Jumat, 31 Mei 2019

“Kesalahan Penggunaan Pungtuasi pada Penulisan Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon”.


bab i
pendahuluan


A.           Latar Belakang Masalah

Penggunaan Bahasa yang benar menurut kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam hal tulis-menulis. Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah sintaksis, kaidah makna, kaidah hubungan sosial, dan kaidah mengarang. Kaidah-kaidah ini sering mendukung sehingga tulisan menjadi lebih berstruktur dan bernilai, serta lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain.  Namun pada kenyataannya, masih banyak kesalahan pada penggunaan ejaan.
Bahasa tulis memiliki karakteristik berbeda dengan karakteristik bahasa lisan. Dalam bahasa lisan orang akan lebih mudah untuk memahami maksud penutur pengucapannya, hal ini dikarenakan adanya intonasi pada pengucapan kalimat- kalimat yang dituturkan, sedangkan dalam bahasa tulis, penulis hendaknya menguasai tata cara penulisan termasuk di dalamnya tanda baca sebagai intonasi atau jeda dalam tulisan agar tulisannya mudah untuk dipahami. Ucapan lisan agak sulit untuk dituangkan ke dalam tulisan karena segala intonasi yang terdapat dalam bahasa lisan itu akan sukar untuk diungkapkan dalam bahasa tulisan. Untuk menutupi kesukaran itulah tanda baca sangat dibutuhkan sebagai kunci atas apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. 
Bahasa Indonesia ragam tulis digunakan baik dalam tulisan tidak resmi maupun dalam tulisan resmi. Dalam tulisan tidak resmi, seperti surat dan catatan pribadi, penggunaan kalimat yang teratur dan lengkap serta penggunaan ejaan yang cermat tidak selalu diperlukan. Akan tetapi, dalam tulisan resmi, seperti:  buku pelajaran, surat dinas, dan laporan, penggunaan kalimat yang teratur dan lengkap serta penggunaan ejaan yang cermat diperlukan. Keteraturan dan kelengkapan kalimat serta ejaan dalam sebuah tulisan dapat mengungkapkan gagasan atau pikiran yang jelas (Efendi, 1995; 10). Kejelasan gagasan dalam sebuah tulisan akan memudahkan pembaca memahami tulisan itu. 
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam bahasa tulis agar kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis yang kita maksudkan (Chaer, 2006:71). Oleh karena itu, tanda baca sangat penting agar kalimat dalam suatu paragraf mudah dipahami sehingga tidak terjadi kesalahan makna yang disampaikan oleh penulis.
Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon, terdapat kesalahan mahasiswa dalam menyusun tugas akhirnya yaitu skripsi. Dalam penulisan skripsi kebanyakan penulis dalam menulis skripsi masih terdapat banyak kesalahan dalam bentuk pengunaan pungtuasi atau tanda baca. Kesalahan dalam penerapan tanda baca yang sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) merupakan salah satu faktor signifikan dalam mengartikan, memaknai sebua tulisan yang ditulis oleh penulis. Salah satunya ditemui kesalahan pada pengunaan tanda baca Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon. Kesalahan ini sangat perlu diperhatikan agar nantinya tidak terjadi kesalahan seterusnya sehingga penelitian ini berjudul “Kesalahan Penggunaan Pungtuasi pada Penulisan Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon”.

B.            Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah kesalahan penggunaan pungtuasi pada penulisan skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon ?

C.           Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu : Untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan pungtuasi pada penulisan skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.

D.           Manfaat Penelitian     

1.Manfaat Teoritis

Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat digunakan sebagai referensi ilmiah untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang penulisan dan penempatan pungtuasi dalam penyusunan skripsi dan secara praktis dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun para pembaca.

2.Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lebih teliti dalam mengunakan pungtuasi pada penulisan skripsi. Bagi peneliti sebagai landasan untuk dijadikan sebagai bahan kajian penelitian lebih lanjut yang ada kaitannya dengan metode pembelajaran dalam penelitian.

                                                                                                                                                                             BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakikat Ejaan

1.   Ejaan

Arifin (2008:164) Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggambungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan ialah Ejaan Bahasa Indonesia ini meliputi, yaitu (a) pemakaian huruf, (b) penulisan kata, (c) pemakaian tanda baca, dan (d) penulisan unsur serapan.

2.   Pemakaian Huruf

Pemakaian huruf dalam ejaan yang disempurnakan dalam bahasa Indonesia terdiri atas pemakaian huruf abjad, huruf vokal, huruf konsonan, huruf diftong, dan gabungan huruf konsonan. Pemakaian huruf tersebut disesuaikan dengan fungsinya.
Pemakaian huruf abjad dalam bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf, yaitu dari huruf A-Z. Sementara itu, pemakaian huruf yang melambangkan vokal dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u. Pemakaian huruf vocal dalam ejaan bahasa Indonesia dapat diungkapkan dari awal, tengah, dan akhir kata, misalnya pada kata api, padi, lusa, enak, petak, sore, simpan, murni, kota, radio, ulang, ibu, dan sebagainya.
Huruf yang melambangkan konsonan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf. Pemakaian huruf konsonan dalam ejaan bahasa Indonesia juga digunakan pada awal, tengah, dan akhir kata, seperti pada kata bahasa, kaca, tiga, balig, dan lain-lain.
Huruf diftong dalam bahasa Indonesia dilambangkan dengan ai, au, dan oi. Pemakaian huruf diftong digunakan di awal, tengah, dan akhir kata, contoh pada kata syaitan, pandai, aula, saudara, harimau, boikot, amboi, dan sebagainya.
Dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Pemakaian gabungan konsonan tersebut dapat dipakai pada awal, tengah, maupun akhir kata, seperti pada kata khusus, akhir, ngilu, bangun, senang, nyata, hanyut, syarat, isyarat, dan lain sebagainya.

3.   Penulisan Kata

Hal-hal yang diuraikan dalam penulisan kata ini menyangkut petunjuk bagaimana menuliskan kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, gabungan kata, kata ganti –ku, -kau, -mu, dan –nya kata depan di, ke, dan dari, kata si dan sang partikel, singkatan dan akronim, angka dan lambang bilangan.
a         Kata dasar ialah berupa kata dasar yang ditulis sebagai satu kesatuan, misalnya Ibu percaya bahwa engkau tahu.
b        Kata turunan dibagi dalam beberapa bentuk penulisan, yaitu (1) imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan dasarnya, (2) jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang berlangsung mengikuti dan mendahuluinya, (3) jika gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, maka unsur gabungan itu ditulis serangkai, (4) jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, maka gabungan kata itu ditulis serangkai.
c         Bentuk ulang ialah bentuk pengulangan kata yang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, misalnya kata hati-hati, anak-anak, mata-mata, dan lain-lain.
d        Gabungan kata terdiri atas (1) gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah, (2) gabungan kata termasuk istilah khusus yang menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda penghubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan, dan (3) gabungan kata yang ditulis serangkai, seperti acapkali, adakalanya, beasiswa, saripati, olahraga, dan lain-lain.
e         Kata ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya atau ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
f         Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagi satu kata seperti kepada dan daripada.
g        Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
h        Partikel terdiri atas lima partikel, yaitu partikel –lah, -kah, -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, dan partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’ maupun ‘tiap’  ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
i          Singkatan dan akronim termasuk dalam hal yang harus diperhatikan dalam penulisan kata. Singkatan ialah bentuk yang dipendekan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Sementara itu, akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deretan kata yang diperlakukan sebagai kata, misalnya ABRI, Akabri, Pemilu, dan lain sebagainya.
j          Angka dan lambang bilangan, digunakan untuk menyatakan lambang bilangan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan digunakan secara berurutan, seperti pemaparan dan perincian.

4.   Pemakaian Tanda Baca

Tanda baca adalah tanda yang digunakan pada setiap karangan yaitu tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elips, dan tanda garis miring. Sedangkan tanda baca menurut (Aning, 2011:55-80) dibagi menjadi 15 tanda baca, yaitu tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), tanda hubung (-), tanda pisah (-), tanda Tanya (?), tanda seru (!), tanda ellips (…), tanda petik (“”), tanda petik tunggal („‟), tanda kurung (()), tanda kurung siku ([]), tanda garis maring (/), tanda penyingkat atau apostof („). Dalam setiap karangan sudah pasti terdapat tanda baca tetapi dari 15 tanda baca tersebut belum tentu semuanya digunakan dalam penulisan skripsi.
Berikut ini akan diuraikan sedikit mengenai pemakaian tanda baca.
a         Tanda titik (.) dipakai untuk:  (1) akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan, (2) di belakang angka atau huruf dalam satu bagan, iktisar, atau daftar, (3) memisahkan angka, jam, menit, dan menunjukan waktu, (4) di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka, (5) memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya, dan tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan karangan atau kepala ilustrasi, tabel, alamat pengirim dan tanggal surat, maupun alamat penerima surat.
b        Tanda koma (,) dipakai (1) di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan, (2) untuk memisahkan kalimat majemuk setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului kata seperti tetapi atau melaikan, (3) untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya, (4) di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat, termasuk oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi, (5) untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat, (6) di antara nama, alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah yang ditulis berurutan, (7) untuk menceritakan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka, (8) di antara bagian-bagian dalam catatan kaki, (9) di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga, (10) di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka, (11) untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi, (12) untuk menghindari salah baca.
c         Tanda titik koma (;) dipakai (1) untuk memisahkan bagian-bagian kalimat sejenis dan setara, (2) sebagai pengganti tanda penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
d        Tanda titik dua (:) dipakai (1) pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian, (2) sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian, (3) dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan, (4) di antara jilid nomor dan halaman, bab dan ayat dalam kitab suci, judul dan anak judul karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
e         Tanda hubung (-) digunakan untuk menyambung suku-suku kata dasar dan awal bagian kata dibelakangnya dengan kata didepannya pada pergantian baris, menyambung unsur-unsur kata ulang, menyambunng huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian tanggal, untuk merangkai se- dengan kata yang dimulai huruf kapital, ke-, dengan angka, angka dengan –an, dan lain-lain.
f         Tanda pisah (-) dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat, menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas, dan di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai’.
g        Tanda ellipsis (…) digunakan dalam kalimat terputus-putus dan menunjukan bahwa dalam suatu kalimat ada bagian-bagian yang dihilangkan.
h        Tanda tanya (?) dipakai dalam akhir kalimat tanya dan di dalam tanda kurung untuk menyatakan kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan.
i          Tanda seru (!) dipakai sesudah pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa egosi yang kuat.
j          Tanda kurung ((…)) dipakai untuk (1) mengapit keterangan atau penjelasan tambahan, (2) mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan, (3) mengapit huruf atau teks yang dapat dihilangkan, dan (4) mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.
k        Tanda kurung siku ([…]) dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
l          Tanda petik (“…”) digunakan untuk mengapit (1) petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain, (2) judul dan naskah, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat, (3) istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
m      Tanda petik tunggal (‘…’) digunakan untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain dan mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing.
n        Tanda miring (/) dipakai dalam nomor surat, alamat, dan penandaan masa tahun yang terbagi dalam tahun takwin. Selain itu, tanda miring juga dipakai sebagai pengganti sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
o        Tanda penyingkatan atau apostrof (‘) menunjukan penghilangan bagian kata atau angka bagian dari angka tahun.
a)      Penulisan Unsur Serapan
           Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sansakerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle clock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapan masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti crystal (kristal), central (sentral), check (cek), effeck (efek). Unsurunsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia dengan mengubah ejaan seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya

5.   Fungsi Ejaan

Dalam rangka menunjang pembakuan bahasa, baik yang menyangkut pembakuan tata bahasa maupun kosa kata dan peristilahan, ejaan mempunyai fungsi yang cukup penting. Oleh karena itu, pembakuan ejaan perlu diberi prioritas lebih dahulu. Dalam hubungan itu, ejaan, antara lain, berfungsi sebagai :
1.      Landasan pembakuan tata bahasa.
2.      Landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
3.     Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
Di samping ketiga fungsi yang telah disebutkan di atas, ejaan sebenarnya juga mempunyai fungsi yang lain. Secara praktis, ejaan berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis. Dalam hal ini fungsi praktis itu dapat dicapai jika segala ketentuan yang terdapat di dalam kaidah telah diterapkan dengan baik.
Azwardi (2008: 15) menyatakan fungsi ejaan adalah sebagai landasan pembakuan tata bahasa, landasan pembakuan kosakata dan peristilahan, dan juga sebagai alat penyaring masuknya unsurunsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, secara praktis, ejaan berfungsi untuk membantu pembaca dalam memahami dan mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.

B.            Penggunaan KesalahanPenempatan Pungtuasi

Mengenai pengertian ‘analisis’ ada beberapa ahli memberikan batasan antara lain Hastuti (2003: 19) yang mengatakan bahwa analisis merupakan suatu penyelidikan yang bertujuan menemukan inti permasalahan, kemudian dikupas dari berbagai segi, dikritik, dikomentari, kemudian disimpulkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 58) analisis adalah penyelidikan terhadap peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis adalah suatu penyelidikan (pemeriksaan) terhadap suatu objek untuk mengetahui (menentukan) permasalahan atau unsur-unsur yang sesuai dengan tujuan, kemudian dikupas, diberi ulasan, dan disimpulkan agar dapat dimengerti bagaimana duduk permasalahannya.
Selanjutnya mengenai pengertian ‘kesalahan’ Hastuti (2003: 17) melawankan kata ‘salah’ dengan ‘betul’, maksudnya kata ‘salah’ berarti tidak betul, tidak menurut aturan yang telah ditetapkan. Kesalahan itu dapat disebabkan karena ketidaktahuan/kekhilafan jika dihubungkan dengan pemakaian kata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) kesalahan adalah kekeliruan atau kealpaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesalahan adalah penyimpangan terhadap kaidah (norma) atau aturan yang telah ditentukan.
Bahasa terdiri dari dua aspek yaitu aspek bentuk dan aspek makna. Aspek bentuk dapat dibagi lagi menjadi dua bagian yang besar yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur segmental yaitu unsur Bahasa yang dapat dibagi-bagi atas bagian-bagian yang lebih kecil yang meliputi; fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Sebaliknya unsur suprasegmental adalah unsur Bahasa yang kehadirannya tergantung dari kehadirian unsur segmental, yang terdiri dari tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang, dan dalam bentuk yang lebih luas dikenal sebagai intonasi. Pada tahap-tahap inilah seorang penulis harus memperhatikan pungtuasi. Sebab pungtuasi dibuat berdasarkan dua hal utama yang saling melengkapi, yaitu unsur suprasegmental dan unsur sitaksis. Unsur sintaksis yang erat hubungannya tidak boleh dipisahkan dengan tanda-tanda baca dan unsur sintaksis yang tidak erat hubungannya harus dipisahkan dengan tanda baca.
Kesalahan-kesalahan penulisan dan penempatan pungtuasi yang dilakukan oleh mahasiswa pada sebuah tulisan bermacam-macam. Bahasa Indonesia mempunyai karakteristik sendiri dan dalam perkembangannya ada beberapa komponen yang belum dibakukan, yaitu komponen lafal. Sementara itu, yang telah dibakukan pertama ialah komponen ortografi (ilmu ejaan), tata bahasa (morfologi dan sintaksis), kemudian leksikon (Hastuti, 2003: 84). Dari beberapa macam kesalahan-kesalahan berbahasa tersebut, penelitian ini akan menganalisis kesalahan ortografi (ilmu ejaan) dengan memperhatikan ejaan yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

BAB III
metode penelitian


A.    RancanganPenelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2006: 4) mengatakan bahwa pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif dipilih karena masalah yang diteliti berupa data (skripsi) yang lebih tepatnya dijelaskan dengan menggunakan kata-kata. Jadi, dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikanpengunaan pungtuasi dalam skripsi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan SastraIndonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.
Menurut Bongdan dan Biklen (dalam Maleong, 2008:8-11 ) penelitian kualitatif setidak-tidaknya mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1.   Data bersifat alamiah(natural setting) dalam hal ini data alami tetap berkaitan sepenunya dengan konteks, dengan sendirinya unsur-unsur yang terkait dengan konteks misalnya tindakan, ucapan, dan gerak isyarat tidak diabaikan dengan penelitian ini, supaya peneliti tidak kehilangan segala kepentingan yang berhubungann dengan konteks tersebut.
2.   Manusia sebagai instrumen penelitian. Dalam konteks hal ini manusia bermamfaat untuk menangkap makna dan nilai-nilai lokal yang berbeda. Manusia dikatakan sebagai instrument penelitian sebab ia merupakan perencana, pelaksana, pengumpulan data, dan pada akhirnya ia menjadi pelopor hasil peneliitian.
3.   Dalam penelitian kualitatif diusahakan pengumpulan data secara deskriptif yang kemudian ditulis dalam laporan. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka.
4.   Analisis datanya cenderung bersifat induktif hal ini dilakukan agar mempermudah mendeskripsikan konteks yang muncul setelah peneliti sebelumnya melakukan abstraksiyang disusun berdasarkan bukti-bukti yang terkumpul.
5.   Lebih mementingkan proses dari pada hasil. Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi proses dari pada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.

B.     Sumber Data

1.Data

Data penelitian ini diambil dari skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura Ambon di perpustakaan FKIP yang akan diamati oleh penulis berupa pengamatan terhadap kesalahan penggunaan pungtuasi dalam penulisan skripsi, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura Ambon.

2.Sumber Data

Sumber data penelitian ini merupakan sumber data sekunder yang diambil dari skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura Ambon, dengan data sebagai berikut:

1.      Judiana E. Rieuwpassa (2011-35-076)

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL).
2.      Ede R. Kuhumarua (2012-35-031)
Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda Baca Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Ambon.

C.    Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini pada ruang bacaProgram Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.

D.    Teknik Pengumpulan Data

1.Teknik baca

            Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik baca. Teknik baca yang dilakukan adalah membaca secara berulang dan cermat skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon yang telah dipilih. Pembacaan disesuaikan dengan tujuan penelitian, sedangkan yang tidak berhubungan dengan penelitian ini diabaikan.

2.Teknik catat

            Taknik catat ini digunakan untuk mengungkapkan suatu permasalahan yang terdapat dalam suatu bacaan atau wacana (Sudaryanto, 2001: 41). Sebelum dilakukan pencatatan, terlebih dahulu dilakukan pencatatan data pada kartu data, kemudian kartu data tersebut dikategorikan menurut kriteria kesalahan ejaan. Data yang terkumpul, kemudian dianalisis dan dideskripsikan.
            Setelah dianalisis dan dideskripsikan, selanjutnya kesalahan yang telah ditemukan tersebut dibetulkan. Pembetulan kesalahan dalam penelitian ini bersifat parsial. Artinya, pembetulan hanya pada bagian yang berkaitan dengan penelitian, yaitu berupa ejaan tertentu yang dibatasi pada kesalahan penggunaan tanda baca.

E.     Instrument Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data ini adalah menggunakan human instrument yaitu peneliti sendiri. Peneliti sebagai pelaksana yang akan mengumpulkan data, menganalisis, dan sekaligus membuat kesimpulan. Pengetahuan peneliti tentang ejaan menjadi alat penting dalam penelitian ini. Dalam hal ini, peneliti menentukan kriteria-kriteria kesalahan ejaan dalam skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon. Dengan menggunakan kriteria tersebut, peneliti akan menganalisis kesalahan penggunaan tanda baca, meliputi tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda titik koma (;), tanda hubung (-), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung ((…)), tanda petik (“…”), tanda petik tunggal (‘…’), dan tanda garis miring (/).
Dalam penelitian ini, peneliti dibantu dengan menggunakan alat bantu yang berupa kartu data. Kartu ini dibuat dari kertas HVS warna yang berukuran 8cm x 8cm. Kartu ini berfungsi untuk mempermudah menganalisis data kesalahan yang terjadi. Kartu data ini berisi nama skripsi, nomor halaman, nomor paragraf, dan nomor kalimat dalam paragraf yang diambil. Selanjutnya juga ditentukan jenis kesalahan (JK), dilanjutkan jawaban yang benar. Adapun format kartu data tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 1 : Tabel kartu data 
Kartu Data
NO : 

Kutipan :


F.     Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan upaya peneliti menagani langsung masalah yang terkandung dalam data (Sudaryanto, 2001: 3-6). Penanganan itu tampak dari adanya tindakan mengamati, membedah, atau mengurangi, dan menguraikan masalah yang bersangkutan dengan cara khas tertentu. Cara-cara khas tertentu yang ditempuh peneliti untuk memahami problematika suatu kebahasaan yang diangkat sebagai objek penelitian ini disebut metode analisis data (Sudaryanto, 2001: 57).
Dalam tahap ini, untuk memperoleh deskripsi bentuk kesalahan ejaan digunakan metode padan dan agih (distribusional). Metode padan digunakan untuk menganalisis penggunaan tanda baca( pungtuasi ) dalam bentuk tulisan skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon.



bab iv
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.           Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang akan disajikan di sini adalah berupa analisis kesalahan ejaan pada beberapa skripsi mahasiswa Program StudiPendidikan  Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon. Jenis kesalahan ejaannya, yaitu pemakaian tanda baca.
Hasil skripsi tersebut diidentifikasi berdasarkan jenis kesalahannya. Hasil identifikasi kesalahan-kesalahan ejaan yang diperoleh, kemudian diolah melalui teknik kerja analisis data. Data yang diperoleh dengan teknik membaca tiap kalimat dan mencatat kalimat yang ejaannya salah, kemudian dimasukkan dalam kartu data dan dianalisis dengan teknik deskripsi kualitatif.
Berdasarkan batasan di atas, hasil penelitian kesalahan pemakaian tanda baca pada beberapa skripsi mahasiswa prodi  Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon diperoleh kesalahan sebanyak 209 kesalahan pemakaian tanda baca berjumlah. Berikut ini tabel frekuensi dan persentase jenis kesalahan ejaan pada skripsi mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon  

B.            Pembahasan

1.Skripsi A

Pembahasan penelitian ini adalah kesalahan pemakaian tanda baca pada skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon didasarkan pada hasil analisis.

a.          Penggunaan Tanda Titik (.)

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca titik yang tidak tepat.
(15)     “…hingga menjadi suatu kebulatan menurut ukuran-ukuranku.”  (A/12/01/03)
(16)     “…akan menghasilkan sumber latihan berpikir yang tiada habisnya.” (A/14/04/03)
Pada kalimat (15) sampai (16) tidak digunakan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat yang seharusnya dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut.
(15a) “…hingga menjadi suatu kebulatan menurut ukuran-ukuranku. (1982:80).”
(16a) “…akan menghasilkan sumber latihan berpikir yang tiada habisnya
 (Sayuti, 2003:72).”

b.         Penggunaan Tanda Koma (,)

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca koma (,) yang tidak tepat.
(20)        “Selain itu pendidikan ini juga bertujuan…” (A/viii/01/02)
(21)         “…yaitu singkatan, angkronim dan kontraksi.” (B/07/01/08)
(22)        “Penataan prinsip kerja sama terjadi jika peserta tutur…”(C/02/01/05)
(23)        “…bahasa yang kacau, baik struktur kata, kalimat maupun penggunaan kata…” (D/03/01/05)
(24)        “…seperti konsultasi kesehatan, keuangan, keluarga, psikologi bahkan sampai pada,…” (D/03/02/02)
Pada kalimat (20) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dipakai untuk ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (20) adalah sebagai berikut.
(20a) “Selain itu, pendidikan ini juga bertujuan…”
Pada kalimat (21) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dalam kalimat ini tanda baca koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (21) adalah sebagai berikut.
(21a) “…yaitu singkatan, akronim dan kontraksi.”
Pada kalimat (22) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dipakai di belakang kata atau yang menghubungkan antarkalimat. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (22) adalah sebagai berikut.
(22a) “Penataan prinsip kerja sama terjadi, jika peserta tutur…”
Pada kalimat (23) dan (24) tidak digunakan tanda koma yang seharusnya dalam kalimat ini tanda baca koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (27) dan (28) adalah sebagai berikut.
(23a) “…bahasa yang kacau, baik struktur kata, kalimat, maupun penggunaan kata…”
(24a) “…seperti konsultasi kesehatan, keuangan, keluarga, psikologi bahkan sampai pada…”

c.          Penggunaan Tanda Hubung (-)

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca hubung (-) yang tidak tepat.
(26)“Cerita terdiri dari peristiwa (events) dan wujud keber-ada-annya eksistensinya (existents).” (A/27/02/02)
Pada kalimat (26) terjadi kesalahan penggunaan tanda hubung yang seharusnya tidak dipakai pada kata keber-ada-annya karena tanda hubung digunakan untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu bukan seperti kata tersebut. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (26) adalah sebagai berikut.
(26a) “Cerita terdiri dari peristiwa (events) dan wujud keberadaannya eksistensinya (existents).

d.         Penggunaan Tanda Tanya (?)

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda tanya (?) yang tidak tepat.
(27)  Bagaimana      penguasaan      bahasa             satrawan          sehingga          mampu mengikat pembaca. (A/23/02/01)
(28)  Apakah pengarang belajar secara otodidak atau memang ada cara lain. (A/23/02/02)
Pada kalimat (27) sampai (30) tidak dipakainya tanda tanya setelah akhir kalimat tanya. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat (27) sampai (30) adalah sebagai berikut.
(27a) Bagaimana penguasaan bahasa satrawan sehingga mampu mengikat pembaca?
(28a) Apakah pengarang belajar secara otodidak atau memang ada cara lain?

e.          Penggunaan Tanda Titik Dua (:)

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda titik dua (:) yang tidak tepat.
(31)        Model pendekatan yang dikemukakan Ratna (2004: 55) antara lain pendekatan biografi sastra, sosiologi sastra, dan,… (A/19/04/01)
(32)        …beberapa bagian karyanya seperti ide cerita, penokohan, jalan cerita, dan gaya bahasa yang dipakai. (A/31/02/03)
(33)        Variasi tipe definisi tersebut, antara lain, a)….  (B/93/05/03)
Pada kalimat (31) sampai (33) tidak dipakainya tanda titik dua pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut.
(31a) Model pendekatan yang dikemukakan Ratna (2004: 55) antara lain:
pendekatan biografi sastra, sosiologi sastra, dan,… 
(32a)  …, beberapa bagian karyanya seperti: ide cerita, penokohan, jalan cerita, dan gaya bahasa yang dipakai.
(33a) Variasi tipe definisi tersebut, antara lain:  a)…. 

2.Skripsi B

Pembahasan penelitian ini adalah kesalahan tanda baca pada skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pattimura Ambon telah ditemukan beberapa kesalahan penggunaan tanda baca, yaitu penggunaan tanda titik (.) 14 kesalahan; penggunaan tanda koma (,) 33 kesalahan; penggunaan tanda seru (!) 1 kesalahan; penggunaan tanda hubung (-) 41 kesalahan; penggunaan tanda titik dua (:) 1 kesalahan; penggunaan tanda garis miring (/) 2 kesalahan.
Berikut ini adalah pembahasan hasil penelitian kesalahan penggunaan tanda baca tersebut. 

a.      Tanda Titik

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca titik yang tidak tepat.
(1)…”Hal ini tentu sangat membanggakan. Bagi siswa, sekolah maupun orang tua (B/01/01/16).
(2)…”Perserta UN di Kota Ambon mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, Sehingga ditingkat SMA Kota Ambon menempati peringkat ke-3”.
(3) “Seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN. Perasaan mereka menjadi takut. Tapi semenjak adanya perubahan nilai sekolah. Mereka lumayan tenang. “
 (4) “Pada tahun 2011- 2012 ini ujian nasional meningkat lebih baik, daripada sebelumnya. Karna sistem pembelajaran nilai lebih baik,”
(5) “Kota Ambon, karena ditahun-tahun sebelumnya Kota Ambon menduduki peringkat ke-7, diprediksikan hanya beberapa siswa yang tidak lulus berjumlah 9 orang di tingkat SMA”
(6) “Kota Ambon, 26 Mei 2012, SMA Negeri 4 menggumumkan hasil kelulusan untuk anak kelas dua belas.”
(7)  “Pada tahun ini tidak hanya SMA Negeri 4 saja yang mendapatkan kelulusan 100 persen. Ada juga beberapa SMA lainnya yang lulus dengan 100 persen.”
(8) “…pada tahun ini rata- rata sekolah lulus 100 persen. Ini merupakan hasil yang membanggakan.”
(9) “Oleh karena itu, ada baiknya siswa siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional pada tahun berikutnya lebih meningkatkan kualitas belajar dan mengurangi waktu bermain. Agar nantinya bisa mencapai kelulusan 100% dengan nilai yang memuaskan.”
Pada kalimat (1) sampai (3) menggunakan tanda baca titik (.) pada kalimat yang masih menyambung dengan kalimat berikutnya. Semestinya menggunakan tanda koma (,) pada kalimat tersebut. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut :
(1a) “…Hal ini tentu sangat membanggakan bagi siswa, sekolah maupun orang tua.”
(2a) “Perserta Ujian Nasional di Kota Ambon mengalami sebelumnya, sehingga ditingkat Sekolah Menengah Atas Kota Ambon menempati peringkat ke-3”.
(3a) Perasaan seluruh siswa kelas 3 menjadi takut saat mengikuti UN, tapi semenjak adanya perubahan nilai sekolah sekarang, mereka lumayan tenang.
Pada kalimat (4) sampai (5) tidak digunakan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat yang seharusnya di pakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat di atas adalah sebagai berikut :
(4a) “Pada tahun 2011- 2012 ini ujian nasional meningkat lebih baik daripada sebelumnya karena sistem pembelajaran nilai lebih baik.”  
(5a) “Karena di tahun-tahun sebelumnya Kota Ambon menduduki peringkat ke-7, diprediksikan hanya beberapa siswa yang tidak lulus berjumlah 9 orang ditingkat SMA.”
Pada kalimat (6) tidak digunakan tanda baca titik (.) sebab kalimat tersebut masih masih menyambung dengan kalimat berikutnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (6) adalah sebagai berikut  :
(6a) “Kota Ambon, 26 Mei 2012 SMA Negeri mengumumkan hasil kelulusan untuk anak kelas dua belas.”
Pada kalimat (7) tanda baca titik (.) digunakan di tengah kalimat yang seharusnya dibubuhi tanda koma karena kalimat tersebut adalah kalimat setara yang didahului kata “tetapi”. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (7) adalah sebagai berikut  :
(7a) “Pada tahun ini tidak hanya SMA Negeri 4 saja yang mendapatkan kelulusan 100 persen, tetapi ada juga beberapa SMA lainnya yang lulus dengan 100 persen.
Pada kalimat (8) kesalahan terjadi pada pertengahan kalimat yang dibubuhi tanda titik yang seharusnya dibubuhi tanda koma karena kalimat kedua masih menjeaskan kalimat pertama.
(8a) “..pada tahun ini rata- rata sekolah lulus 100 persen. Hal ini merupakan hasil yang membanggakan.”
Pada kalimat (9) tidak digunakan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat yang pertama,  seharusnya digunakan tanda baca (,) karena kalimat kedua merupakan anak kalimat yang mengiringi induk kalimat (kalimat pertama). Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (9) adalah sebagai berikut  :
(9a) “Oleh karena itu, ada baiknya siswa siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional pada tahun berikutnya lebih meningkatkan kualitas belajar dan mengurangi waktu bermain agar nantinya bias mencapai kelulusan 100% dengan nilai yang memuaskan.”
Dari hasil analisis tanda baca titik tersebut ditemukan 10 kesalahan. Di antaranya kesalahan penggunaan tanda titik pada intonasi akhir kalimat, kesalahan penggunaan tanda titik pada kalimat yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat, kemudian kesalahan penggunaan tanda titik pada pertengahan kalimat yang masih menjelaskan kalimat sebelumnya sehingga kalimat menjadi rancu.

b.      Tanda Koma

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca koma (,) yang tidak tepat.
(10) ‘…seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN perasaan mereka menjadi takut…”
(11) “Oleh karena itu kita harus meningkatkan kinerja belajar...”
(12)  “…sekarang harus berusaha agar kelulusan, bisa lancar…”
 (13) “Oleh sebab itu kita harus lebih meningkatkan kualitas belajar…”
(14) “…bisa menduduki peringkat ke-3 se-Maluku,..”
(15): “Hal ini merupakan tanda kebanggaan bagi Kota Ambon, karena di    tahun-tahun sebelumnya…”
(16) “… kelulusan belum mencapai presentase maksimal yaitu 100%. Hanya 80- 90% saja.”
(17) “…Bukan hanya para siswa yang senang tetapi para guru juga senang dan bangga kepada semua anak didiknya…”
(18): “…Namun disetiap daerah-daerahpun…”
(19) “… Namun guru tidak hanya memiliki LKS saja, …”
(20) “… Oleh sebab itu kita harus meningkatkan kualitas belajar …”
(21) “… Oleh karena itu anak-anaknya lebih bersemangat untuk lebih belajar lagi dan lagi …”
(22): “… Akan tetapi ditahun ajaran ini tingkat kelulusan semakin tinggi …”
(23) “…Tetapi yang paling penting adalah berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa…”
Pada kalimat (10) sampai (11) tidak digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya di pakai untuk ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimmat. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (10) sampai (11) adalah sebagai berikut :
(10a) “Seluruh siswa kelas 3 mengikuti UN, perasaan mereka menjadi takut…”
 (11a) “…Oleh karena itu, kita harus meningkat kinerja belajar…”
Pada kalimat (12) tidak perlu menggunakan tanda baca koma (,) karena kalimat tersebut masih merupakan rangkaian kalimat sebelumnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (12) adalah sebagai berikut :
(12a) “…sekarang harus berusaha agar kelulusan bisa lancar…”
Pada kalimat (13) tidak digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya di pakai untuk menghubungkan antar kalimat. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (13) adalah sebagai berikut :
(13a) “Oleh sebab itu, kita harus lebih meningkatkan kualitas belajar…”
Pada kalimat (14) penempatan tanda koma pada akhir kalimat seharusnya tanda titik pada akhir kalimat. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (14) adalah sebagai berikut :
 (14a) “… bisa menduduki peringkat ke-3 se-Maluku.”
Pada kalimat (15) menggunakan tanda baca koma (,) di belakang kata yang seharusnya tidak menggunakan tanda baca koma. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (15) adalah sebagai berikut :
(15a) “Hal ini merupakan tanda kebanggaan bagi Kota Ambon, karena di   tahun-tahun sebelumnya…”
Pada kalimat (16) tidak digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya dipakai untuk ungkapan penghubung antar kalimat. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (16) adalah sebagai berikut :
(16a) “Karena pada awal sekolah ini dibuka, kelulusan belum mencapai presentase maksimal yaitu 100%, hanya 80-90% saja, …”
Pada kalimat (17) tidak memberikan tanda koma setelah kalimat “bukan hanya para siswa yang senang” karena tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (17) adalah sebagai berikut :
(17a) “Bukan hanya para siswa yang senang, tetapi para guru juga senang dan bangga kepada semua anak didiknya.”
Pada kalimat (18) sampai (23) tidak digunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya dipakai untuk ungkapkan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat.  Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (18) sampai (23) adalah sebagai berikut :
(18a) “… Namun, di setiap daerah-daerahpun …”
(19a) “… Namun, guru tidak hanya memiliki LKS saja, …”
 (20a) “… Oleh sebab itu, kita harus meningkatkan kualitas belajar …”
 (21a) “… Oleh karena itu, anak-anaknya lebih bersemangat untuk lebih belajar lagi dan lagi…”
 (22a) “… Akan tetapi, ditahun ajaran ini tingkat kelulusan semakin tinggi …”.
(23a) “…Tetapi, yang paling penting adalah berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa…”
Dari hasil analisis penelitian tanda baca koma tersebut ditemukan 13 kesalahan. Di antaranya kesalahan penggunaan tanda baca yang dipakai pada kalimat yang seharusnya tidak dibubuhi tanda koma, kesalahan penggunaan tanda koma pada kalimat yang tidak dibubuhi tanda koma pada kalimat yang terdapat penguhubung antar kalimat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, oleh sebab itu, akan tetapi, tetapi. Kemudian kesalahan penggunaan tanda koma pada akhir kalimat yang seharusnya dibubuhi tanda titik.

c.       Tanda Seru

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca seru (!) yang tidak tepat.
(24) “…siswa-siswi SMA negeri 4 lulus 100%!!!...”
Pada kalimat (24) tanda baca seru (!) digunakan di akhir kalimat, seharusnya di akhir kalimat digunakan tanda baca titik (.). Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (24) adalah sebagai berikut :
(24a) “…siswa-siswi SMA negeri 4 lulus 100%.”
Dari hasil analisis tanda seru tersebut ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan tanda seru yang tidak tepat pada akhir kalimat seharusnya pada akhir kalimat dibubuhi tanda titik.

d.   Tanda Hubung

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca hubung (-) yang tidak tepat.
(25) “… apalagi dapat peringkat ke 3 …”
(26) “Seluruh siswa siswi untuk kelas 3 mengikuti UN.”
(27) “Untuk kelulusan SMA tahun ini, Maluku menempati peringkat ke 3 setelah Buru”
(28) “… orang tua siswa & siswi, dan guru guru yang mengajar …”.
(29) “Kota Ambon menduduki peringkat ke 3 seMaluku.”
(30) “… Hal ini juga merupakan usaha keras oleh siswa siswi …”
(31) “… Awalnya para siswa dan siswi merasa sangat cemas …”
(32) “… dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/siswi SMA N 4 lulus 100% …”
(33) “Survey menunjukkan bahwa SMA Aru dapat peringkat ke 3.”
(34) “… Kelulusan pada tahun 2011, 2012 membuahkan hasil yang sangat baik …”
(35) “ Ini sangat membanggakan dan perlu dipetahankan bagi tahun2 selanjutnya.”
(36) “Kelulusan ujian nasional tahun 2011- 2012 di SMA 4 Kota Ambon cukup memuaskan bagi para siswa dan siswi.”
(37) “… Pada tahun 2011 siswa dan siswi naik kelas …”
(38) “Dengan banyaknya sekolah yang lulus 100% membuat Kota Ambon meraih peringkat ke 3.”
(39) “… Tahun ini Kota Ambon mendapat urutan ke3 seprovinsi Maluku…”
(40) “Seluruh siswa dan siswi kelas 3 mengikuti Ujian Nasional dan nilai sekolah mereka bagus dibandingkan tahun2 sebelumnya.”
(41): “… untuk SMP kelulusan tahun ini sangat mengecewakan diperkirakan atau mamang 400 siswa dan siswi tidak lulus …”
(42) “… Kota Ambon dapat peringkat ke 3, seluruh SMA dinyatakan lulus dengan nilai yang baik…”
(43) “Setelah menjalani Ujian Nasional ternyata SMA Kota Ambon menempati peringkat ke 3.”
(44) “Banyak beredarnya kabar burung di Kota Ambon yang memperkirakan bahwa seluruh SMK se-Kota Ambon dinyatakan tidak lulus 100%.”
(45) “Untuk seluruh siswa dan siswi SMA sederajat, tahun ajaran 2011/2012 SMA di Kota Ambon mendapat hasil yang memuaskan.”

Pada kalimat (25) samapi (45) tidak menggunakan tanda baca penghubung (-) pada kalimat-kalimat tertentu. Dengan demikian ejaan yang sesuai dengan kalimat (25) samapi (45) adalah sebagai berikut :
(25a) “… apalagi dapat peringkat ke-3 …”
 (26a) “… Seluruh siswa-siswi untuk kelas 3 mengikuti UN …”
(27a) ‘… Untuk kelulusan SMA tahun ini, Maluku menempati peringkat ke- 3 setelah Buru…”
(28a) “… orang tua siswa- siswi, dan guru-guru yang mengajar …”
(29a) “Kota Ambon menduduki peringkat ke-3 se-Maluku.”
(30a) “… Hal ini juga merupakan usaha keras oleh siswa- siswi …”
(31a) “… Awalnya para siswa-siswi merasa sangat cemas ...”
(32a) “… dan guru terakhir mengumumkan bahwa siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 4 lulus 100% …”
 (33a) “Survey menunjukkan bahwa SMA Aru dapat peringkat ke- 3.”
(34a) “… Kelulusan pada tahun 2011-2012 membuahkan hasil yang sangat baik …”
 (35a) “… Ini sangat membanggakan dan perlu dipetahankan untuk tahun- tahun selanjutnya …”
 (36a) “Kelulusan ujian nasional tahun 2011- 2012 di SMA Negeri 4 Kota Ambon cukup memuaskan bagi para siswa- siswi.”
(37a) “… Pada tahun 2011 siswa-siswi naik kelas …”
(38a) “Dengan banyaknya sekolah yang lulus 100% membuat Kota Ambon meraih peringkat ke-3.”
(39a) “… Tahun ini Kota Ambon mendapat urutan ke-3 se- Provinsi Maluku …”
(40a) “Seluruh siswa-siswi kelas 3 mengikuti Ujian Nasional dan nilai sekolah mereka bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.”
(41a) “…untuk SMP kelulusan tahun ini sangat mengecewakan diperkirakan atau memang 400 siswa-siswi yang tidak lulus…”
(42a) ‘… Kota Ambon dapat peringkat ke 3, seluruh SMA dinyatakan lulus dengan nilai yang baik…”
(43a) “… setelah menjalani Ujian Nasional ternyata SMA Kota Ambonmenempati peringkat ke- 3…”
(44a) “Banyak beredarnya kabar burung di Kota Ambon yang memperkirakan bahwa seluruh Sekolah Menengah Kejuruan se-Kota Ambon dinyatakan tidak lulus 100%.”
(45a) “… Untuk seluruh siswa- siswi SMA sederajat, tahun ajaran 2011/201S2 SMA di Kota Ambon mendapat hasil yang memuaskan…”
Dari hasil analisis tanda hubung tersebut ditemukan 20 kesalahan. Di antaranya kesalahan penggunaan tanda hubung pada kata ke-3 yang seharusnya dibubuhi tanda hubung “ke-3”. Kesalahan yang dilakukan pada kata ke-3, se kabupaten, se Maluku, siswa siswa, guru guru, se kepulauan, tahun2, se provinsi. Kesalahan tanda hubung inilah yang merupakan kesalahan yang paling dominan terjadi pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Kota Ambon.

e.       Tanda Titik Dua

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca titik dua (:) yang tidak tepat.
(46) Angka kelulusan tingkat SMA di Kota Ambon semakin meningkat: ini terlihat hanya 10% yang tidak lulus di semua SMA yang berada di Kota Ambon.
Pada kalimat (46) tidak di pakai tanda baca titik dua (:) pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Oleh sebab itu, seharusnya digunakan tanda baca koma (,) karena kalimat berikutnya hanya untuk merangkai dan memperjelas kalimat sebelumnya. Dengan demikian, ejaan yang sesuai dengan kalimat yang di atas adalah sebagai berikut :

(46a) “… Angka kelulusan tingkat SMA di Kota Ambon semakin meningkat, ini terlihat hanya 10% yang tidak lulus disemua SMA yang berada di Kota Ambon…”
Dari hasil analisis tanda titik dua tersebut ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan tanda titik dua pada akhir kata “meningkat”, seharusnya dibubuhi tanda koma karena kalimat akhir berfungsi untuk menjelaskan kalimat sebelumnya.

f.       Tanda Garis Miring

Berikut ini data yang menunjukkan kesalahan penempatan pungtuasi yang disebabkan oleh penggunaan tanda baca garis miring (/) yang tidak tepat.
(67) Dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/ siswi SMAN 4 lulus 100%.
Pada kalimat (67) seharusnya:Dan para guru terakhir mengumumkan bahwa siswa/siswi SMAN 4 lulus 100%.
Kesalahan yang dilakukan adalah penggunaan tanda garis miring seharusnya diganti dengan tanda hubung (-), karena tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur kata ulang.
(68) Mulai dari belajar yang lebih ekstra/ ditingkatkan.
Pada kalimat (68) seharusnya: Mulai dari belajar yang lebih ekstra ditingkatkan.
Kesalahan yang dilakukan adalah penggunaan tanda garis miring yang seharusnya dihilangkan, karena pada kalimat tersebut tanda garis miring tidak untuk sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.
Dari hasil analisis tanda garis miring tersebut ditemukan 1 kesalahan, yaitu penggunaan tanda garis miring pada kata siswa/ siswi yang seharusnya dibubuhi tanda hubung.

BAB V
Penutup

A.           Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kesalahan penggunaan tanda baca pada skripsi mahasiswa ditemukan sebanyak 209 kasus kesalahan yang meliputi kesalahan penggunaan tanda baca titik (.) sebanyak 34 kesalahan, kesalahan penggunaan tanda baca koma (,) sebanyak 163 kesalahan, kesalahan penggunaan tanda hubung (-) sebanyak 1 kesalahan, kesalahan penggunaan tanda tanya (?) sebanyak 4 kesalahan, dan kesalahan penggunaan tanda titik dua (:) sebanyak 7 kesalahan. Sementara itu, kesalahan penggunaan tanda seru (!), kesalahan penggunaan tanda petik titik koma (;), kesalahan penggunaan tanda petik tunggal (‘…’), kesalahan penggunaan tanda petik (“…”), dan kesalahan penggunaan garis miring (/) tidak ditemukan adanya kesalahan. Kesalahan tanda baca disebabkan adanya perbedaan persepsi dalam penggunaan tanda baca yang sesuai dengan pedoman EIB.
Berdasarkan hasil penelitian Kesalahan Penggunaan Tanda Baca pada skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia telah ditemukan beberapa kesalahan penggunaan tanda baca, yaitu penggunaan tanda titik (.) 14 kesalahan; penggunaan tanda koma (,) 33 kesalahan; penggunaan tanda seru (!)1 kesalahan; penggunaan tanda hubung (-) 41 kesalahan; penggunaan tanda titik dua (:) 1 kesalahan; penggunaan tanda garis miring (/) 2 kesalahan. Dan dari keterangan tersebut, maka kesalahan penggunaan tanda hubung  (-) dalam karangan argumentasi merupakan kesalahan dominan yang dilakukan oleh siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Kota Ambon.

B.            Saran

1.      Mahasiswa hendaknya berusaha untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penggunaan pungtuasi.
2.      Melihat banyak ditemukannya kesalahan khususnya kesalahan penggunaan pungtuasi, maka perlu mendapat perhatan khusus dari dosen pembimbing guna penyempurnaan penulisan skripsi mahasiswa.

















Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. (2006).Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Efendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogjakarta: UGM Press.Ernawati. 2009. EBI & Seputar Kebahasa- Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka
Hastuti PH, S. 2003. Sekitar Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda.
Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 November 2016 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, Jakarta, 2016.
Sudaryanto. 2001. Metodologi dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Liliali Kabupaten Buru ”

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Secara umum pendidikan merupakan salah satu dari berbagai investasi manusia yang sangat memb...