?
e. Penggunaan Tanda Titik Dua (:)
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda titik dua
(:) yang tidak tepat.
(31)
Model pendekatan yang dikemukakan Ratna
(2004: 55) antara lain pendekatan biografi sastra, sosiologi sastra, dan,…
(A/19/04/01)
(32)
…beberapa bagian karyanya seperti ide
cerita, penokohan, jalan cerita, dan gaya bahasa yang dipakai. (A/31/02/03)
(33)
Variasi tipe definisi tersebut, antara
lain, a)…. (B/93/05/03)
Pada kalimat (31) sampai (33) tidak
dipakainya tanda titik dua pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
rangkaian atau pemerian. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat di
atas adalah sebagai berikut.
(31a) Model
pendekatan yang dikemukakan Ratna (2004: 55) antara lain:
pendekatan
biografi sastra, sosiologi sastra, dan,…
(32a) …, beberapa bagian karyanya seperti: ide
cerita, penokohan, jalan cerita, dan gaya bahasa yang dipakai.
(33a) Variasi
tipe definisi tersebut, antara lain:
a)….
2.Skripsi B
Pembahasan
penelitian ini adalah kesalahan tanda baca pada skripsi mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon telah
ditemukan beberapa kesalahan penggunaan tanda baca, yaitu penggunaan tanda
titik (.) 14 kesalahan; penggunaan tanda koma (,) 33 kesalahan; penggunaan tanda
seru (!) 1 kesalahan; penggunaan tanda hubung (-) 41 kesalahan; penggunaan
tanda titik dua (:) 1 kesalahan; penggunaan tanda garis miring (/) 2 kesalahan.
Berikut
ini adalah pembahasan hasil penelitian kesalahan penggunaan tanda baca
tersebut.
a. Tanda Titik
Berikut
ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh
penggunaan tanda baca titik yang tidak tepat.
(1)…”Hal
ini tentu sangat membanggakan. Bagi siswa, sekolah maupun orang tua (B/01/01/16).
(2)…”Perserta
UN di Kota Ambon mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, Sehingga
ditingkat SMA Kota Ambon menempati peringkat ke-3”.
(3)
“Seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN. Perasaan mereka menjadi takut. Tapi
semenjak adanya perubahan nilai sekolah. Mereka lumayan tenang. “
(4) “Pada tahun 2011- 2012 ini ujian nasional
meningkat lebih baik, daripada sebelumnya. Karna sistem pembelajaran nilai
lebih baik,”
(5)
“Kota Ambon, karena ditahun-tahun sebelumnya Kota Ambon menduduki peringkat
ke-7, diprediksikan hanya beberapa siswa yang tidak lulus berjumlah 9 orang di tingkat
SMA”
(6)
“Kota Ambon, 26 Mei 2012, SMA Negeri 4 menggumumkan hasil kelulusan untuk anak
kelas dua belas.”
(7) “Pada tahun ini tidak hanya SMA Negeri 4 saja
yang mendapatkan kelulusan 100 persen. Ada juga beberapa SMA lainnya yang lulus
dengan 100 persen.”
(8)
“…pada tahun ini rata- rata sekolah lulus 100 persen. Ini merupakan hasil yang
membanggakan.”
(9) “Oleh karena itu, ada baiknya siswa
siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional pada tahun berikutnya lebih
meningkatkan kualitas belajar dan mengurangi waktu bermain. Agar nantinya bisa
mencapai kelulusan 100% dengan nilai yang memuaskan.”
Pada kalimat (1) sampai (3) menggunakan
tanda baca titik (.) pada kalimat yang masih menyambung dengan kalimat
berikutnya. Semestinya menggunakan tanda koma (,) pada kalimat tersebut. Dengan
demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut :
(1a)
“…Hal ini tentu sangat membanggakan bagi siswa, sekolah maupun orang tua.”
(2a)
“Perserta Ujian Nasional di Kota Ambon mengalami sebelumnya, sehingga ditingkat
Sekolah Menengah Atas Kota Ambon menempati peringkat ke-3”.
(3a)
Perasaan seluruh siswa kelas 3 menjadi takut saat mengikuti UN, tapi semenjak
adanya perubahan nilai sekolah sekarang, mereka lumayan tenang.
Pada
kalimat (4) sampai (5) tidak digunakan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat
yang seharusnya di pakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai
berikut :
(4a)
“Pada tahun 2011- 2012 ini ujian nasional meningkat lebih baik daripada
sebelumnya karena sistem pembelajaran nilai lebih baik.”
(5a)
“Karena di tahun-tahun sebelumnya Kota Ambon menduduki peringkat ke-7,
diprediksikan hanya beberapa siswa yang tidak lulus berjumlah 9 orang ditingkat
SMA.”
Pada kalimat (6) tidak digunakan tanda
baca titik (.) sebab kalimat tersebut masih masih menyambung dengan kalimat
berikutnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (6) adalah sebagai
berikut :
(6a)
“Kota Ambon, 26 Mei 2012 SMA Negeri mengumumkan hasil kelulusan untuk anak
kelas dua belas.”
Pada kalimat (7) tanda baca titik (.) digunakan
di tengah kalimat yang seharusnya dibubuhi tanda koma karena kalimat tersebut
adalah kalimat setara yang didahului kata “tetapi”. Dengan demikian ejaan yang
sesuai dengan kalimat (7) adalah sebagai berikut :
(7a)
“Pada tahun ini tidak hanya SMA Negeri 4 saja yang mendapatkan kelulusan 100
persen, tetapi ada juga beberapa SMA lainnya yang lulus dengan 100 persen.
Pada
kalimat (8) kesalahan terjadi pada pertengahan kalimat yang dibubuhi tanda
titik yang seharusnya dibubuhi tanda koma karena kalimat kedua masih menjeaskan
kalimat pertama.
(8a)
“..pada tahun ini rata- rata sekolah lulus 100 persen. Hal ini merupakan hasil
yang membanggakan.”
Pada kalimat (9) tidak digunakan tanda
baca titik (.) pada akhir kalimat yang pertama,
seharusnya digunakan tanda baca (,) karena kalimat kedua merupakan anak
kalimat yang mengiringi induk kalimat (kalimat pertama). Dengan demikian ejaan
yang sesuai dengan kalimat (9) adalah sebagai berikut :
(9a)
“Oleh karena itu, ada baiknya siswa siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional
pada tahun berikutnya lebih meningkatkan kualitas belajar dan mengurangi waktu
bermain agar nantinya bias mencapai kelulusan 100% dengan nilai yang memuaskan.”
Dari
hasil analisis tanda baca titik tersebut ditemukan 10 kesalahan. Di antaranya
kesalahan penggunaan tanda titik pada intonasi akhir kalimat, kesalahan
penggunaan tanda titik pada kalimat yang menghubungkan anak kalimat dan induk
kalimat, kemudian kesalahan penggunaan tanda titik pada pertengahan kalimat
yang masih menjelaskan kalimat sebelumnya sehingga kalimat menjadi rancu.
b. Tanda Koma
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca koma
(,) yang tidak tepat.
(10)
‘…seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN perasaan mereka menjadi takut…”
(11)
“Oleh karena itu kita harus meningkatkan kinerja belajar...”
(12) “…sekarang harus berusaha agar kelulusan,
bisa lancar…”
(13) “Oleh sebab itu kita harus lebih
meningkatkan kualitas belajar…”
(14)
“…bisa menduduki peringkat ke-3 se-Maluku,..”
(15):
“Hal ini merupakan tanda kebanggaan bagi Kota Ambon, karena di tahun-tahun sebelumnya…”
(16)
“… kelulusan belum mencapai presentase maksimal yaitu 100%. Hanya 80- 90% saja.”
(17)
“…Bukan hanya para siswa yang senang tetapi para guru juga senang dan bangga
kepada semua anak didiknya…”
(18):
“…Namun disetiap daerah-daerahpun…”
(19)
“… Namun guru tidak hanya memiliki LKS saja, …”
(20)
“… Oleh sebab itu kita harus meningkatkan kualitas belajar …”
(21)
“… Oleh karena itu anak-anaknya lebih bersemangat untuk lebih belajar lagi dan
lagi …”
(22):
“… Akan tetapi ditahun ajaran ini tingkat kelulusan semakin tinggi …”
(23)
“…Tetapi yang paling penting adalah berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha
Esa…”
Pada kalimat (10) sampai (11) tidak
digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya di pakai untuk ungkapan
penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimmat. Dengan demikian ejaan
yang sesuai dengan kalimat (10) sampai (11) adalah sebagai berikut :
(10a)
“Seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN, perasaan mereka menjadi takut…”
(11a) “…Oleh karena itu, kita harus meningkat
kinerja belajar…”
Pada kalimat (12) tidak perlu
menggunakan tanda baca koma (,) karena kalimat tersebut masih merupakan
rangkaian kalimat sebelumnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat
(12) adalah sebagai berikut :
(12a)
“…sekarang harus berusaha agar kelulusan bisa lancar…”
Pada kalimat (13) tidak digunakan tanda
baca koma (,) yang seharusnya di pakai untuk menghubungkan antar kalimat. Dengan
demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (13) adalah sebagai berikut :
(13a)
“Oleh sebab itu, kita harus lebih meningkatkan kualitas belajar…”
Pada kalimat (14) penempatan tanda koma
pada akhir kalimat seharusnya tanda titik pada akhir kalimat. Dengan demikian
ejaan yang sesuai dengan kalimat (14) adalah sebagai berikut :
(14a) “… bisa menduduki peringkat ke-3 se-Maluku.”
Pada kalimat (15) menggunakan tanda baca
koma (,) di belakang kata yang seharusnya tidak menggunakan tanda baca koma.
Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (15) adalah sebagai berikut :
(15a)
“Hal ini merupakan tanda kebanggaan bagi Kota Ambon, karena di tahun-tahun sebelumnya…”
Pada kalimat (16) tidak digunakan tanda
baca koma (,) yang seharusnya dipakai untuk ungkapan penghubung antar kalimat.
Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (16) adalah sebagai berikut :
(16a)
“Karena pada awal sekolah ini dibuka, kelulusan belum mencapai presentase
maksimal yaitu 100%, hanya 80-90% saja, …”
Pada kalimat (17) tidak memberikan tanda
koma setelah kalimat “bukan hanya para siswa yang senang” karena tanda koma
dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
berikutnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (17) adalah
sebagai berikut :
(17a)
“Bukan hanya para siswa yang senang, tetapi para guru juga senang dan bangga kepada
semua anak didiknya.”
Pada kalimat (18) sampai (23) tidak
digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya dipakai untuk ungkapkan
penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan
kalimat (18) sampai (23) adalah sebagai berikut :
(18a)
“… Namun, di setiap daerah-daerahpun …”
(19a)
“… Namun, guru tidak hanya memiliki LKS saja, …”
(20a) “… Oleh sebab itu, kita harus
meningkatkan kualitas belajar …”
(21a) “… Oleh karena itu, anak-anaknya lebih
bersemangat untuk lebih belajar lagi dan lagi…”
(22a) “… Akan tetapi, ditahun ajaran ini tingkat
kelulusan semakin tinggi …”.
(23a)
“…Tetapi, yang paling penting adalah berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha
Esa…”
Dari
hasil analisis penelitian tanda baca koma tersebut ditemukan 13 kesalahan. Di
antaranya kesalahan penggunaan tanda baca yang dipakai pada kalimat yang
seharusnya tidak dibubuhi tanda koma, kesalahan penggunaan tanda koma pada
kalimat yang tidak dibubuhi tanda koma pada kalimat yang terdapat penguhubung
antar kalimat pada awal kalimat, seperti oleh
karena itu, oleh sebab itu, akan tetapi, tetapi. Kemudian kesalahan
penggunaan tanda koma pada akhir kalimat yang seharusnya dibubuhi tanda titik.
c. Tanda Seru
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca seru
(!) yang tidak tepat.
(24)
“…siswa-siswi SMA negeri 4 lulus 100%!!!...”
Pada
kalimat (24) tanda baca seru (!) digunakan di akhir kalimat, seharusnya di akhir
kalimat digunakan tanda baca titik (.). Dengan demikian ejaan yang sesuai
dengan kalimat (24) adalah sebagai berikut :
(24a)
“…siswa-siswi SMA negeri 4 lulus 100%.”
Dari
hasil analisis tanda seru tersebut ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan
tanda seru yang tidak tepat pada akhir kalimat seharusnya pada akhir kalimat
dibubuhi tanda titik.
d. Tanda Hubung
Berikut
ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh
penggunaan tanda baca hubung (-) yang tidak tepat.
(25)
“… apalagi dapat peringkat ke 3 …”
(26)
“Seluruh siswa siswi untuk kelas 3 mengikuti UN.”
(27)
“Untuk kelulusan SMA tahun ini, Maluku menempati peringkat ke 3 setelah Buru”
(28) “… orang tua siswa & siswi, dan
guru guru yang mengajar …”.
(29)
“Kota Ambon menduduki peringkat ke 3 seMaluku.”
(30)
“… Hal ini juga merupakan usaha keras oleh siswa siswi …”
(31)
“… Awalnya para siswa dan siswi merasa sangat cemas …”
(32)
“… dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/siswi SMA N 4 lulus 100% …”
(33)
“Survey menunjukkan bahwa SMA Aru dapat peringkat ke 3.”
(34)
“… Kelulusan pada tahun 2011, 2012 membuahkan hasil yang sangat baik …”
(35)
“ Ini sangat membanggakan dan perlu dipetahankan bagi tahun2 selanjutnya.”
(36)
“Kelulusan ujian nasional tahun 2011- 2012 di SMA 4 Kota Ambon cukup memuaskan
bagi para siswa dan siswi.”
(37)
“… Pada tahun 2011 siswa dan siswi naik kelas …”
(38)
“Dengan banyaknya sekolah yang lulus 100% membuat Kota Ambon meraih peringkat
ke 3.”
(39)
“… Tahun ini Kota Ambon mendapat urutan ke3 seprovinsi Maluku…”
(40)
“Seluruh siswa dan siswi kelas 3 mengikuti Ujian Nasional dan nilai sekolah
mereka bagus dibandingkan tahun2 sebelumnya.”
(41):
“… untuk SMP kelulusan tahun ini sangat mengecewakan diperkirakan atau mamang
400 siswa dan siswi tidak lulus …”
(42)
“… Kota Ambon dapat peringkat ke 3, seluruh SMA dinyatakan lulus dengan nilai
yang baik…”
(43)
“Setelah menjalani Ujian Nasional ternyata SMA Kota Ambon menempati peringkat
ke 3.”
(44)
“Banyak beredarnya kabar burung di Kota Ambon yang memperkirakan bahwa seluruh
SMK se-Kota Ambon dinyatakan tidak lulus 100%.”
(45) “Untuk seluruh siswa dan siswi SMA
sederajat, tahun ajaran 2011/2012 SMA di Kota Ambon mendapat hasil yang
memuaskan.”
Pada kalimat (25) samapi (45) tidak
menggunakan tanda baca penghubung (-) pada kalimat-kalimat tertentu. Dengan
demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (25) samapi (45) adalah sebagai
berikut :
(25a)
“… apalagi dapat peringkat ke-3 …”
(26a) “… Seluruh siswa-siswi untuk kelas 3
mengikuti UN …”
(27a)
‘… Untuk kelulusan SMA tahun ini, Maluku menempati peringkat ke- 3 setelah Buru…”
(28a)
“… orang tua siswa- siswi, dan guru-guru yang mengajar …”
(29a)
“Kota Ambon menduduki peringkat ke-3 se-Maluku.”
(30a)
“… Hal ini juga merupakan usaha keras oleh siswa- siswi …”
(31a)
“… Awalnya para siswa-siswi merasa sangat cemas ...”
(32a)
“… dan guru terakhir mengumumkan bahwa siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri
4 lulus 100% …”
(33a) “Survey menunjukkan bahwa SMA Aru dapat
peringkat ke- 3.”
(34a)
“… Kelulusan pada tahun 2011-2012 membuahkan hasil yang sangat baik …”
(35a) “… Ini sangat membanggakan dan perlu
dipetahankan untuk tahun- tahun selanjutnya …”
(36a) “Kelulusan ujian nasional tahun 2011-
2012 di SMA Negeri 4 Kota Ambon cukup memuaskan bagi para siswa- siswi.”
(37a)
“… Pada tahun 2011 siswa-siswi naik kelas …”
(38a)
“Dengan banyaknya sekolah yang lulus 100% membuat Kota Ambon meraih peringkat
ke-3.”
(39a)
“… Tahun ini Kota Ambon mendapat urutan ke-3 se- Provinsi Maluku …”
(40a)
“Seluruh siswa-siswi kelas 3 mengikuti Ujian Nasional dan nilai sekolah mereka bagus
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.”
(41a)
“…untuk SMP kelulusan tahun ini sangat mengecewakan diperkirakan atau memang 400
siswa-siswi yang tidak lulus…”
(42a)
‘… Kota Ambon dapat peringkat ke 3, seluruh SMA dinyatakan lulus dengan nilai
yang baik…”
(43a)
“… setelah menjalani Ujian Nasional ternyata SMA Kota Ambonmenempati peringkat
ke- 3…”
(44a)
“Banyak beredarnya kabar burung di Kota Ambon yang memperkirakan bahwa seluruh
Sekolah Menengah Kejuruan se-Kota Ambon dinyatakan tidak lulus 100%.”
(45a)
“… Untuk seluruh siswa- siswi SMA sederajat, tahun ajaran 2011/201S2 SMA di Kota
Ambon mendapat hasil yang memuaskan…”
Dari hasil analisis tanda hubung tersebut ditemukan
20 kesalahan. Di antaranya kesalahan penggunaan tanda hubung pada kata ke-3
yang seharusnya dibubuhi tanda hubung “ke-3”. Kesalahan yang dilakukan pada
kata ke-3, se kabupaten, se Maluku, siswa siswa, guru guru, se kepulauan,
tahun2, se provinsi. Kesalahan tanda hubung inilah yang merupakan kesalahan
yang paling dominan terjadi pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri
4 Kota Ambon.
e. Tanda Titik Dua
Berikut ini data yang menunjukkan
kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca titik
dua (:) yang tidak tepat.
(46)
Angka kelulusan tingkat SMA di Kota Ambon semakin meningkat: ini terlihat hanya
10% yang tidak lulus di semua SMA yang berada di Kota Ambon.
Pada
kalimat (46) tidak di pakai tanda baca titik dua (:) pada akhir suatu
pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Oleh sebab itu, seharusnya
digunakan tanda baca koma (,) karena kalimat berikutnya hanya untuk merangkai
dan memperjelas kalimat sebelumnya. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan
kalimat yang di atas adalah sebagai berikut :
(46a)
“… Angka kelulusan tingkat SMA di Kota Ambon semakin meningkat, ini terlihat
hanya 10% yang tidak lulus disemua SMA yang berada di Kota Ambon…”
Dari
hasil analisis tanda titik dua tersebut ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan
tanda titik dua pada akhir kata “meningkat”, seharusnya dibubuhi tanda koma
karena kalimat akhir berfungsi untuk menjelaskan kalimat sebelumnya.
f. Tanda Garis Miring
Berikut
ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh
penggunaan tanda baca garis miring (/) yang tidak tepat.
(67)
Dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/ siswi SMAN 4 lulus 100%.
Pada
kalimat (67) seharusnya:Dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/siswi
SMAN 4 lulus 100%.
Kesalahan
yang dilakukan adalah penggunaan tanda garis miring seharusnya diganti dengan
tanda hubung (-), karena tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur kata
ulang.
(68)
Mulai dari belajar yang lebih ekstra/ ditingkatkan.
Pada
kalimat (68) seharusnya: Mulai dari belajar yang lebih ekstra ditingkatkan.
Kesalahan
yang dilakukan adalah penggunaan tanda garis miring yang seharusnya
dihilangkan, karena pada kalimat tersebut tanda garis miring tidak untuk
sebagai pengganti kata atau, tiap,
dan ataupun.
Dari hasil analisis tanda garis miring tersebut
ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan tanda garis miring pada kata siswa/
siswi yang seharusnya dibubuhi tanda hubung.
BAB V
Penutup
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah
dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kesalahan penggunaan tanda
baca pada skripsi mahasiswa ditemukan sebanyak 209 kasus kesalahan yang
meliputi kesalahan penggunaan tanda baca titik (.) sebanyak 34 kesalahan,
kesalahan penggunaan tanda baca koma (,) sebanyak 163 kesalahan, kesalahan
penggunaan tanda hubung (-) sebanyak 1 kesalahan, kesalahan penggunaan tanda
tanya (?) sebanyak 4 kesalahan, dan kesalahan penggunaan tanda titik dua (:)
sebanyak 7 kesalahan. Sementara itu, kesalahan penggunaan tanda seru (!),
kesalahan penggunaan tanda petik titik koma (;), kesalahan penggunaan tanda
petik tunggal (‘…’), kesalahan penggunaan tanda petik (“…”), dan kesalahan
penggunaan garis miring (/) tidak ditemukan adanya kesalahan. Kesalahan tanda
baca disebabkan adanya perbedaan persepsi dalam penggunaan tanda baca yang
sesuai dengan pedoman EIB.
Berdasarkan hasil penelitian Kesalahan
Penggunaan Tanda Baca pada skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia telah ditemukan beberapa kesalahan penggunaan tanda baca, yaitu
penggunaan tanda titik (.) 14 kesalahan; penggunaan tanda koma (,) 33
kesalahan; penggunaan tanda seru (!)1 kesalahan; penggunaan tanda hubung (-) 41
kesalahan; penggunaan tanda titik dua (:) 1 kesalahan; penggunaan tanda garis
miring (/) 2 kesalahan. Dan dari keterangan tersebut, maka kesalahan penggunaan
tanda hubung (-) dalam karangan
argumentasi merupakan kesalahan dominan yang dilakukan oleh siswa kelas X
Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Kota Ambon.
B.
Saran
1.
Mahasiswa hendaknya berusaha untuk
meningkatkan pengetahuan mengenai penggunaan pungtuasi.
2.
Melihat banyak ditemukannya kesalahan
khususnya kesalahan penggunaan pungtuasi, maka perlu mendapat perhatan khusus
dari dosen pembimbing guna penyempurnaan penulisan skripsi mahasiswa.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. (2006).Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Efendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka
Jaya
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian
Sastra. Yogjakarta: UGM Press.Ernawati. 2009. EBI & Seputar Kebahasa- Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka
Hastuti PH, S. 2003. Sekitar Analisis Kesalahan Berbahasa
Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Moleong,
Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: Rosda.
Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 November 2016 Tentang Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, Jakarta, 2016.
Sudaryanto. 2001. Metodologi dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar