Jumat, 31 Mei 2019

“Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Liliali Kabupaten Buru ”


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara umum pendidikan merupakan salah satu dari berbagai investasi manusia yang sangat memberi andil dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan maka seorang individu akan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga menjadi manusia yang memiliki sumber daya yang berkualitas sesuai harapan. Dengan kualitas sumber daya manusia yang baik diharapkan manusia dapat membuka cakrawala berpikir, memperluas wawasan serta menguasai pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nantinya dapat memberikan kontribusi yang besar dalam memajukan pembangunan nasional.
Pendidikan merupakan salah satu faktor utama bagi pengembangan sumber daya manusia karena pendidikan diyakini mampu meningkatkan sumber daya manusia sehingga dapat menciptakan manusia produktif yang mampu memajukan bangsanya, (Kunaryo, 2000).Pendidikan dalam arti luas didalamnya terkandung pengertian mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok.
Sebagaimana tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia NO.20 tahun 2003 pasal 3 (2005:7) tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa: Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selain meningkatkan sumber daya manusia lewat lembaga-lembaga formal ada juga lembaga nonformal yan dapat memberikan peningkatan pendidikan terhadap anak-anak salah satunya adalah keluarga.Namun hal yang paling mendasar adalah bagaimana peran orang tua dan sekolah dalam melihat, mendidik dan mengembangkan kualitas pendidikan anak. Perkembangan pendidikan dan masyarakat memberi dampak signifikan terhadap hasil proses pendidikan. Awal mula pendidikan di mulai dari keluarga sebelum masuk ke jalur pendidikan formal.Ketika siswa/anak didik telah masuk jalur pendidikan formal tidak berarti tanggung jawab pendidikan sepenuhnya beralih pada guru.Peran orang tua juga sangat menentukan tingkat perkembangan anak dalam menempuh pendidikan.
Menurut Giddens : Pendidikan merupakan dasar berkembangnya sebuah Negara di era globalisasi. Hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan merupakan tujuan dasar atau kekuatan untuk mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan zaman secara universal.
Pendidikan adalah tanggung jawab semua masyarakat, bukan hanya tanggung jawab sekolah. Konsekuensinya semua warga negara memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan pendidikan, sehingga ketika ada anggota masyarakat yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang, maka masyarakat yang kaya atau tergolong sejahtera memiliki kewajiban moral untuk menjadi orang tua asuh bagi kelangsungan sekolah anak yang putus sekolah pada tahun ini mencapai puluhan juta anak di seluruh Indonesia.
Pendidikan itu dimulai dari keluarga, sehingga penting untuk dimiliki oleh seluruh orang tua untuk membentuk karakter manusia masa depan bangsa ini, keluarga adalah lingkungan yang paling pertama dan utama dirasakan oleh seorang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Karena itu pendidikan di keluarga yang mencerahkan dan mampu membentuk karakter anak yang soleh dan kreatif adalah modal penting bagi kesuksesan anak di masa – masa selanjutnya.
Menurut Robert Linton (1936), teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.Berdasarkan teori ini orang tua dan guru mempunyai peran tertentu diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mendidik orang lain, karena dia adalah seorang pendidik (orang tua atau guru). Jadi karena statusnya adalah pendidik maka dia harus mendidik yang orang lain. Perilaku ditentukan oleh peran sosial.
            Desa Sawa merupakan salah satu desa yang menjadi pusat kecamatan Lilialy yang terdiri dari 9 sekolah salah satunya sekolah yang berbasis Agama Islam Madrasah Tsanawiyah LKMD Sawa.Sekolah Madarasah Tsanawiyah LKMD Sawa ini merupakan salah satu sekolah yang dianggap masayarakat paling tepat untuk pendidikan agama Islam bagi anak-anak mereka.Banyak orang tua murid bahkan sebagian masyarakat Desa Sawa dan sekitarnya sangat memberikan apresiasi yang sangat yang baik terhadap yayasan yang mendidrikan sekolah Madarasah Tsanawiyah LKMD Sawa.
Sekolah MTs LKMD Sawa adalah salah satu sekolah yang berbasis islam, sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah swasta agama islam yang ada di Desa Sawa dan sejajaran Kecamatan Lilialy Desa Sawa Kabupaten Buru Utara, sekolah yang didrikan oleh sebuah yayasan yakni Lembagaa Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) perancangan sekolah ini dimulai pada bulan juli 2006, Namun perencanaan itu baru bisa direlisasikan  pada bulan agustus 2006 dengan jumlah siswa yang sangat minim yakni berjumlah 9 orang dan jumlah guru 13 orang.
Lokasi awal sekolah MTs. LKMD yaitu menempati lokasi sekolah SD Negri Sawa karena tidak memiliki gedung sendiri (dala proses pembangunan), selama beberapa bulan beroprasi pada SD Negri Sawa mengalami perbaikan renofasi sekolah, dan oleh karena itu maka sekolah MTs. LKMD harus berpindah lokasi kesekolah yang lain, yakni SD Al-Hilal Sawa.Oktober 2006 sekolah MTs. LKMD di pindahkan ke SD Al-Hilal Desa Sawa, disini sekolah MTs. LKMD beroperasi cukup lama sejak oktober 2006 hingga desember 2007 bangunan sekolah MTs. LKMD baru berhasil dibangunkan dan diselesaikan yaitu dengan satu buah gedung  yang didalamnya memiliki 4 ruang yakni 3 ruang kelas dan 1 ruang guru, kemudian pada januari 2008 sekolah MTs. LKMD berhasil di  diresmikan dan menempati gedung sendiri  dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang dan jumlah guru 15 orang, hinggmlaha saat ini sekolah MTs LKMD Sawa mempunyai jumlah siswa 430.
Berjalan dengan perkembangan yang ada pola masyarakat ini sebagian besar jauh berubah ketika adanya aturan atau kebijakan sekolah MTs. LKMD sehingga timbulnya analisa masyarakat bahwa kebijakan-kebijakan sekolah MTs. LKMD mengikat sehingga ruang gerak siswa-siswi terbatas di bandingkan dengan sekolah-sekolah sejajaran MTs. LKMD.
Yang menjadi atau menimbulkan presepsi masyarakat terhadap sekolah MTs. LKMD adalah beberapa aturan yang di terapkan oleh sekolah untuk membina siswa-siswinya yakni pertama, proses pembelajaran seharian penuh (full day) adalah salah satu bentuk aturan yang dibuat sehingga seorang siswa dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan meminimalisir jam bermain di luar jam sekolah (aturan ini berlaku, setiap hari normal pendidikan yakni Senin-Sabtu). Contohnya jam belajar siswa di sekolah maksimal 6 jam (dari jam 07.00-12.00 WIT) namun ditambahkan lagi 5 jam sehingga maksimal belajar siswa disekolah 11 jam (dari jam 07.00-05.00 WIT). Kedua, disiplin point yaitu aturan yang dibuat untuk sebagai alasan atau sanksi ketika siswa-siswi melanggar aturan tersebut. Contohnya ketika siswa/siswi ke sekolah harus membawah perlengakapan yang ditentukan oleh sekolah misanya topi, pena, buku, Alquran dan sebagainya, jika siswa melanggarnya maka disiplin sekolah yang dikenakannya ialah point atau penilaian 1 nilai (negatif) dan siswa tersebut diwajibkan untuk tidak mengikuti pelajaran.Aturan ini yang dibuat sehingga muncullah kontrafersi pandangan masyarakat yang menyetujui dan tidak menyetujui.
Pada prinsipnya orang tua yang menyetujui anaknya bersekolah di sekolah MTs. LKMD karena sekolah MTs. LKMD adalah sekolah Islam, yakni sekolah yang berbasis islam, sehingga motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak disekolah tersebut sehingga pendalaman religi (Islam) jauh lebih baik danadanya aturan tersebut siswa-siswi bersikap disiplin, soleh, sopan, ramah dan lain-lain. Apa pun konsekwensinya jika aturan tersebut sebagai pedoman yang baik untuk mengembangkan dan mencerdaskan kualitas pendidikan anak maka tidak ada alasan untuk mengintimidasi aturan sekolah tersebut.
Namun di sisi lain ada masyarakat yang tidak mengingini aturan tersebut berlaku karena ada pertimbangan-pertimbangan tersebut bahwaaturan full time bukanlah cara yang tepat untuk mengembangkan kemampuan atau meningkatkan kualitas pendidikan anak secara maksimal, pertama, kemampuan anak untuk menyerap atau menerima materi secara normal hanya 30 menit karena kejenuhan dan ketidakbetaan anak dalam mengikuti jam belajar,serta dari 100% materi yang disampaikan oleh guru di sekolah maksimal 60-85% materi tersebut diterima dan dapat dipahami oleh siswa-siswi, kedua perlu adanya keseimbangan dalam mendidik dan mengontrol anak, dalam hal ini adanya keseimbanagan antara orang tua dan sekolah untuk mendidik anak, ketiga kesehatan anak perlu diperhatikan dan sebagainya. Pada aturan disiplin point substansi pemikirannya ialah apakah aturan yang ada dapat memberikan dampak positif atau negatif.? Yang dimaksud dari pertanyaan tersebut bahwa kira-kira dengan adanya disiplin tersebut anak dapat menjadi yang terbaik atau aturan tersebut yang memanjakan anak, misalnya apabila salah satu murid tidak membewah perlengkapan maka diberikan sanksi untuk tidak mengikuti jam belajar di sekolah (kembali ke rumah), jika 10-20 murid melangar aturan tersebut selama 1 minggu maka terjadilah sebuah kebiasaan untuk murid tersebut untuk hal ini. Maka dari aturan yang ada membuat sehingga masyarakat memprotes dan mengeluarkan anak dari sekolah MTs. LKMD. Dan sepanjang peraturan ini diterapakan oleh pihak sekolah dan dari hasil yang kami temukan sudah sebanyak 12 anak yang keluar dari sekolah MTS.LKM dengan kasus yang hampir sama yakni masalah peraturan yang diterapkan baik sistem point maupun full day.
Menyikapi kondisi di atas maka penulis merasa perlu melakukan suatu penelitian dengan judul “Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Liliali Kabupaten Buru ”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan demikian : bagaimana pandangan masyarakat terhadap sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru.?

C.    Tujuan Penelitian
Ø  Untuk mengetahui dan menjelaskan pandangan masyarakat terhadap sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah,
1.      Dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi masyarakat dalam melihat peran penting orang tua dan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak di sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru
2.      Menjadi bahan masukan bagi pihak sekolah dan masyarakat.

E.     Kerangka Teori
Dengan studi mengenai Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs, penelitian ini didasarkan pada beberapa teori atau pendapat parah ahli yang dipandang dapat mendukung pemecahan permasalahan yang diteliti.
v  Fungsionalisme Struktural (Talcott Parsons)
A G I L
Suatu fungsi adalah “suatu kompleks kegiatan-kegiatan yang diarahkan kepada pemenuhan suatu kebutuhan-kebutuhan sistem itu”. Mengunakan defenisi itu, Parsons percaya bawah ada empat emperatif fungsional yang perlu bagi (khas pada) semua sisitem _ adaptation (A) adaptasi, goal attainment (G) pencapaian tujuan_integration (I) integrasi_dan latency (L) pemeliharaan pola.  Keempat teori fungsional itu dikenal sebagai skema AGIL.Agar dapat lestari suatu sistem harus melaksanakan keempat fungsi tersebut.
1.      Adaptasi : suatu sistem harus mengatasi kebutuhan mendesak yang bersifat situasional eksternal. Sistem itu harus beradaptasi dengan lingkungan dan mengadaptasikan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
2.      Pencapaian tujuan : suatu sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3.      Integrasi : suatu sistem harus mengatur antar hubungan bagian-bagian dari komponennya. Ia juga harus mengelolah hubungan di antar tiga imperatif fungsional lainnya (A, G, L)
4.      Latensi : suatu sistem harus menyediakan, memelihara, dan memperbaharui baik motivas para individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan menopang motivasi itu.
Teori tersebut melihat masyarakat atau sekolah MTs sebagai sistem sosial seperti yang di gambarkan dalam skema AGIL. Sistem yang satu harus berhubungan dengan sistem yang lain sehingga berjalan dengan baik. Sangat jelas lewat teori ini dijelaskan berdasarkan konsep yang ada.Sekolah MTs dan masyarakat mempunyai fungsi dan peran masing-masing. Dalam hal menetapkan dan merealisasikan aturan atau kebijakan tentang sistem point dan full day sekolah MTs  suatu sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya. Sehingga alhasil daripada proses tersebut maksimal.
v  Teori Peran (Robert Linton)
            Teori peran adalah sebuah sudut pandang dalam sosiologi dan psikologi sosial yang menganggap sebagian besar aktifitas harian diperankan oleh kategori-kategori yang ditetapkan secara sosial misalnya ibu, manajer, guru. Setiap peran sosial adalah serangkaian hak, kewajiban, harapan, norma, dan perilaku seseorang yang harus dihadapi dan dipenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang-orang bertindak dengan cara yang dapat diprediksikan, dan bahwa kelakuan seseorang bergantung pada konteksnya, berdasarkan posisi sosial dan faktor-faktor lain.
           Kunci pemahaman teori ini adalah bahwa konflik peran terjadi ketika seseorang diharapkan melakukan beberapa peran sekaligus yang membawa pertentangan harapan. Teori peran sangat berkaitan erat dengan yang namanya sosialisasi. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannnya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan teori peran. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminology aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang di tetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut teori ini masyarakat yang dibarengi dengan yang namanya pemahaman tentang peran-peran secara otomatis akan lebih paham dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, karena segala sesuatu yang diajarkan dengan peran adalah salah satu fakor utama dalam mencapai kepuasan tersendiri bagi individu untuk menjalankan sebuah fungsi. Hal ini dikaitkan dengan bagaimana seorang individu atau masyarakat memahami apa yang dilakukan oleh agen sosialisasi. Oleh karena itu diperlukan peran yang aktif dalam proses pensosialisasian atas individu atau masyarakat agar tercapai keinginan yang disepakati.
Sementara itu Menurut Robert Linton (1936), teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya.Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.Menurut teori ini seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut.
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, relasi orang tua dan guru mendidik dan mengembangkan kemampuan serta kualitas pendidikan anak.
            Untuk dapat melihat secara sederhana penjelasan mengenai Teori Peran, apa dan bagaimana definisi serta mekanisme dari teori peran itu sendiri, maka terlebih dahulu dapat kita lihat penjelasan teori peran yang dikaji terhadap hubungan sosial antar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan antar manusia terdapat tiga teori yang dapat dijadikan acuan untuk membantu menerangkan model dan kualitas hubungan antar manusia tersebut, salah satunya adalah teori peran.
            Dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang biasanya manusia akan menjadi apa dan siapa, tergantung pada lingkungan sekitarnya atau pada siapa ia bergaul. Manusia tidak bisa hidup sendirian, sebab terdapat adanya rasa saling ketergantungan satu sama lain. Dalam pergaulan hidup, manusia menduduki fungsi yang bermacam-macam.Dalam hubungan antar manusia terdapat seorang pemimpin dan bawahan, pemerintah dan masyarakatnya, dan lain sebagainya.
            Ia menunjukkan bahwa aktor politik umumnya berusaha menyesuaikan tindakannya dengan norma-norma perilaku yang berlaku dalam peran yang dijalankannya. Sedangkan iamendeskripsikan peranan institusi secara behavioral, dimana model teori peran menunjukkan segi-segi perilaku yang membuat suatu kegiatan sebagai institusi. Kerangka berpikir teori peran juga memandang individu sebagai seorang yang bergantung dan bereaksi terhadap perilaku orang lain.
            Perilaku individu dalam kesehariannya hidup bermasyarakat berhubungan erat dengan peran.Karena peran mengandung hal dan kewajiban yang harus dijalani seorang individu dalam bermasyarakat.Sebuah peran harus dijalankan sesuai dengan norma-norma yang berlaku juga di masyarakat. Seorang individu akan terlihat status sosialnya hanya dari peran yang dijalankan dalam kesehariannya.
v  Teori Interaksi Simbolik
Pada Hakikatnya, komunikasi merupakan kegiatan primer yang tidak akan lepas dari seluruh manusia. Komunikasi memilki pengertian yakni proses penyampaian maksud atau pesan dari sang komunikator kepada komunikan baik dalam bentuk satu arah atau dua arah,dengan menggunakan media (alat bantu) maupun tidak, dengan tujuan terwujudnya mutual understanding, perubahan pemikiran dan perilaku. Komunikasi memiliki dua jenis dalam bentuk penyampaiannya, yakni verbal dan non verbal.Verbal itu mencakup lisan dan tulisan, sedangkan non verbal mencakup mimik wajah dan bahasa tubuh.
Membahas tentang komunikasi, hal ini juga memiliki turunan teori dalam cara menyampaikan maksud dan tujuan dari komunikator kepada komunikan yakni interaksi simbolik. Esensi dari interaksi simbolik yakni adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2003: 59).Paham interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya.Paham interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik, mengarahkan perhatian kita pada interaksi antar individu, dan bagaiman hal ini dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.
Dalam terminology George Herbert Mead, setiap isyarat non verbal dan pesan verbal yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Sesuai dengan pemikiran-pemikiran Mead, definisi singkat dari tiga ide dasar dari interaksi simbolik adalah :
a.       Mind (pikiran) - kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain.
b.      Self (diri pribadi) - kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya.
c.       Society (masyarakat) - hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.

Charron (1979) menyebutkan pentingnya pemahaman terhadap simbol-simbol ketika seseorang menggunakan teori interaksionisme simbolis.Simbol adalah objek sosial dalam suatu interaksi.Ia digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan oleh orang – orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan dan mengubah objek tersebut di dalam interaksi. Simbol sosial tersebut dapat mewujud dalam bentuk objek fisik (benda-benda kasat mata); kata-kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan, ide-ide, dan nilai-nilai), serta tindakan (yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Di setiap lingkungan memiliki kontrak khusus yang terbentuk karena budaya masyarakat yang ada mengenai pemahaman interaksi pada suatu simbol.Yang mana pemahaman simbol itu terbentuk karena adanya interaksi sosial dan budaya dari suatu tempat tertentu. Dari mulai rumah, lingkungan sekitar rumah, sekolah, kampus, pada sebuah kota, negara bahkan perspektif interaksi simbolik yang dikomunikasikan pemahamannya diseluruh negara.
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:
1.      Pentingnya makna bagi perilaku manusia
Tema ini berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut : Manusia, bertindak, terhadap, manusia, lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, Makna dimodifikasi melalui proses interpretif .
2.      Pentingnya konsep mengenai diri (self concept)
Tema ini berfokus pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya dengan cara antara lain : Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui nteraksi dengan orang lain, Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku Mead seringkali menyatakan hal ini sebagai : ”The particular kind of role thinking – imagining how we look to another person” or ”ability to see ourselves in the reflection of another glass”.
3.      Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema ini berfokus pada dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah: Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial, Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial
Teori interaksi simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi simbol. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut. Asumsi-asumsi: a. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi melalui tindakan bersama dan membentuk organisasi. b. Interaksi simbolik mencangkup pernafsiran tindakan. Interaksi non simbolik hanyalah mencangkup stimulus respon yang sederhana.Teori ini pada kesimpulannya menyatakan bahwa Interaksi sosial pada hakekatnya adalah Interaksi simbolik. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol, yang lain memberi makna atas simbol tersebut.
v  Implikasi Keilmuan
Implikasi dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau ilmu dan metodologi berikut ini, antara lain:
1.      Teori sosiologikal modern (Modern Sociological Theory) menurut Francis Abraham (1982) dalam Soeprapto (2007), dimana teori ini menjabarkan interaksi simbolik sebagai perspektif yang bersifat sosial- psikologis. Teori sosiologikal modern menekankan pada struktur sosial, bentuk konkret dari perilaku individu, bersifat dugaan, pembentukan sifat- sifat batin, dan menekankan pada interaksi simbolik yang memfokuskan diri pada hakekat interaksi. Teori sosiologikal modern juga mengamati pola-pola yang dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan oleh hubungan sosial, dan menjadikan interaksi itu sebagai unit utama analisis, serta meletakkan sikap-sikap dari individu yang diamati sebagai latar belakang analisis.
2.      Perspektif interaksional (Interactionist perspective) merupakan salah satu implikasi lain dari interaksi simbolik, dimana dalam mempelajari interaksi sosial yang ada perlu digunakan pendekatan tertentu, yang lebih kita kenal sebagai perspektif interaksional (Hendariningrum. 2009). Perspektif ini menekankan pada pendekatan untuk mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial masyarakat, dan mengacu dari penggunaan simbol- simbol yang pada akhirnya akan dimaknai secara kesepakan bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.
3.      Konsep definisi situasi (the definition of the situation) merupakan implikasi dari konsep interaksi simbolik mengenai interaksi sosial yang dikemukakan oleh William Isac Thomas (1968) dalam Hendariningrum (2009). Konsep definisi situasi merupakan perbaikan dari pandangan yang mengatakan bahwa interaksi manusia merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) secara langsung. Konsep definisi situasi mengganggap bahwa setiap individu dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dari individu tersebut didahului dari suatu tahap pertimbangan-pertimbangan tertentu, dimana rangsangan dari luar tidak ”langsung ditelan mentah-mentah”, tetapi perlu dilakukan proses selektif atau proses penafsiran situasi yang pada akhirnya individu tersebut akan memberi makna terhadap rangsangan yang diterimanya.
4.      Konstruksi sosial (Social construction) merupakan implikasi berikutnya dari interaksi simbolik yang merupakan buah karya Alfred Schutz, Peter Berger, dan Thomas Luckmann, dimana konstruksi sosial melihat individu yang melakukan proses komunikasi untuk menafsirkan peristiwa dan membagi penafsiran-penafsiran tersebut dengan orang lain, dan realitas dibangun secara sosial melalui komunikasi (LittleJohn. 2005: 308).
5.      Teori peran (Role Theory) merupakan implikasi selanjutnya dari interaksi simbolik menurut pandangan Mead (West-Turner 2008: 105). dimana, salah satu aktivitas paling penting yang dilakukan manusia setelah proses pemikiran (thought) adalah pengambilan peran (role taking). Teori peran menekankan pada kemampuan individu secara simbolik dalam menempatkan diri diantara individu lainnya ditengah interaksi sosial masyarakat.
6.      Teori diri (Self theory) dalam sudut pandang konsep diri, merupakan bentuk kepedulian dari Ron Harrě, dimana diri dikonstruksikan oleh sebuah teori pribadi (diri). Artinya, individu dalam belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah teori yang mendefinisikannya, sehingga pemikiran seseorang tentang diri sebagaiperson merupakan sebuah konsep yang diturunkan dari gagasan-gagasan tentang personhood yang diungkapkan melalui proses komunikasi (LittleJohn. 2005: 311).
7.      Teori dramatisme (Dramatism theory) merupakan implikasi yang terakhir yang akan dipaparkan oleh penulis, dimana teori dramatisme ini merupakan teori komunikasi yang dipengaruhi oleh interaksi simbolik, dan tokoh yang menggemukakan teori ini adalah Kenneth Burke (1968). Teor ini memfokuskan pada diri dalam suatu peristiwa yang ada dengan menggunakan simbol komunikasi. Dramatisme memandang manusia sebagai tokoh yang sedang memainkan peran mereka, dan proses komunikasi atau penggunaan pesan dianggap sebagai perilaku yang pada akhirnya membentuk cerita tertentu.

F.     Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional
1.      Defenisi Konsep
1.1.Pendidikan merupakan suatu proses untuk membebaskan manusia dari keterblakangan, ketidaktahuan, ketidakbeardaban, membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang mengikat kemanusiaannya. (Freire dkk., 2009; 581-581).
1.2.Persekolahan merupakan alat bantu dalam pendidikan yang mengarahkan dan membawah manusia mendapatkan kebebasan itu. (Freire dkk., 2009; 581-581).
1.3. Sikap sosial adalah suatu predisposisi (keadaaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide, atau obyek  yang berisi komponen kognitif, affektif dan  behavior. Kognitif berhubungan dengan gejala fikiran dan afektif berhubungan dengan gejala perasaan dan konatif proses tendensi/ kecenderungan berbuat pada sesuatu obyek.  (Zimbardo dan Ebbesen, 2002).
1.4.Metode pendidikan atau pembelajaran adalah rencana yang sistemtis untuk menyampaikan informasi (Gerlach dan Elly)

2.      Defenisi Operasional
Beberapa Defenisi Operasional dan pengukurannya yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
2.1.Hubungan kerja sama antara masyarakat  dengan sekolah MTs. LKMD Sawa.
2.2.Pandangan masyarakat terhadap metode pembelajaran sekolah MTs. LKMD Sawa.
2.3.Metode pembelajaran sistem point dan full day sekolah MTs. LKMD Sawa

G.    Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Menurut Creswell (dalam Gunawan 2013:82) makna pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif-konstruktif (misalnya, makna-makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu), atau berdasarkan perspektif partisipatori.
H.    Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian selain didalam kerangka teoris juga dilandasi oleh pertimbangan teknis operasional. Untuk itu, lokasi dan seting penelitian dipertimbangkan dapat tidaknya dimasuki dan dikaji lebih mendalam. Kenyataan yang ada dilapangan, yaitu wilaya desa yang menjadi sasaran penelitian adalah Desa Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru tersebut dipertimbangkan berdasarkan pengamatan dengan alasan bahwa pandangan masyarakat terhadap sistem pembelajaran pendidikan di sekolah MTs LKMD Sawa.
1.      Informan Penelitian
Informan menjadi orang yang sangat penting dalam mendapatkan informasi menyangkut permasalahan penelitian ini, karena dalam penelitian informan menjadi kunci untuk mendapatkan data empiris (R. H. Soemitro.Hal 70). Infoman dalam penelitian ini berjumlah 11 informan yakni:
Ø  1 guru, Kepala Sekolah  MTs. LKMD : pembuat aturan
Ø  6 masyarakat :
a.       3 orang tua yang setuju dan
b.      3 oran tua tidak setuju
Ø  4 orang siswa :
c.       2 orang siswa : bermasalah dengan aturan
d.      2 orang siswa : taat pada aturan

Alasan penulis memilih informan guru (kepala sekolah MTs) yaitu merupakan pimpinan sekolah sekaligus mengeluarkan aturan sistem point dengan full day, dan siswa/siswi merupakan murid sekolah MTs yang menjalankan aturan sekolah sementara masyarakat merupakan penganalisa terhadap aturan sekolah.Dari informan yang ada merupakan sumber data untuk penulis jadikan sebagai penelitian untuk dijadikan sebagai bahan penulisan.
2. Teknik Pengumpulan Data
Data pada dasarnya merupakan informasi yang dipandang dapat memberikan gambaran mengenai suatu masalah atau keadaan.Data dipandang baik apabila data itu memperlihatkan kebenaran yang dapat dipercaya, dalam artian bisa memberikan gambaran mengenai suatu permasalahan atau keadaan secara sempurna dan lengkap.
a.      Observasi.
               Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala sosial psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan (R. H. Soemitro.Hal 62).Peneliti terlibat secara langsung dalam pengumpulan data lapangan untuk melihat secara langgsung relasi sosial antara orang tua dan sekolah.Posisi peneliti yaitu sebagai subjek yang berperan dalam merekam serta melihat berbagai kejadian yang sebenarnya maupun yang khusus dibuat untuk memenuhi kebutuhan penelitian.

b.      Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
               Salah satu metode pengumpulan data di lakukan melalui wawancara mendalam yaitu suatu kegiatan dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langgsung dengan menggungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para informan (R. H. Soemitro.Hal 39). Alat bantu yang digunakan adalah pedoman wawancara, alat perekam suara, dan dokumentasi melalui foto.
c.       Studi Kepustakaan
               Studi kepustakaan dilakukan untuk mencari data dan informasi, serta referensi yang berkaitan dengan dukungan yang berkaitan dengan tema penelitian, baik yang terdapat di perpustakaan, maupun yang terdapat dilokasi peneliti (R. H. Soemitro.Hal 117).
2.      Jenis Data Penelitian
Data-data yang dianalisis dalam penelitian ini dari dua sumber yaitu :
1.      Sumber data sekunder di peroleh dari bahan-bahan literatur berupa buku-buku diperpustakaan, majalah, suratkabar, dan lain-lain.
2.      Sumber data primer di peroleh dari hasil penelitian selama di lapangan  dan diadakan sistem survey untuk mengetahui bagaimana relasi sosial orang tua dengan sekolah

3.      Teknik Analisa Data
     Analisa data ini berdasarkan analisa kualitatif yakni analisa yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya, sehingga memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran yang sudah ada dan sebaliknya (R. H. Soemitro. Hal 104). Data yang berhasil dihimpun dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif, kemudian dianalisa secara deskritif yang berpedoman pada pedoman wawancara kemudian hasilnya diinterpretasi secara sosiologis, dan ditarik kesimpulan dari data yang diperoleh di lapangan.






BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENILITIAN

A.    Sejarah Sekolah MTs. LKMD Sawa
            Sekolah MTs. LKMD Sawa adalah salah satu sekolah yang berbasisIslam, sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah suasta yang berbasis agama Islam yang ada di Desa Sawa dan sejajaran Kecamatan Lilialy Desa Sawa Kabupaten Buru, sekolah yang didrikan oleh sebuah yayasan yakni Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) perancangan sekolah ini dimulai pada bulan Juli 2006, Namun perencanaan pembangunana sekolah itu baru bisa direlisasikan  pada bulan Agustus 2006 dengan jumlah siswa yang sangat minim yakni berjumlah 9 orang dan jumlah guru 13 orang.
            Lokasi awal sekolah MTs. LKMD yaitu menempati lokasi SD Negri Sawa karena tidak memiliki gedung sendiri (dalam proses pembangunan), selama beberapa bulan sekolah SD Negri Sawa mengalami perbaikan renofasi sekolah, dan menyebabkan sekolah MTs. LKMD harus berpindah lokasi kesekolah yang lain, yakni SD Al-Hilal Sawa.
            Oktober 2006 sekolah MTs. LKMD di pindahkan ke SD Al-Hilal Desa Sawa, disini sekolah MTs. LKMD beroperasi cukup lama sejak 0ktober 2006 hingga desember 2007 bangunan sekolah MTs. LKMD baru berhasil dibangunkan dan diselesaikan yaitu dengan satu buah gedung  yang didalamnya memiliki 4 ruang yakni 3 ruang kelas dan 1 ruang guru, kemudian pada januari 2008 sekolah MTs LKMD berhasil di  diresmikan dan menmpati gedung sendiri  dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang dan jumlah guru 15 orang, dengan gedung sekolah yang berjumlah 3 ruang kelas dan 1 buah ruang guru
            Selama perobrasi mulai 2006 hingga saat ini, sekolah MTs. LKMD mengalami banyak perubahan baik dari sarana parasarana ,sistem belajar sampai pada pergantian kepala sekolah, dan hingga saat ini sekolah MTs. LKMD  telah melakuka pergatian kepala sekolah sebanyak tiga kali.                                                                                                                                                                
B.     Keadaan Geografis.
Secara geoggrafis Desa Sawa adalah salah satu desa yang terletak di pesisir pantai bagian tengah, dan merupakan salah satu Desa yang paling terbesar sejajaran Kecamatn Lilialy, Kabupaten Buruh. Secara garis besar dapat digambarkan tentang keadaan lokasi penelitian sebagai berikut :
1.      Letak
Desa Sawa adalah pusat Kecamatan Lilialy, termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Buru, terletak pada arah Barat kota Kabupaten Buru. Jarak dari Desa Sawa ke Kantor Bupati Kabupaten Buru sekitar 12 Km. Waktu tempuh menuju pusat kota Kabupaten Buru kurang lebih 1 jam.
2.      Luas Wilayah
Secara keseluruhan luas Wilayah Desa Sawa adalah : 142,28 km dan  merupakan salah satu desa yang paling terluas sekecamatan Lilialy.

Ø  Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Waimiting
Ø  Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waiperang
Ø  Sebelah Selatan berbatsan sengan Pegununggan
Ø  Sebelah Utara berbatsan dengan Laut



3.      Keadaan Alam dan Iklim
1.      Tanah
Desa Sawa secara Topografi yang terdiri dari
1.      Luas ketinggian di atas permukaan laut     : 5 - 40 Mdpl
2.      Luas Lahan Perkebunan/Pertanian             : 200 Ha
3.      Luas lahan permukiman                             : 150 Ha
Sehubungan dengan kedaan alam yang ada pada desa ini, dari hasil wawancara bersama pejabat desa dan tokoh masyarakat, diperoleh keterangan bahawa kedaan yang ada di Desa Sawa dapat dikatakan bahawa sangat potensial karena terdiri dari tanah kering yang terbentang sepanjang dataraan desa dan pegunungan yang meliputi daerah hutan. Dalam hal potensi alam, namun sesuai dengan hasil panen yang ditemukan masyrakat desa yang selalu mengandalkan hasil pengunugan dalam pengelolah minyak kayu puti maka musim panas atau kekerigan menjadi suatu kebangaan masyrakat desa di setiap musim panen.
2.      Iklim
Iklim merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Kedaan iklim di Desa Sawa yakni suhu :25 -= 30 ºC dan curah hujan :5 Mm,  hal ini sebagimana desa-desa yang ada disekitaran Pulau Buruh, desa sawa juga mengalami musim yang sama dengan desa lain pada umunya yaitu : musim kemarau atau musim  Timur dan musim Barat atau muasim hujan dan sebaliknya. Adapun disusul dengan musim pancaroba yaitu peralihan dari musim hujan ke musim panas, atau Barat ke Timur.

C.     Keadaan Demografi
Menyangkut dengan keadaan Demografi yang dimiliki oleh Desa Sawa tentunya ada perbedaan dengan desa-desa lain di sekitaran Kecamatn Lilialy, dengan luas dan jumalah penduduk yang cukup padat, serta mata pencarian atau pekerjaan, tingkat pendidikan serta golongan agama yang dimiliki. Terhadap hal tersebut maka dibawah ini akan di jelaskan secara terperinci.
1.      Kedaan Penduduk Desa Sawa berdasarkan umur
Penduduk Desa Sawa yang dirincikan menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel  berikut :
Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Sawa Menurut Kelompok Umur.

No

Kelompok Umur
Jenis kelamin

Jumlah

Presentasi
Laki-laki
Perempun
1
0 – 5 tahun
58
49
107
4,52
2
6 – 10 tahun
59
52
111
4,68
3
11 – 15 Tahun
73
80
153
6,46
4
16 – 20 Tahun
161
181
342
14,44
5
21 – 25 tahun
165
179
344
14.53
6
26 – 30 tahun
215
221
436
18,41
7
31 – 35 tahun
100
130
230
9,29
8
36 – 40 tahun
120
100
220
9,29
9
41 – 45 tahun
40
35
75
2,44
10
46 – 50 tahun
48
44
92
3,88
11
>50 tahun
124
133
257
10,85

TOTAL
1163
1204
2367
100
Sumber : kantor Desa / Data Umum Desa Agustus Tahun 2015

2.      Kedaan Penduduk berdasarkan Mata pencaharian
Berdasrkan data yang diperoleh menunjukan mata pencahrian masyrakat desa sawa sangat bervariasi namun tingkat mata penchrian yang tertinggi adalah petani hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 2. Keadaan Penduduk Desa Sawa Menurut Mata Pencahrian
No
Mata Pencaharian
Jenis Kelamin
Jumlah

Presentasi
Laki-laki
Perempuan
1.
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
35
28
63
24,30
2.
TNI dan POLRI
12
-
12
0,50
3.
Pensiunan
7
3
10
0,42
4.
Petani
280
247
527
22,26
5.
Pedagang
17
29
46
1,49
6.
Tukang
31
-
31
1,30
7.
Sopir
12
-
12
0,50
8.
Tukang Ojek
15
-
15
0,63
9.
Karyawan swasta
44
10
54
2,28
10.
Kontraktor
2
-
2
0,08
11.
Penjahit
5
4
9
0,38
12.
Belum Bekerja
686
889
1575
66,53
13.
Montir
3
8
11
0,46

TOTAL
1149
1218
2367
121.56%
Sumber data : Kantor Desa/ Data umum Desa Agustus Tahun 2015

3.      Keadaan Penduduk Berdasrkan Tingkat Pendidikan
Pada dasranya pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi Berkembangan dan kemajuan  suatu desa, untuk memnuhi hal itu dibutuhkan kesadaran dari masyrakat untuk mencapai pendidikan dengan baik. Tentunya hal ini menyangkut dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyrakat Desa Sawa, oleh karana itu dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel 3. Keadaan Penduduk Desa Sawa Menurut Tingkat Pendidikan
No
Jenjang Pendidikan
Jenis Kelamin
Jumlah
Presentasi
Laki-laki
Perempuan
1
Tidak Sekolah
625
705
1330
56,18
2
TK / PAUD
40
38
78
3,29
3
SD sederajat
55
49
104
4,39
4
SLTP sederajat
201
188
389
16,43
5
SLTA sederajat
167
206
373
15,75
6
Akademik / Perguruan Tinggi
52
41
93
3,92

TOTAL
1140
1227
2367
99,96%
Sumber : kantor Desa / Data Umum Desa Agustus Tahun 2015

4.      Keadaan Penduduk Menurut Agama
Seperti masyarakat lainya tentu masyarakat Desa Sawa juga merupakan masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memeluk Agama Islam sebagi agama ALLAH SWT yang diakui oleh Indonesia , dari hasil penilitian yang dilakukan oleh penulis sebagian besar masyrakat Desa Sawa memeluk Agama Islam, dan  dijelaskan pula bahawa ada beberapa penduduk desa sawa yang memeluk Agama Kristen Protestan dan Kong Fu Chu hal tersebut dapat dirincikan sebagai berikut :



Tabel 4. Keadaan Penduduk Desa menurut Agama

No

Agama
Jenis Kelamin

Jumlah

Presentasi
Laki-laki
Perempuan
1
Islam
1249
1108
2357
99,57
2
Kristen Protestan
2
2
4
0,16
3
Kristen Katholik
-
-
-
0
4
Hindu
-
-
-
0
5
Budha
-
-
-
0
6
Kong Fu Chu
2
4
6
0,25

TOTAL
1253
1114
2367
99,82%
Sumber Data : Kantor Desa /Data umum Desa Agustus Tahun 2015

5.      BAGAN DESASistem Perintahan Desa Sawa












6.      Sarana dan Prasarana
Tabel 5 Sarana Prasarana Pendidikan
NO
Jenis Sarana Prasarana
Jumlah
Kondisi
1

Sarana Peribadatan
a.       Masjid
b.      Pasantren

2
1

Baik
Baik
2

Sarana Pendidikan
a.(PAUD)
b. TK
c. SLTP/MTs
d. SMA/SMK

2
2
1
1

Baik
Baik
Baik
Baik
3
Sarana Pemerintahan
a.       Kantor Desa
b.      Balai Desa
c.       Kantor Camat
d.      Kantor Polisi
e.       Kantor UPTD

1
1
1
1

Baik
Baik
Baik
Baik
Sumber :kantor desa/ Data umum Desa Agustus Tahun 2015





BAB III
PEMBAHASAN DAN ANLISA DATA
Analisa Masyarakat Terhadap Sekolah MTs. LMD Sawa
Kehidupan manusia pada umummya berada dalam satu lingkungan yang mendorong setiap individu untuk berada dalam sebuah kumpulan yang disebut masyarakat.Pada umumnya kehidupan masyarakat itu selalu mengalami sebuah dinamika perubahan yang dapat menjadikan kehidupan masyarakat yang baik. Dengan demikian maka motivasi merupakan suatu proses penjelasan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pendidikan merupakan faktor fundamental untuk merubah paradigma berpikir individu sehingga sesuai dengan yang diharapkannya.Masyarakat merupakan binaan anak dalam pendidikan nonformal, dalam artian tanggung jawab masyarakat mempunyai peran penting sebagai pendidik yang dapat mendidik anak serta mempunyai relasi sosial masyarakat dengan sekolah. Sekolah MTs LKMD adalah salah satu sekolah agama Islam di Desa Sawa, pendidikan agama  ini sangat memegang peranan penting dalam  membangun  kepribadian, sikap, etika dan tingkah laku para remaja di kalangan siswa, dalam rangka mewujudkan generasi yang bermoral, dengan tujuan untuk  menjadikan siswa yang cerdas terampil dan ber- akhlakul al-karimah. Dalam pembinaan sikap dan tingkah laku peserta didik diperlukan sebuah pendekatan “idial  keagamaan“  melalui pengajaran dan pendidikan agama di  sekolah MTs.
MTs LKMD Sawa sebagai institusi yang mengemban misi pendidikan yakni  untuk mewujudkan proses pembelajaran  yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan Negara. (Undang-Undang No. 20/2003 pasal:1 ).
Sehubungan dengan rumusan idial tujuan pendidikan dan harapan-harapan yang dituntut oleh sebuah proses pendidikan, maka ada kesenjangan antara harapan dengan realitas yang terjadi pada diri peserta didik, yang sampai saat ini masih dikhawatirkan eksistensinya oleh semua kalangan baik orang tua maupun masyarakat. Keberhasilan sebuah proses pendidikan bukan saja terletak pada kemampuan intelek, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan dapat menjalankan fungsinya membentuk peserta didik yang berbudi luhur dan berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku. Pendekatan dan pembiasaan yang religius adalah sebuah jalan keluar mengatasi persolan remaja agar tidak menimbulkan masalah sosial, dan sanggup mengatasi problema keremajaannya.
Terhadap penjelasan singkat diatas, sekolah MTs mempunyai aturan atau kebijakan untuk membina dan mendisiplinkan peserta didik, sehingga muncul analisa masyarakat terhadap aturan sekolah MTs. LKMD Sawa.
A.    Hubungan masyarakat dengan sekolah MTs. LKMD Sawa.
Ø  Pengertian Hubungan Masyarakat dan Sekolah
Istilah hubungan dengan masyarakat dikemukakan kali pertama oleh presiden Amerika Serikat, Thomas Jefferson tahun 1807 dengan istilah Public Relations.Hingga saat ini pengertian hubungan dengan masyarakat itu sendiri belum mencapai suatu mufakat konvensional.
Adapun pengertian hubungan dengan masyarakat menurut Abdurrachman ialah kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, good will, kepercayaan, penghargaan dari publik sesuatu badan khususnya dan masyarakat pada umumnya (Suryosubroto, 2004: 155).
Sedangkan menurut Syamsi, hubungan dengan masyarakat adalah untuk  mengembangkan opini publik yang positif terhadap suatu badan, publik harus diberi penerangan-penerangan yang lengkap dan obyektif mengenai kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepentingan mereka, sehingga dengan demikian akan timbul pengertian darinya. Selain itu pendapat-pendapat dan saran–saran dari publik mengenai kebijaksanaan badan itu harus diperhatikan dan dihargai (Suryosubroto, 2004: 155).
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat.Dan mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.
Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyrakat tentang kebutuhan serta kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan dan pengembangan sekolah. Kindred, balgin dan Gallagher (1976) mendefinisikan hubungan sekolah dengan masyarakat ini sebagai usaha kooperatif untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling pengertian antara sekolah, personel sekolah dengan masyarakat.
Definisi tersebut diatas mengandung beberapa elemen penting, sebagai berikut:
a.       Adanya kepentingan yang sama antara sekolah dengan masyarakat. Masyarakat memerlukan sekolah untuk menjamin bahwa anak-anak sebagai generasi penerus akan dapat hidup lebih baik, demikian pula sekolah.
b.      Untuk memenuhi harapan masyarakat itu, masyarakat perlu berperan serta dalam pengembangan sekolah. Yang dimaksud peran serta sekolah adalah kepedulian masyarakat tentang hal-hal yang terjadi disekolah, serta tindakan membangun dalam perbaikan sekolah.
c.       Untuk meningkatkan peran serta itu diperlukan kerja sama yang baik, melalui komunikasi dua arah yang efisien.
Penjelasan diatas mengandung arti bahwa sekolah MTs dan masyarakat Desa Sawa mempunyai keinginan dan tujuan yang sama untuk mengembangkan dan memajukan sumber daya manusia. Kepedulian masyarakat sangat berperan penting dan mempunyai nilai yang baik beegitu juga sekolah MTs sehingga kehidupan sosial lingkungan sekitar berada dalam sebuah sistem yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Talcot Parson bahwa agar dapat lestari suatu sistem harus melaksanakan keempat fungsi tersebut.
·         Adaptasi : suatu sistem harus mengatasi kebutuhan mendesak yang bersifat situasional eksternal. Sistem itu harus beradaptasi dengan lingkungan dan mengadaptasikan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
·         Goal (Pencapaian tujuan): suatu sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
·         Integrasi : suatu sistem harus mengatur antarhubungan bagian-bagian dari komponennya. Ia juga harus mengelolah hubungan di antar tiga imperatif fungsional lainnya (A, G, L)
·         Latensi : suatu sistem harus menyediakan, memelihara, dan memperbaharui baik motivas para individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan menopang motivasi itu.
Hal ini mempunyai makna bahwa masyarakat Desa Sawa dan sekolah MTs bagian dari sistem sosial seperti yang di jelaskan lewat skema AGIL sehingga hubungan sosial dapat terkontrol dan terkendali. Apabila salah satu sub sistem sosial tidak berfungsi dengan baik maka terjadi kepincangan antar sistem yang satu dengan sub sistem yang lain. Dalam lingkungan sosial, masyarakat dengan sekolah mempunyai peran signifikan terhadap lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal, keterkaitan-keterkaitan tersebutlah yang dapat membentuk kualitas sumber daya manusia.
Ø  Dinamika interaksi masyarakat dengan sekolah
Dalam kehidupan masyarakat pasti melalui suatu proses sosial. Bentuk dari proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar individu, antar kelompok maupun antar individu dengan kelopok (Soekanto, 2006:62) suatu interkasi sosial dapat terjadi apabila telah mememnuhi dua syarat, yaitu :
1.      Kontak Sosial
Adanya kontak sosial, yang dapat berlanggsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok dan antar kelompok. Dari penjelasan singkat tersebut dengan melihat kehidupan sosial masyarkat sekitar kontak sosial antar individu sudah ada lewat proses dimana orang tua murid dengan siswa mengetahui aturan atau kebijakan yang dibuat oleh sekolah. Begitu pula dengan hubungan sosial antar individu dengan kelompok berdasarkan hubungan emosional antara siswa dengan sekolah atau orang tua murid dengan sekolah, sama halnya dengan hubungan sosial antar kelompok, dimana pihak sekolah selalu membangun relasi dengan siswa-siswi mapun masyarakat.

2. Komunikasi
Komunikasi yaitu seorang memberi arti kepada orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut (Soekanto, 2006:62)
Komunikasi dalam hubungan sosial masyarakat dengan sekolah MTs menggunakan Bahasa Indonesia.Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar termasuk masyarakat majemuk sehingga untuk mempermudah mereka dalam berkomunikasi. Sehingga apa yang di maksud oleh salah satu individu dapat dimengerti oleh orang lain atau individu yang lain atau antar individu dengan kelompok yang dapat mewujudkan relasi yang baik.
           
1.      Untuk pribadi beta, hubungan masyarakat dengan sekolah MTs jauh sangta baik, saling mendukung satu dengan yang lain. (hasil wawancara dengan Bapak Husen Mukadar, 56 thn, Kepala Desa )
2.      Kalau bicara tentang hubungan masyarakat dengan sekolah MTs baik adanya. (hasil wawancara dengan Ibu Rahima Buton 39 thn, orang tua siswa)
3.      Beta sangat setuju skali ade nona kalau bilang relasi masyarakat dengan sekolah MTs, pada prinsipnya hubungan yang katong bangun ini saling menopang. Misalnya saja kalau ada program kerja sekolah yang melibatkan masyarakat maka katong partisipasi dalam kegiatan dimaksud itu. (hasil wawancara dengan Ibu Sani Buton, 35 thn,orang tua siswa)
4.      Mau bilang apa lae tapi kalau hubungan masyarakat dengan sekolah tidak bagus dia berpengaruh for katong punya anak-anak. (hasil wawancara dengan Ibu Nur Umasugi, 45 thn, orang tua siswa)
5.      Kalau bandingkan kepala sekolah sebelumnya itu hubungan masyarakat paling bagus skali, tapi ketika kepala sekolah ini ada, ada aturan yang dikeluarkan sehinga banyak masyarakat kurang setuju deng ontua. (hasil wawancara dengan Ibu Maryam Suamole, 45 thn,orang tua siswa )
6.      Hubungan masyarakat dengan sekolah begitu-begitu saja, sama dengan skolah-skolah laen ade, tapi inikan sekolah agama jadi hubungannya itu sedikit berbeda. (hasil wawancara dengan Bapak Karim Kalidupa, 46 thn, orang tu siswa)
7.      Kalau selaku siswa beta hanya bilang hubungan sekolah dengan masyarakat baguslah. Soalnya saling berhubungan antar sekolah dengan masyarakat (hasil wawancara dengan Saudara Darman, 14 thn,siswa MTS.LKMD)
8.      Kaka bias lihat saja bagaimana hubungan masyarak dengan sekolah saat ini, paling bagus skali, karna ada perubahan-perubahan tertentu. (hasil wawancara dengan saudari Sabrina, 16 thn, siswa MTS,LKMD)
9.      Ternyata kepala sekolah ini membuat aturan yang bagus untuk siswa namun kembali lagi untuk katong bapa dan mama, terkadang dong anggap aturan ini tidak bagus. (hasil wawancara dengan Sauadar Muis Buton, 15 thn,siswa MTS.LKMD)
10.  Hubungan sekolah dan masyarakat netral saja kaka. (hasil wawancara dengan Saudari Marni Buton, 17 thn siswa MTS.LKMD)
11.  Setelah aturan yang kami buat membawa kontrafersi bagi masyarakat namun hubungan sekolah dan masyarakat saling mendukung. (hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs, Bapak La Umini 51 thn, Kepala Sekolah MTS.LKMD)
Dari hasil wawancara diatas bahwa hubungan sosial masyarakat dengan sekolah MTs sangat berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak di sekolah MTs, sementara informan yang lain beranggapan bahwa relasi sosial yang dibangun merupakan sesuatu hal yang kurang maksimal hal ini didasarkan pada sistem penerapan aturan sekolah yang menyebabkan sehingga hubungan emosional masyarakat (orang tua murid) terkikis perlahan-lahan.Max Weber menjelaskan bahwa hubungan sosial  yaitu suatu tindakan dimana beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan saling menanggapi.
Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam Ardianto (2007: 136), Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.
Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain: (1) Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain, (2) Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan (3) Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
”Mind, Self and Society” merupakan karya George Harbert Mead yang paling terkenal (Mead. 1934 dalam West-Turner. 2008: 96), dimana dalam buku tersebut memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang dibutuhkan untuk menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik. 
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2. Pentingnya konsep mengenai diri,
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969) dalam West-Turner (2008: 99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan, menurut LaRossan & Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008: 101), antara lain:
1. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
2. Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku.
Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:
1. Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial
2. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Rangkuman dari hal-hal yang telah dibahas sebelumnya mengenai tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang berkaitan dengan interaksi simbolik, dan tujuh asumsi-asumsi karya Herbert Blumer (1969) adalah sebagai berikut:
Tiga tema konsep pemikiran Mead
• Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
• Pentingnya konsep diri,
• Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tujuh asumsi karya Herbert Blumer
• Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka,
• Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
• Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif,
• Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
• Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku,
• Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
• Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.

B.     Analisa Masyarakat Terhadap Aturan Sekolah MTs. LKMD Sawa
a.      Pemahaman Masayarakat Tentang Pendidikan
Dalam sejarah perkembanngan peradaban manusia, bukanlah taken for granted, tetapi jauh sebelumnya telah mengalami suatu proses yang panjang yakni melalui “belajar”, “pendidikan”, dan “pengalaman” tersendiri berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secaa formal, tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses belajar dan pendidikan yang dialami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut telah menjadikan manusia mampu memenuhi kebutuhan, menjalani kehidupan sehingga memasuki zaman peradaban seperti sekarang ini.
Menurut Ahmad D. Marimba Mengemukakan bahwa pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar kepribadian peserta didik terbetuk dengan sangat unggul. Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar, pandai secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter.
Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam pembangunan sumber daya manusia.Pendidkan yang di maksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yang tujuannya untuk merubah kualitas pribadi dala kehidupan manusia.Usaha pendidikan adalah salah satu hal signifikan serta menentukan pencapaian didalam bidang kehidupan, dalam memilih serta membina hidup yang baik serta sesuai dengan martabat hidup manusia.
Bertolak dari penjelasan diatas mak J. W. Schoor, mengemukakan pula bahwa dengan adanya pendidikan dan sistem pengetahuan, pandangan dunia dan sistem nilai mengalami perubahan, mungkin dengan mendapatkan analisis baru. Pandangan tersebut menjelaskan bahwa dengan pendidikan, orang akan disadarkan atas keadaannya sendiri dari kemungkinan untuk memperbaikinya. Dengan demikian jelas bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia yang handal.
Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dimilikinya, maka yang dimaksud dengan pendidikan disini adalah pendidikan formal yang diperoleh melaluli lembaga-lembaga pendidikan maupun pendidikan yang diperoleh melalui jalur-jalur informal seperti pendidikan ketrampilan dan sebagainya.

1.      Bagi beta pendidikan itu sangat penting karena dengan adanya pendidikan secara tidak langsung su rubah katong pu hidop. Sebagaimana yang beta lihat sejauh ini orang banya sukses itu karna dong punya tingkat pendidikan itu bagus. (hasil wawancara dengan Bapak Husen Mukadar, 56 thn)
2.      Biar bagaimanapun dan sapa pun dia kalau mau sukses dalam dunia usaha dan sebagainya tapi kalau tidak mempunyai pendidikan maka tingkat kesuksesan itu sangat minim skali. (hasil wawancara dengan Rahima Buton, 39 tahun)
3.      Kalau mau jujur untuk ade nona bahwa ibu ini hanya sebatas SMP tapi ibu punya ana-ana tiga orang itu su punya gelar serjana bahkan sudah sukses, kenapa demikian, karena ibu pikir kalau ana-ana seng punya pendidikan maka kecerahan di massa depan itu tidak terlihat dengan bae. Jadi pendidikan itu penting skali bukan untuk bapa saja tapi untuk semua orang. (hasil wawancara dengan ibu Sani Buton 35 Tahun)
4.      Beta sekarang usia sudah 30 tahun tapi beta selalu peduli dengan pendidikan ana-ana. (hasil wawancara dengan ibu Nur Umasugi 45 tahun)
5.      Ternyata nona masih peduli dengan pendidikan e, penting sekali pendidikan itu di zaman ini, nona tau tidak bibi pu anak tiga itu sudah pegawai semua alasannya mereka punya pendidikan yang tinggi (hasil wawancara dengan Maryam Suamole 42 tahun).
6.      Nona, pendidkan itu penting buat patokan par katong hidup jadi apa yang katong seng tau tapi lewat pendidikan katong tahu. (hasil wawancara dengan BapaKarim Kalidupa 46 tahun).
7.      Sebenarnya semua orang tahu bahwa pendidikan sebagai alat untuk rubah dunia (hasil wawancara dengan Saudara Ajis, 14 thn)
8.      tanpa p[endidikan katong tidak bisa buat apa-apa, makanya beta lebih memilih bersekolah di banding penganguran. (hasil wawancara dengan saudari Dian Ode, 16 thn)
9.      sangat bagi beta pendidikan itu kaka e, (hasil wawancara dengan Sauadar Muis Buton, 15 thn)
10.  kaka, bukti sekarang orang suskes banya itu samua itukan dari latar belakang pendidikan to jadi pendidikan itu spesial bagi beta kaka (hasil wawancara dengan Saudari Marni Buton, 17 thn)
11.  Maju mundurnya manusia di ukur dari tingkat pendidikannya, jadi pendidikan itu sangat penting dan bermanfaat skali (hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs Bapak La Umini 51 tahun)
Terhadap jawaban informan diatas dapat dikatakan bahwa mereka sangat mengakui tingkat pendidikan formal itu sangat penting.Dengan demikian terlihat adanya keterkaitan yang saling mempengaruhi antara tingkat pendidikan dan tingkat sosial guna memperbaharui kehidupan mereka sendiri maupun anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi.Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya pendidikan membuat setiap orang berusaha sehingga meraih hidup jauh lebih bagus.
b.      Analisa Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa
*      Analisa Masyarakat terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa
Setiap manusia bergaul pasti memiliki aturan atau batasan-batasan, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari, agar tidak menjadi sorotan dalam masyarakat.Norma merupakan segala bentuk aturan yang berisikan tentang perintah dan larangan atau perilaku yang harus dan tidak harus dilakukan oleh setiap manusia dan sifatnya mengikat masyarakat. Setiap individu harus bahkan wajib mentaatinya, karena norma merupakan prinsip, petunjuk hidup, acuan, pedoman bagi setiap tingkah laku manusia. Dengan mentaati norma yang ada, maka kehidupan dalam bermasyarakat akan lebih terasa damai, harmonis dan tentram. Jika norma yang berlaku dalam suatu masyarakat tidak di taati atau dilanggar, pasti akan mendapatkan sanksi dan menimbulkan kerugian, baik untuk dirinya sendiri ataupun merugikan orang lain.
Craig Calhoun mengatakan bahwa aturan merupakan pedoman dan norma yang menyatakan mengenai bagaimana cara seorang individu layaknya bertindak dalam situasi tertentu. Setiap lembaga-lembaga sosial mempunyai aturan-aturan tersendiri, begitu pulah dengan lembaga pendidikan.Sekolah MTs LKMD Sawa mempunyai aturan tersendiri.
Aturan dibuat sehingga menimbulkan kesadaran individu maupun kelompok akan tugas dan tanggungjawab yang berikan. Melihat hal itu, maka sekolah MTs LKMD mempunyai aturan atau norma-norma yang dibuat dan diterapkan di sekolah sehingga guru maupun peserta didik yang melanggar aturan yang ada diberikan sanksi.
a). Aturan Sistem Point
Sistem point adalah salah aturan yang dibuat oleh sekolah MTs LKMD Sawa.Tujuan dari aturan ini agar siswa/siswi dapat mendisiplinkan diri. Pada aturan sistem point apabila peserta didik melanggar salah satu point yang ada maka diberikan sanksi berupa siswa/siswi tidak diperkenankan untuk ikut jam belajar (pulang ke rumah). Sanksi yang diberikan tidak bersifat kekerasan namum sebaliknya.
Butir-butir komitmen siswa peserta banding MTs LKMD Sawa
No
Isi Komitmen
Jumlah Point
Ket
1
Selalu shalat 5 waktu, menghafal alqur’an
5

2
Puasa sunan senin & kamis
3

3
Tidak boleh terlambat
10
3x terlambat di pulangkan
4
Tidak boleh bolos
15

5
Tidak boleh berambut panjang, di beri warna dan harus rapi
5

6
Dilarang meninggalkan sekolah saat jam istirahaat tanpa seizin guru
5

7
Tidak membuang sampah di sembarangan tempat

5

8
Selalu mengunakan seragam sesuai dengan ketentuan dan benar, al : kopia, jilbab, kaos kaki dll.
10

9
Perlengkapan sekolah seperti alqur’an, alat shalat, buku, pena, pensil, pengaris, harus dibawah setiap hari
10

10
Dilarang keluar malam pada jam-jam belajar apalagi sampai lewat jam 10 malam tanpa alasan yang jelas
10
Apabila kedapatan maka diberikan sanksi
11
Menggunakan hijab/jilbab yang benar sesuai dengan ketentuan khusus bagi siswi (perempuan)
3

12
Tidak boleh mengeluarkan lidah saat berbicara dengan guru, orang tua, dan teman bahkan tidak boleh saling menyalahkan.
5

13
Berbahasa Indonesia yang baik dan benar
5

14
Tidak boleh ada coret-coret ditembok, kursi, meja tulis maupun di papan tulis, bahkan melempar bangunan
10

15
Dilarang terlibat dalam tawuran atau perkelahian dengan teman satu sekolah atau sekolah lain
10

Sumber sekolah MTs LKMD Dessa Sawa (Rabu 24 september 2015)
b). Aturan Full Day
Aturan full day atau aturan satu hari penuh untuk siswa/siswi belajar merupakan aturan yang dibuat oleh sekolah MTs LKMD Sawa yang mempunyai tujuan untuk membina, mendidik dengan maksud bahwa meminimalisir jam bermain siswa di luar jam sekolah. Jam 7 pagi siswa masuk sekolah dan pulang sekolah jam 5 soreh. Selama 11 jam siswa belajar di sekolah.
Sebelum aturan sekolah diterapkan, pihak sekolah mensosialisasikan aturan sekolah sistem point dan full day terhadap masyarakat (orang tua murid). Ketika proses sosialisasi berlanggsung orang tua murid sangat setuju dan memberikan apresiasi terhadap pihak sekolah. Namun realisasi dari proses ini berjalan terjadi banyak kontrafersi terhadap aturan sekolah yang berlanggsung.
1.      Aturan yang diterapan oleh sekolah MTs jauh lebih bagus di banding skolah laeng nona, kenapa demikian bapa bilang bagitu.? Alasannya skolah MTs inikan skolah agama Islam supaya nama baik dari sekolah itu ada dan di lihat baik oleh masyarakat maka harus ada kebijakan yang guru-guru buat salah satunya aturan sekolah itu. (hasil wawancara dengan Bapak Husen Mukadar 56 tahun)
2.      Tidak jadi masalah kalau sekolah MTs buat aturan apa saja yang penting akan bae. Terlebih khusus aturan POINT dengan FULL DAY yang sekolah buat itu, supaya akan bentuk ana-ana dong punya karakter itu. (hasil wawancara dengan Ibu Rahima Buton 39 tahun)
3.      Katong pung ana-ana zaman skarang inikan ana-ana manja, jadi dong terlalu buat dong punya mau-mau lae. Contoh saja bapa ana laki-laki di rumah itu waktu belum sekolah di MTs kenakalan luar biasa sampe tegur deng rotan mar sama saja. Tapi ketika dia skolah di MTs perubahan paling jauh skali. (hasil wawancara dengan Ibu Sani Buton 35 Tahun)
4.      Sebagai orang tua katong selalu mendukung apa yang terbaik buat ktong pung anak-anak, katong surasa sanang katong pung anak bisa skolah disekolah agama, tapi setelah pergantian kepala sekolah ini, samua dong pung peraturan dong ganti akang, deng yang beta lia anak-anak ini kaya tambah nakal karena sekolah pung peraturan yang suka suru-suru siswa pulang Cuma karana dong terlamabt atau lupa bawa salah satu peralatan sekolah saja dong seng dapa ijin ikut pelajaran, akhirnya jadi kebiasaan par dong. (hasil wawancara dengan Ibu Nur Umasugi 45 tahun)
5.      Sekolah MTs. LKMD itu kalu menurut pribadi beta akang su cukup bagus, beta sangat bangga deng yayasan yang sukasih bangun akang sekolah ini, tapi yang bikin beta seng suka sakarang ini dia pung peraturan yang talalu berlebihan, setidanya kepala sekolahdong bikin pertauran yang sesuai deng katong pung anak-anak puang watak, katong pung anak-anak ini didikan yang baik aja masi susa par dong tarima apalagi susampe bagitu, beta pung anak ini berkali-kali melanggar peraturan deng poin, biar katong kasi ingat, suru,  tapi sama saja bagimana Cuma dapa suru pulang saja tar dapa pukul, ini anak malauku bukan orang jawa, ujung-ujungnya beta anak minta pindah sekolah deng alasan poin su banya,nati dong malu kalu dpa kasi klaurdari sekolah,padahal aturanya sekolah itu tidak bisa kasi keluar siswa begitu saja karana sekolah ini suatu lembaga pendidikan yang dilindugi pemerintah,Cuma dalam sosialisasi peraturan pihak sekolah tidak memberikan keteragan semacam itu. (hasil wawancara dengan Ibu Maryam Suamole 42 tahun).
6.      Aturan sih aturan to nona. Tapi apa yang terjadi coba, pihak sekolah dong seng lia situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat. Ana-ana inikan ana-ana Maluku bukan jawa ketika di kasih aturan dong cuek e, makanya ujung-ujungnya dong jadikan sebagai kebiasaan. (hasil wawancara dengan Bapak Karim Kalidupa 46 tahun)
7.      Terhadap aturan sekolah yang dibuat, beta sebagai peserta didik sangat mendukung kaka, alasanya bahwa dampak positifnya itu lebih besar dari pada dampak negatif (hasil wawancara dengan Saudara Ajis, 14 thn)
8.      Kaka lihat saja bagaimana dengan perkembangan siswa/siswi sekarang ketika sebelum dan sesudah aturan ini diterapkan, katong punya kemampuan jauh lebih bagus ketika ada aturan ini (hasil wawancara dengan saudari Dian Ode, 16 thn)
9.      Sebenarnya aturan ini bagus namun yang baut beta tidak suka terlalu lat katong pulang, kasihan tidak ada orang yang bantu katong pu orang tua jadi beta sering buat atau kenal masalah itu sering bolos untuk bantu mama (hasil wawancara dengan Sauadar Muis Buton, 15 thn).
10.  Aturan ini buat katong tidak punya waktu yang cukup bersama-sama dengan orang tua, dan kondisi katong beda-beda makanya beta keluar dari sekolah kaka. (hasil wawancara dengan Saudari Marni Buton, 17 thn).
11.  Sebenarnya siswa harus memahami dulu aturan yang sebenarnya itu apa. Kami dari pihak sekolah sangat menginginkan yang baik bagi peserta didik, makanya katong buat aturan sistem point dan full day supaya melatih siswa/siswi itu sendiri, tapi terkadang salah sediki saja orang tua jadikan sebagai konflik Antara orang tua dengan guru (hasil wawancara dengan Kepala Sekolah Bapak. La Umini, 51thn)
Terhadap penjelasan informan diatas bahwa secara universal metode pembelajaran atau aturan sekolah sistem point dan full day merupakan aturan yang baik, aturan yang dibuat untuk mengembangkan dan membina peserta didik. Namun disisi lain terjadi kontrafersi dalam masyarakat terhadap aturan yang ada. Ada masyarakat yang setuju dengan aturan sekolah tersebut dan juga masyarkat yang tidak setuju dengan aturan yang ada.Karena berbagai pertimbangan. Pada prinsipnya masyarakat maupun peserta didikk yang setuju dengan aturan yang ada mempunyai pemahaman bahwa aturan yang dibuat sangat bermanfaat dan berguna bagi massa depan anak. Sementara masyarakat maupun peserta didik yang tidak setuju dengan aturan sekolah ialah lebih mengedepankan bersama dengan orang keluarga untuk saling membantu dalam pekerjaan sehingga ada kemudahan dalam menyelasaikan pekerjaan dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh Max Weber bahwa Tindakan sosial terjadi ketika individu melekatkan makna subjektif pada tindakan mereka.Berdasarkan analisa masyarakat terhadap aturan sekolah yang diterapkan W.J.Thomas  memberi batasan bahwa sikap sosial sebagai suatu kesadaran  individu yang menentukan perilaku yang nyata  ataupun yang mungkin terjadi di dalam kegiatan sosial. (Abu Ahmadi : 2002).
Menurut Zimbardo dan Ebbesen : Sikap sosial adalah  suatu predisposisi (keadaaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide,  atau obyek  yang berisi komponen kognitif, affektif dan  behavior. Kognitif berhubungan dengan gejala fikiran dan afektif berhubungan dengan gejala  perasaan dan konatif  proses tendensi/kecenderungan berbuat pada sesuatu obyek.  Masyarakat muda terpengaruh dengan situasi sosial yang terjadi sehingga cenderung melangkah dengan emosional.

*      Pengaruh aturan sekolah terhadap pendidikan anak
Dampak dari perubahan sistem belajar yang mempengaruhi masyarakat terlihat begitu jelas ketika terjadi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi selama sekolah Madrasah Tsanawiyah didirikan, yaitu keluarnya siswa dari sekolah dengan jumlah yang cukup banyak, terjadinya konflik anatara orang tua dan guru, berubahnya perilaku siswa yang baik menjadi buruk akibat adanya penekanan peraturan yang begitu keras, dari hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa masyarakat menunjukan bahwa besarnya pengaruh sistem belajar di sekolah MTs LKMD di atas, hal ini terjadi beberapa gejala sebagai berikut :
1.      Sosialisai pergantian peraturan yang sering dilakukan oleh pihak sekolah, hal yang disampaikan kepada orang tua menyangkut peraturan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya
2.      Peraturan yang dilakukan oleh pihak sekolah yang dikondisikan dengan jiwa siswa yang masi labil, justru membuat sebagian siswa berubah menjadi peribadi yang buruk akibat adanya penekanan yang kuat dari pihak sekolah.
3.      Peraturan yang dibuat oleh pihak sekolah bukan hanya mempengaruhi pribadi siswa/siswi tetapi juga mempengaruhi pribadi masyarakat terutama orang tua siswa/siswi.
4.      Dengan adanya peraturan baru yang dilakukan oleh pihak sekolah justru menyebabakan terjadinya pergeseran jarak kerja sama antar orang tua dan pihak sekolah maupun masyarakat pada umunya.
Dalam kehidupan masyarakat selalu mengalami sebuah dinamika perubahan yang dapat menjadikan kehidupan masyarakat itu baik atau buruk dan sebaliknya. Hal ini pula yang mendorong berbagai pola perubahan dalam masyarakat seperti salah satu sistem belajar yang digunakan sekolah Madrasah Tsanawiyah Desa Sawa setiap pergantian kepala sekolah, perubaha-perubahan sistem belajar dan peraturan yang dilakukan oleh pihak sekolah tentunya sangat mempengaruhi pihak sekolah atau siswa maupun masyarakat Desa Sawa sendiri.
Sebagai satu-satunya sekolah agama yang ada di Desa Sawa. Sekolah Madrasah Tsanawiyah ini mendapat dukungan yang sangat baik dari masyarakat desa, harapan yang begitu besar dari masyarakat agar sekolah agama ini dapat merubah ahlak dari anak-anak yang ada di desa ini dengan baik, namun seiring berjalanya waktu sebuah dukungan yang awalnyan sangat baik berubah menjadi sebuah keraguan bahkan kebencian. Adapun perubahan yang terjadi dapat membawah perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok bagi siswa/siswi maupun masyarakat.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Lilialy Kabupaten Buru Utara” maka dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut :
1.      Sekolah MTs. LKMD Sawa merupakan sekolah swasta yang berstatus agama Islam dan mempunyai aturan sistem point dan full day.
2.      Sistem point merupakan aturan yang diterapkan oleh sekolah dan apabila ada peserta didik yang melanggarnya diberikan sanksi nonfisik yaitu peserta didik tidak di perkenankan ikut jam belajar, sementara full day peserta didik diwajibkan untuk mengikuti pelajaran selama satu hari penuh sehingga jam bermain peserta didik di kurangkan dan jam belajar di perbanyak.
3.      Analisa masyarakat terhadap aturan sekolah MTs. LKMD Sawa ada dua hal yang menarik, pertama, masyarakat setuju dengan aturan sekolah, dua masyarakat tidak setuju dengan aturan sekolah.






B.     SARAN
1.      Kepada pemerintah kecamatan dan pemerintah Desa Sawa sehingga adanya kerja sama antar lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan.
2.      Perlu adanya kerja sama masyarakat dengan pihak sekolah MTs. LKMD Sawa agar dapat memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan anak.
3.      Diharapkan agar kebijakan sekolah MTs dapat melihat situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah maupun masyarakat dalam kaitannya dengan siswa/siswi serta dukungan penuh dari orang tua murid terhadap pendidikan anak di sekolah.













Daftar Pustaka
Abin, S. Makmun, dkk. Perencanaan Pembangunan Pendidikan. Jakarta. Depdiknas 2001.
Arianto Sam. Sahabat Bersama.[Online]. Tersedia:http://kumpulblogger.com [1 April 2012]
Atmadi, A dan Setiyaningsih (Ed). Transformasi Pendidikan, Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. 2000.
Darajat Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008
Hamalik.Oemar.Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta, PT Bumi Aksara. 2011.
Hanani.Silfia.Sosiologi Pendidikan Keindonesiaan. Jogjakarta, AR-RUZZ MEIA. 2013
I. L. Pasaribu dan B. Simandjuntak.Metode Belajar dan Kesulitan Belajar.Bandung : Tarsito. 1983.
M.Ed. Idi. Prof. Dr. H. Abdullah. Sosiologi Pendidikan; Individu, Masyarakat dan Pendidikan. Jakarta, PT. JayaGrafindo Persada, 2013
Qomar, Mujamil. Kesadaran Pendidikan Sebuah Penentu Keberhasilan Pendidikan.Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2012
Ritzer, George. Teori Sosiologi : Edisi Kedelapan. Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2012.
Soekanto.Soerjono.Sosiologi Suatu Pengantar _ Sosiologi Keluarga: tentang ikhwal keluarga, remaja dan anak. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1982
Soetjipto dan Raflis Kosasi. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta. 2009. 
Subagyo.P. Joko S.H. Meode Penelitian Dalam Teori dan Praktik.Jakarta, Rineka Cipta,2011
Sardiman, A.M Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2009.
Suharsimi Arikunto). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . 2002
Sukardi.Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah.Bandung : Usaha Nasional. 2003.
Sztompaka.Piotr.Sosiologi Perubahan Sosial.Jakarta, Pernada Media Group, 2011.
____, 2003, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas. Jakarta.
Langgulung, H., 1992. Asas-asas Pendidikan Islam. Pustaka Al Husna. Jakarta
Soenarya, E. 2000. Pengantar Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Adicita. Yogyakarta
http://rian-priyadi.blogspot.com/2012/09/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html
http://sekolahtunasmuda.com/tunasmuda/orang-tua-peran-utama-dalam-pendidikkan-putra-putrinya/
http://www.fokuspadakeluarga.cc/index.php/component/content/article/36-artikel/114-peran-keluarga-dalam-mendidik-anak-
https://drarifin.wordpress.com/2010/07/15/konsep-perencanaan-pendekatan-dan-model-perencanaan-pendidikan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Analisis Sikap Masyarakat Terhadap Metode Pendidikan Sekolah MTs. LKMD Sawa Kecamatan Liliali Kabupaten Buru ”

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Secara umum pendidikan merupakan salah satu dari berbagai investasi manusia yang sangat memb...